sunday story

Bikin Mudah Beradaptasi

  • 18-05-2019 / 21:58 WIB
  • Kategori:Internasional
Bikin Mudah Beradaptasi Stevent Avo Kristanto

18 tahun menjadi backpacker membuat sosok Stevent Avo Kristanto lebih terbuka. Termasuk terhadap pendapat atau masukan dari orang lain. Menjelah 22 negara di dunia, Steve sapaan akrabnya belajar banyak hal. Ia berusaha melihat yang lain dari yang biasanya dilihat.

Lulus SMA tahun 2001, Steve mulai backpacker. Awalnya ke sejumlah tempat dalam negeri.

Hingga pada 2005 ia memutuskan berkeliling Indonesia – China. Yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam yang ditempuhnya selama 14 hari.

"Saya mencoba keluar dari zona nyaman. Kita sudah biasa hidup di lingkungan keluarga,  dengan keluar dari zona itu, akan menemukan sesuatu yang baru dan banyak manfaatnya," ujar Steve.

Misalnya dengan traveling ke Singapura atau Thailand, semua berbeda baik budaya, lingkungan, bahasa maupun makannya. Jauh dari rumah, mau tidak mau harus belajar merubah diri sendiri. Di antaranya beradaptasi dengan negara tujuan lantaran tidak bisa seenaknya di tempat orang lain.

Bahkan dengan backpacker akan ada banyak cerita serta wawasan yang berbeda. Bertemu dan bercerita dengan banyak orang dari berbagai negara.

"Tahun 2005 itu pertama kalinya saja backpackeran ke luar negeri dengan biaya hanya Rp 1,5 juta untuk lima negara tersebut. Sudah termasuk living cost dan biaya transportasi," jelasnya.

Dikatakannya dengan backpacker pasti yang utama meminimalisir pengeluaran. Sehingga saat berkunjung ke negara orang harus berani mencari tumpangan. Backpacker harus pintar bagaimana bisa sampai ke kota tujuan, alternatifnya mencari transportasi paling murah. Atau menghubungi teman di kota yang  akan dikunjungi.

Selain itu bisa dengan membuat akun di situs keramahtamahan bernama Couchsurfing. Situs ini banyak membantu saat berkunjung ke suatu negara. Orang-orang di berbagai belahan dunia yang suka backpacker bergabung dalam situs tersebut. Misalnya ketika ingin pergi ke Vietnam cukup tag negaranya kemudian deskripsi diri secara singkat serta tempat tujuan.

"Di negara tersebut ada banyak member, mereka bisa mengundang kita untuk tinggal dengannya, kalau orangnya baik biasanya disiapin makanan dan diajakin jalan, bukannya kita mencari gratisan tapi adanya situs tersebut untuk memudahkan para backpacker" jelas pria asli Malang ini.

Usai puas berkeliling Indonesia - China selama 14 hari, Steve ingin mencari sensasi berbeda dengan mencoba flash trip hanya dengan lima hari untuk keliling lima negara. Caranya dengan tidak menginap di hotel melainkan melalui perjalanan malam. Misalnya dari Singapura ke Malaysia naik bus malam, kemudian malam berikutnya mengambil bus malam lagi menuju ke Thailand.

Sementara, puluhan negara yang sudah pernah didatangi Steve antara lain Jepang, Turki, China, India, Autralia, Vietnam, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea, Filipina, Kamboja, Brunai Darussalam dan Timor Leste. Selain itu, Papua Nugini, Myanmar, Srilangka, Laos, Hongkong, Makau dan Fiji.

"Tapi saya sering bolak balik ke negara yang saya sukai, misalnya Thailand saya pernah ke sana lima kali dalam satu tahun karena suka dengan makanan dan orang-orang di sana," tegas alumni Prajnaparamita Tourism High School Malang ini.

Dari keseluruhan negara tersebut, Jepang adalah negara yang paling berkesan bagi Steve. Lantaran alamnya yang indah didukung dengan keramahan orang Jepang hingga membuat terharu. Ia pernah kebingungan arah jalan karena semua tulisan menggunakan huruf Kanji. Namun dengan ramahnya orang tersebut mengantarkannya ke rumah yang dituju padahal itu jalan kaki lebih dari 3 Km.

"Handphone saya hilang di Jepang dan itu kembali, karena orang Jepang ketika menemukan sesuatu mereka akan membawanya ke kantor polisi sehingga diketahui milik siapa barang tersebut jika milik turis akan dibawa ke Imigrasi Ariport sehingga keluar Jepang akan diberikan," jelas kelahiran 26 Agustus 1984 ini.

Negara berkesan berikutnya bagi Steve adalah India. Ia terkesan dengan kebudayaannya yang majemuk dan hubungan kekeluargaan mereka terjaga erat dan rasa saling menghormatinya tinggi.Setiap negara baginya memiliki karakter masing-masing.  

Begitu juga Makau, memiliki keindahan yang luar biasa di kota tua bekas penjajahan Portugis. Bangunannya yang bagus membuatnya ingin terus kembali ke sana.

"Dari backpacker ini banyak yang saya dapatkan, pertama saya menjadi pribadi yang lebih open minded, bisa memberi motivasi kepada para anggota komunitas travelling, melihat lebih banyak sisi dan banyak wawasan serta berani keluar dari zona nyaman," urai travel consultant ini.

Memilih backpacker maka  jangan takut bermimpi. Sebab dengan bermimpi Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi tersebut sehingga menjadi kenyataan. Selain itu percaya diri, meninggalkan zona nyaman. Tentu juga menabung, setelah itu berburu tiket promo.

"Jangan lupa bergabung dengan komunitas-komunitas backpacker atau grup jalan-jalan.  Karena itu akan memberikan informasi, dan terakhir observasi negara yang akan dikunjungi," katanya tentang kiat-kiat backpacker. 

Traveling ala backpacker  tak menyedot banyak biaya.Sekali berkunjung berada dikisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 3 jutaan untuk kawasan Asia. Atau bisa lebih murah lagi ketika terbuka untuk sharing dengan backpacker lain. (lin/van)

  • Editor : van
  • Uploader : abdi
  • Penulis : lin
  • Fotografer : ya

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI