sunday story

Bermodal Ransel ke 46 Negara

  • 18-05-2019 / 21:56 WIB
  • Kategori:Internasional
Bermodal Ransel ke 46 Negara Andreas Prayoga

DENGAN tas ransel alias backpack, Andreas Prayoga menjelajah 46 negara sejak tahun 2004. Tiga tahun kemudian,  Andreas diserang struk  hingga membuatnya sulit berbicara. Tapi itu bukan hambatan lantaran sampai sekarang masih backpacker.

“Saya suka backpacker. Sampai saat ini sudah 46 negara yang saya kunjungi. Paling jauh ke Alaska, US,” ungkap Andreas.

Warga perumahan Springhill Sawojajar ini awalnya tak punya alasan khusus mengapa memilih plesir dengan cara backpacker. Hanya saja Andreas merasa tertantang dengan ide berkeliling dunia tapi tak ribet. Sudah begitu, lebih santai karena membawa backpack.

Alumnus SMAK Santo Yusuf Malang ini juga terinspirasi dari buku Lonely Planet. Lonely Planet merupakan buku panduan perjalanan dan penerbit media digital terbesar di dunia. Buku ini kerap memberikan informasi berwisata ala backpacker.

“Dari pertama keluar negeri, emang langsung backpacker. Pertama ke Singapura, sebelumnya saya beli buku Lonely Planet buat cari info,” terangnya.

Saat itu ia langsung berpikir untuk mengunjungi Singapura dengan persiapan seadanya. Sebab Andreas sedang mendapatkan tugas dari kantornya ke Batam. Sebelum pulang ia meminta izin cuti untuk pergi ke Singapura selama tiga hari. Kesempatan ini pun langsung dipakainya bepergian kesana. Bekalnya buku saku travel.

Dari sinilah Andreas mulai terus tertantang dan mencari lagi cara pergi ke luar negeri dengan cara yang sama. “Sebenarnya kalau ke negara-negara di  Asean seperti Kuala Lumpur, Malaysia budget bisa dibawah Rp 1 juta. Itu dapat tiga hari dua malam di sana,” tuturnya tentang biaya paling minim yang dikeluarkannya saat traveling ala backpacker.

Namun demikian menurut Andreas, sebenarnya biayanya bisa lebih murah lagi. Asalkan mau berburu tiket promo. Andreas pernah ke Malaysia dengan budget Rp 500 rubu pergi pulang untuk tiket pesawat.

Pria yang bekerja sebagai freelance Travel Assistance and Arrangement di Kota Malang ini mengungkapkan keuntungan bepergian ke luar negeri ala backpacker.  “Awal memang sempat bepergian dengan tour dan travel. Ternyata kurang cocok buat saya,” ungkap alumnus Universitas Airlangga ini.

Menurutnya, waktu lebih berkualitas ketika traveling ala backpacker. Untuk makan contohnya, bakal lebih singkat. Sehingga waktu untuk mengunjungi berbagai tempat dalam satu hari lebih banyak.

Andreas selama ini lebih menyukai traveling ke luar negeri dengan  mengurus segala urusan travel sendirian. Hal-hal menarik yang dapat terjadi dan menjadi pengalaman tidak dapat dilupakan pun juga sering terjadi jika melakukan perjalanan ala backpacker.

“Saya pernah naik truk di bak terbuka belakang waktu di Myanmar. Saat itu mau ke Golden Rock karena itu satu-satunya public transport yang tersedia. Asik saja sih tapi jangan sampai ketiduran karena kalau tidur kita bakal jatuh dari truknya,” cerita Andreas tentang salah satu pengalamannya.  

Tahun lalu, saat bepergian ke New Zealand, Andreas tidak mendapati sama sekali transportasi antar kota seperti bus umum. Sebab memang tak ada atau jarang sekali tersedia angkutan umum. Karena itu, ia harus menyewa mobil, hal di luar perkiraan.

Sebagai seorang mandiri berwisata, menyiapkan logistik hingga dana untuk hal-hal tidak terduga pun harus diperkirakan sejak awal. Maka ketika terjadi sesuatu di luar dugaan, tentu bisa teratasi. Hal ini dianggapnya sebagai salah satu syarat backpacker.

Saat pertama kali backpacker ke Singapura tahun  2004 lalu, Andreas punya pengalaman menarik naik  Mass Rapid Transit (MRT).

“Kan dulu belum ada youtube di mana kita bisa nonton cara ini itu. Jadi waktu itu saya berdiri agak belakang, saya perhatikan dulu cara orang beli tiket di mesin tiket MRT. Setelah amati orang beli, saya yakin bisa beli juga dengan cara yang sama, ya udah saya beli. Saya amati gimana cara orang buka gate buat masuk platform yang dituju. Semuanya lancar tanpa tanya ke orang,” ceritanya.

Beberapa kota di sejumlah negara  yang sudah dikunjunginya dengan backpacker yakni Giethorn (Belanda), Santorini, Athena, Meteora (Yunani), Valletta, Mdina dan Rabat (Malta). Selain itu  Naples, Pompeii, Vesuvius, Positano, Amalfi dan Rome (Italy) dan banyak lainnya.

“Paling berkesan ke Meteora. Ada biara-biara di atas tebing. Kalau negara yang paling berkesan mungkin Swiss karena pemandangannya indah-indah. Oh iya di Alaska juga berkesan karena di sana saya liat aurora, bukan bioskop di Malang City Point loh yah,” candanya.

Menikmati traveling, Andreas harus menghadapi tantangan lain. Pada tahun 2007 ia diserang struk hingga membuatnya sulit berbicara hingga sekarang. Tapi kata Andreas, hal ini tidak mengurungkan niat dan semangatnya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

Komunikasi dengan sesama pun tetap bisa dilakukan. Jika bertatap muka, ia akan lebih mudah berkomunikasi dan menyampaikan maksud dan tujuan yang diinginkan. ”Karena kalau lawan bicara gak ngerti bisa saya ketik di HP. Yang susah kalau lewat telepon,” katanya. (ica/van)

  • Editor : van
  • Uploader : abdi
  • Penulis : ica
  • Fotografer : ya

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Tiket Pesawat Mahal, Danau Toba Kehilangan Turis

VIDEO