Hormati Ramadan, Waisak Bernuansa Toleransi

  • 19-05-2019 / 23:07 WIB
  • Kategori:Batu
Hormati Ramadan, Waisak Bernuansa Toleransi IBADAH: Prosesi Pindapata dilakukan dalam Vihara Dhammadipa Arama, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu (19/5) . Sedangkan budaya Pindapata tidak dilakukan.

BATU- Perayaan Waisak di Vihara Dhammadipa Arama, Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu (19/5) penuh toleransi. Budaya Pindapata yang biasa mengisi perayaan Waisak ditiadakan. Sedangkan beberapa acara lainnya ditunda. Tujuannya menghormati bulan Ramadan. 

Kepala Vihara Bhante Khantidharo mengatakan, perayaan Waisak 2563 BE/2019 sama seperti tahun lalu, bersamaan bulan Ramadan. "Sudah dua tahun ini kegiatan peribadatan hari raya Waisak kami konsentrasikan di dalam vihara. Kalau biasanya ada pertunjukan seni budaya dan budaya pindapata. Kali ini tidak," ujar Bhante Khantidharo kepada Malang Post, kemarin.

Dalam perayaan Waisak ada beberapa prosesi yang dilakukan. Yakni ritual Pindapata adalah persembahan makanan dari umat Buddha kepada bikkhu. Selain itu ada juga budaya Pindapata yang pada tahun ini tidak diadakan. Untuk diketahui, budaya Pindapata adalah prosesi bikkhu berjalan ke areal warga sekitar vihara dan bertemu dengan umat secara langsung. Sehingga Bikkhu akan bertemu dengan umat secara langsung di luar vihara.

Lebih lanjut Bhante Khantidharo menjelaskan, khusus untuk pertunjukan budaya diundur pada 16 Juni. Tujuannya agar tercipta suasana damai, sejuk dan rukun antarumat beragama.

Hal ini juga sesuai dengan tema Waisak 'Mencintai Kehidupan Berbudaya Penjaga Persatuan'.

Bhiksu berusia 88 tahun ini mengatakan, semua makhluk hidup adalah saudara sebangsa dan setanah air Indonesia. Karena itu perbedaan dan keragaman yang tumbuh di Indonesia merupakan anugerah.

Pesan mencintai kehidupan, diungkapnya, sebagi makhluk hidup jangan semena-mena. "Sekalipun kucing atau anjing juga ingin hidup. Kita harus saling mengasihi. Sedangkan Penjaga persatuan adalah lawan dari perpecahan. Jangan mudah diadu domba. Dengan bersatu hidup akan tentram dan damai," tegasnya.

Ia memungkiri saat ini kondisi bangsa Indonesia sangat memprihatinkan.Pasalnya banyak orang lebih menonjolkan kebencian. Hal itu menjadi penekanan baginya. Karena dengan banyaknya kebencian yang tersebar maka umat yang akan menjadi korban.

"Kasihan bagi umat yang menjadi korban. Agama itu kan mencintai. Kalau tidak saling mencintai bertentangan dengan ajaran agama. Jadi harus saling kasih, sayang dan mencintai," imbuhnya.

Sikap toleransi juga dijalankan umat Buddha, Li'ing (67) dan Lely (65) asal Jakarta. Mereka bersama delapan temannya mengikuti perayaan Waisak di Vihara Dhammadipa Arama Kota Batu.

"Tiap tahun kami merayakan Waisak di Jakarta. Bisanya juga di Lembang, Bandung. Tapi kali ini kami memilih di Kota Batu," ujar Li'ing memulai ceritanya. Selain merayakan Waisak juga membantu memasak di vihara selama tiga hari.

Dalam perjalannya, banyak cerita yang menyiratkan pesan toleransi antarumat beragama. Dari Jakarta mereka naik kereta api, Jumat (17/5) sore. Namun dalam perjalan,  pukul 17.00 WIB perut mereka terasa lapar. "Kami harus menahan lapar. Padahal perut sudah bunyi. Namun karena bersamaan dengan bulan Ramadan, kami harus menunggu waktu berbuka," paparnya.

Sebenarnya, sahut Lely, dirinya bersama rombongan sudah sangat lapar sekali. Namun karena banyak penumpang anak muda dan semuanya menjalankan puasa. Mereka harus menahan rasa lapar.

"Karena tak kuat, kami minum air putih secara sembunyi-sembunyi. Hasilnya kami ditertawakan penumpang. Kami pun juga ikut tertawa hingga waktunya pengumuman berbuka terdengar dari pengeras suara yang ada di kereta," urainya.

Setelah mendengar waktu berbuka itulah, ia bersama seluruh penumpang kereta makan bersama. Hal itu menjadi kesan yang mendalam baginya.  "Perayaan kali ini sangat berkesan, seru dan lucu secara pribadi. Meski secara umum perayaan Waisak terlihat sepi karena bersamaan dengan bulan Ramadan dan Pemilu," tandasnya.

Perayaam Waisak dimulai sejak Minggu dinihari. Tepatnya pukul 03.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pesan Waisak, pemberkahan keliling di dalam vihara, prosesi ritual pindapata, makan bersama dan sarasehan. (eri/van)

  • Editor : van
  • Uploader : abdi
  • Penulis : eri
  • Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI