Ekspedisi Panatagama (15)

Penamaan Gadung Melati dari Landmark Tanaman

  • 19-05-2019 / 22:41 WIB
  • Kategori:Batu
Penamaan Gadung Melati dari Landmark Tanaman EKS LASKAR TRUNOJOYO: Mbah Gadung Melati yang menjadi nama situs di Desa Punten Kecamatan Bumiaji, diyakini merupakan eks laskar Trunojoyo.

Selain legenda mengenai Mbah Batu dan Abu Gnonaim di Desa Bumiaji. Di Lor (Utara, red) Sungai Brantas di Kota Batu masih ada sejumlah tokoh yang menarik untuk dibahas. Kali ini tim Ekspedisi Panatagama Malang Post mengupas mengenai cerita tutur dan analisa sejarah Mbah Gadung Melati. Situsnya berada di Dusun Krajan, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Seperti sudah dibahas sebelumnya, Desa Punten adalah desa kuno atau purba. Karena telah dihuni sejak jaman pra sejarah atau lintas masa. Hal itu diungkapkan oleh Tim Ahli Ekspedisi Panatagama Malang Post sekaligus arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono. Bahwa Punten sebagai desa pra sejarah karena adanya temuan lumpang batu, batu dakon, menhir. Bahkan ada reruntuhan punden berundak di sepanjang aliran Brantas di sepanjang daerah Punten.

Setelah itu berlanjut hingga masa Hindu-Buddha. Yakni dilihat dari Gadung Melati. Ini juga mr x atau mrs x. Tentu nama aslinya bukan gadung melati. Penamaan seperti itu biasanya sesuai tanaman yang menjadi semacam landmark di area tersebut. Seperti tempat nama waru doyong. Karena ada pohon waru doyong. Disebut gadung melati karena ada tanaman gadung dan melati.

 

"Mbah Gadung Melati kalau melihat legenda desa, berasal dari Mataram. Mbah Gadung Melati masih bersaudara atau satu perguruan dengan Mbah Batu atau Dewi Condro Asmoro. Namun lebih muda," ujar Dwi Cahyono kepada Malang Post.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kaitannya antara Mbah Gadung Melati dengan Mbah Batu, bisa dilihat dari situs Hindu Budha. Situs yang dijadikan makam Islam dari para tokoh penyebaran agama Islam di Kota Batu. Hal itu disebut oleh Dwi Cahyono sebagai kontinuitas atau penggunaan bangunan tempat suci yang terus berlanjut.

"Terbukti tempat itu (makam.red) menjadi tempat pemakaman tokoh yang memiliki jasa. Ini bisa disebut juga sakralisasi yang berkesinambungan atau pensucian lintas masa," beber dosen UM ini.

Meski begitu, diungkapnya yang datang lebih awal adalah Mbah Batu. Beliau sebagai perintis Islamisasi di Kota Batu. Kemudian perintis nantinya akan meminta yuniornya, Gadung Melati ke sebelah Barat atau Lor Brantas mensiarkan Islam. Yang saat ini dinamai Desa Punten.

"Semakin ke arah hulu brantas semakin tua. Dan perjalanan sejarah Kota Batu semakin panjang," imbuhnya.

Karena daerah pedalaman masih melanjutkan keyakinan pra Islam atau wong Budo. Artinya masih banyak non Islam non atau orang penganut Hindu Buddha saat itu. Sehingga perlu  adanya pengembangan Islam di Punten.

Ia mencirikan, setiap perjalanan Islam di pedalaman sangat terlambat. Mengingat penyebaran Islam secara masif dilakukan atau masuk melalui pesisir. Dari sini menjadi pertanyaan siapa atau tempat apa Punden Gadung Melati itu yang dalam legenda adalah tokoh dari Mataram. Padahal sebenarnya Kota Batu adalah daerah Mataraman atau kasultanan Mataram.

Dengan begitu, Dwi Cahyono menafsirkan, bahwa Punden Gadung Melati juga bagian dari tempat eks Laskar Trunojoyo yang lari dari benteng terakhir di Selokurung tahun 1680 karena kalah dan digempur oleh VOC di era masa Amangkurat II.

"Saya menafsir, bahwa Mbah Gadung Melati dan tokoh lainnya adalah eks Laskar Trunojoyo yang lari ke Batu. Untuk kemudian melakukan syiar Islam dengan menyebar di Kota Batu," bebernya.

Sementara itu, Agus Triwahyudi selaku sesepuh dan pendiri padepokan Gadung Melati juga memiliki cerita. Ia mengurai bahwa perkembangan Islam di Kota Batu terkait dengan datangnya lima orang dari Mataram. Saat itu Mataram juga bergejolak.

 "Awal masuk Islam adalah Syech Abul  Ghonaim di Bumiaji. Kemudian para pengikutnya masuk ke Punten. Di antaranya Raden Sukoco, Rr Ninik Wuryaningsih, Bambang Selo Utomo, Bang Waseso kakak Selo Utomo dan orang tuanya yang bernama Gampung Sari dan Purbo Santono," urai Agus.

Menurut sejarah tutur atau legenda yang kemudian ia bukukan bersama tim dalam penggalian sejarah Desa Punten. Ia menjelaskan bawah cerita tentang punden Gadung Melati ada dalam Layang Rogo Sejati. 

