Bahas Luka Dalam Tawa, Joki Cilik NTB dari Kacamata Fotografer

  • 20-05-2019 / 23:13 WIB
  • Kategori:Malang
Bahas Luka Dalam Tawa, Joki Cilik NTB dari Kacamata Fotografer M Firman ketika menjelaskan tentang buku The Riders Of Destiny dalam diskusi dengan wartawan Malang Post.

MALANG - Kehidupan 'Joki Cilik' asal Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikemas dalam buku berjudul The Riders Of Destiny, menjadi diskusi wartawan Malang Post, Senin (20/5) malam. Muhammad Firman, menjadikan buku karangan Romi Perbawa, sebagai presentasi karena memiliki cerita history yang sangat bagus.

Romi Perbawa adalah warga asal Kutoarjo, Jawa Tengah. Dia bukan seorang jurnalis ataupun fotografer. Tetapi Romi sangat menyukai dunia foto. Dari hobinya itulah, Romi berhasil membuat buku tentang kisah Joki Cilik.

"Buku ini dikeluarkan tahun 2014. Penggarapan bukunya dikerjakan selama empat tahun," ujar Muhammad Firman.

"Pembuatan buku ini, terinspirasi dari Romi Perbawa yang melihat langsung Joki Cilik terjatuh di depan matanya," sambungnya.

Fotografer Malang Post inipun, menyampaikan bahwa dari diskusinya dengan Romi Perbawa sebelumya, diketahui bahwa lamanya pengerjaan buku karena ingin secara riset langsung pembuatan bukunya. Ingin lebih mengena. Mengetahui kehidupan langsung dari para Joki Cilik tersebut.

Disampaikannya, bahwa buku dengan tebal 135 halaman tersebut, diceritakan tentang Joki Cilik. Kehidupan Joki Cilik ini, seperti warna abu-abu. Karena di balik kehidupan mereka, ada luka dalam tawa.

Lukanya, karena ternyata para Joki Cilik ini, banyak yang putus sekolah. Mereka tidak banyak waktu untuk belajar. "Karena ketika waktu perlombaan, mereka bisa sampai full 12 hari tidak sekolah," urainya, sembari mengatakan bahwa mereka juga bertaruhan dengan nyawa.

Sedangkan tawanya, dari menjadi Joki Cilik mereka mendapatkan bayaran. Mereka juga akan mendapatkan bonus saat menjadi juara. Dan kesejahteraan mereka dapatkan, ketika kuda yang ditinggangi sering menjadi juara, karena harga jualnya tinggi.

"Joki Cilik ini adalah tradisi yang turun menurun. Dan para Joki Cilik ini, merupakan korban dari tradisi tersebut," jelasnya.

Sekadar informasi, di Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, ada sebuah tradisi unik yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat yang tinggal di desa-desa. Tradisi pacuan kuda atau warga lokal menyebutnya sebagai “main jaran” merupakan tradisi turun menurun masyarakat Sumbawa. Tradisi ini digelar tiap musim kemarau.

Yang berbeda, pacuan kuda di Pulau Sumbawa ini tidak menggunakan joki dewasa. Di sini, joki yang digunakan adalah joki anak-anak berumur sekitar 6-12 tahun. Mereka dikenal dengan sebutan Joki Cilik atau Juki dalam bahasa Sumbawa.

Berbeda denganku yang langsung kelelahan hanya karena menunggang kuda dengan santai, bocah-bocah ini begitu mahir mengendalikan kuda-kuda pacu. Menjadi Joki Cilik adalah sebuah kebanggaan bagi mereka. Fisik mungil bukan penghalang. Mereka tak gentar menunggangi kuda bertubuh tinggi besar, bahkan sedikit liar.

Mereka tak pernah berpikir tentang cedera. Bisa ikut berlaga, memacu sekencang-kencangnya kuda pacu mereka dan merebut predikat juara, itu yang tertancap dalam pikiran mereka.

Di Pulau Sumbawa, pacuan kuda menjadi primadona. Selain menjadi atraksi hiburan, pacuan kuda ini juga menjadi arena untuk menguji nyali para joki dan juga untuk melihat apakah para peternak berhasil merawat kuda-kuda mereka dengan baik.(agp)

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem
  • Penulis : agp
  • Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Divonis 5 Bulan, Vanessa Menerima, JPU Pikir-pikir

Ini Lho, Beda Safety dan Defensive Riding

Berkendara di Daerah Macet, Perhatikan Oli

VIDEO