Agus menjelaskan, cerita ini diawali sekitar abad 15. Ada orang pertama yang masuk di Desa Punten yang pada waktu itu masih hutan belantara dan masih belum punya nama. Namun waktu itu sudah ada peninggalan sejarah berupa candi yang di atasnya ada stupa dan tempat abu untuk menandai daerah kekuasaan.

"Untuk asaI-usulnya dimulai dari seorang raja Mataram yang bernama Gusti Arwonggo dan permaisurinya bernama Endang Sundari. Dari perkawinannya mempunyai dua putra dan putri bernama Raden Sukoco yang pada waktu itu berumur 19 Tahun dan Rr. Ninik Wuryaningsih usia 12 tahun.

Jauh sebelum peristiwa terjadi, masih di keraton Mataram, pada waktu itu sang raja Gusti Arwonggo sangat gelisah. Siang malam tidak pernah bisa merebahkan badan beristirahat dengan tenang. Kemudian bersemedi pasrah mohon petunjuk dewata. Sehingga pada satu malam sang raja mendapatkan petunjuk.

"Petunjuk yang didapat raja harus menggelar sayembara. Siapa saja dan yang bisa membuat gamparan (bangkiak, red) berukiran Bungkul Kencana, akan menjadi menantu raja dan bersanding dengan anaknya Rr. Ninik Wuryaningsih," bebernya.

Sayembara ini, dilakukan karena situasi kerajaan pada waktu itu sangat memprihatinkan. Terutama rakyat yang dicintainya diserang pagebluk (Wabah penyakit yang mematikan tanpa sebab, red). Pagi sakit siang meninggal dunia, siang sakit malam meninggal dunia, malam sakit pagi meninggal dunia.

Hingga tak ada satu yang mampu membuat Gamparan Bungkul Kencana. Kemudian pada akhirnya ada seorang pemuda murid dari pondok pesantren yang sangat besar, yang dipimpin oleh seorang Kiai yang sangat kharismatik yang bernama Kiai Abul Ghonaim.

Pemuda tersebut bernama Bambang Sela Utomo. Dia berhasil membuat gamparan ukiran Bungkul Kencana dan akhirnya dinikahkan dengan Rr. Ninik Wuryaningsih. "Sementara semua penduduk gegap gempita menyambut upacara tersebut. Berbeda dengan Bambang Selo Utomo, hatinya gembira bercampur cemas karena belum pernah selamanya berhadapan dengan sang raja," bebernya.

Memang benar, Bambang Selo Utomo merasa cemas saat berada di kerajaan ia disoraki. Karena tidak bisa menahan malu akhirnya keluar dan Iari meninggalkan Mataram. Termasuk permaisuri raja Rr. Ninik Wuryaningsih mendengar bahwa kekasihnya akan pergi meninggalkan keraton Mataram. Dia pun ingin ikut pergi.

Bersama dengan sang ayah Purbo Sentono dan ibu Gampung Sari dan Bang Wasesa ia pergi dan dibekali intan yang beratnya 5 sekoni. Perbekalannya dibalut dengan kain gadung hitam dicampur dengan biji Mangga dan Bendhe Kencono. Singkat cerita, perjalanan sampai daerah timur dan istirahat karena karena lelah. Kemudian Kyai Abul Ghonaim berpesan meneruskan babat ke arah Utara.

Tak sengaja Bambang Selo Utomo menemukan candi, ketika membabat hutan bersama keluarganya di arah utara.Rupanya itu adalah punden atau petilasan yang disebut Gadung Melati. Beberapa tahun berlalu, sang Raja Mataram Gusti Arwonggo beserta permaisuri Endang Sundari pergi dari keraton. Mereka mencari keberadaan putrinya dan akhirnya bertemu.

"Saat bertemu itulah Gusti Arwonggo bertanya kepada Bambang Selo Utomo. Mana dahulu yang pernah aku bekali?," Ditunjuk olehnya Bambang Selo Utomo bahwa pohon mangga yang sudah berbuah lebat dan pernah diambil buahnya atau panen. Tepat di bawahnya ditanam bunga melati.

"Bekal itu saya tanam sini Gusti maka dari itu paduka mohon maaf gusti," jawab Bambang Selo Utomo. Kemudian ia Nyuwun Sepunten atau meminta maaf kepada Gusti Arwonggo dan dimaafkan olehnya.

Sejak saat itulah desa tersebut diberi nama Desa Punten. Di situ pula tempat intan yang dibekali raja ditanamnya. Hingga sekarang dinamakan Desa Punten dengan sebutan Punden Gadung Melati karena ada sebuah Pohon Mangga dan kembang melati di bawahnya.

"Tak hanya itu, Gadung Melati juga ditafsirkan oleh para pendahulu adalah makam atau tempat napak tilas dari Rr. Ninik Wuryaningsih," imbuhnya.(eri/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : abdi
  • Penulis : eri
  • Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Jebol Gawang Arema, Titan Curi Perhatian

Gerakan Lokal

Polisi Temukan Ribuan Ekstasi saat Gerebek Rumah Ini

Elegan, Makanan Penutup Berbentuk Cerutu Kuba

Dewan Segera Panggil Dinas Terkait

VIDEO