trial_mode: on
Ekspedisi Panatagama (17)

Mbah Bener Temas Eks Laskar dari Kidul Brantas

  • 21-05-2019 / 22:42 WIB
  • Kategori:Batu
Mbah Bener Temas Eks Laskar dari Kidul Brantas Dari wilayah Lor Sungai Brantas atau utara Sungai Brantas, Tim Ekspedisi Panatagama Malang Post bergerak ke selatan sungai. Bersama arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono, tim menggali kisah tokoh penyebar Islam di Kelurahan Temas dan Sisir, Kota Batu. Di Kidul Sungai Brantas salah satu tokohnya adalah Mbah Bener.

Seperti dengan Bumiaji, di Temas merupakan peninggalan lintas zaman. Pasalnya masih banyak peninggalan Hindu Buddha di wilayah tersebut. Di antaranya yoni, lingga dan beberapa arca. Temas sendiri jaraknya hanya beberapa ratus meter dari DAS Brantas (dengan posisi ada di kidul brantas.red). Artinya Temas merupakan areal yang telah dihuni sejak masa Hindu Buddha dari temuan yang ada.

"Namun sayang untuk Mbah Bener jejak sejarahnya masih sangat misterius. Saya belum bisa menentukan dengan pasti apakah Mbah Bener adalah eks Laskar Trunojoyo bersamaan dengan Dewi Condor Asmoro atau Mbah Batu. Mungkin juga bersamaan dengan Syekh Abul Ghonaim eks Laskar Pangeran Diponegoro yang lari saat perang antara Pangeran Diponegoro dengan kolonial Belanda (1825-1830)," urainya.

Tapi sebaliknya, Mbah Bener sudah tak asing lagi  di telinga masyarakat Temas. Mbah Bener adalah sosok penyebar Agama Islam di Batu yang memiliki nama Suwito Harjo. Konon, dalam legenda yang yang ditulis  oleh sesepuh desa Temas ia adalah seorang laskar Diponegoro, cicit Sunan Muria, bibit kawin Mbah Rojoyo, atau yang biasa dikenal Syekh Abul Ghonaim. 

Suwito Harjo lebih dikenal sebagai mbah Bener. Makamnya berada di Jalan Wukir VII, Temas, Kota Batu. Tempatnya berada di pojok belakang gang, di tengah-tengah pemukiman Kelurahan Temas yang padat penduduk.

Menjelang Maghrib, tim tiba di makam itu. Berkesempatan menemui seorang juru kunci makam mbah Bener yang rumahnya berada di samping persis makam. Muhammad Irfain juru kunci Makam Mbah Bener berusia 70 tahun. Saat ditemui ia masih memijat salah satu warga.

Dikatakannya, Suwito Harjo merupakan orang yang cerdas. Saat masa penjajahan, menjadi penyebar agama Islam di Batu sekaligus seorang pahlawan yang berani melawan Belanda saat masa penjajahan.

Bener merupakan bahasa jawa yang berarti benar. Harjo Suwito mendapat gelar Bener karena pada saat itu berunding dengan pahlawan-pahlawan Islam lainnya yang juga menyebarkan ajaran Agama Islam di batu seperti Abul Ghonaim, Imam Sujono dan Mbah Banter.

Saat terpojokkan oleh Belanda, mereka berunding dan merumuskan strategi. Harjo Suwito mengatakan bahwa strategi yang efektif untuk mengelabui Belanda adalah menyembunyikan strategi itu sendiri.

 “Bener omongmu, Rojoyo mengulang-ulang pernyataannya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Harjo Suwito. Dan disebutlah Harjo Suwito dengan gelar Mbah Bener,” kata Muhammad Irfain.

Selain itu, kata Bener dikaitkan dengan tempat berkumpulnya pahlawan Islam, yaitu Desa Banaran, Batu. Saat itu, Harjo Suwito diutus Rojoyo untuk menuju ke selatan. Asal-usul kata Desa Temas, letak makam Mbah Bener sekarang karena utusan Rojoyo itu.

“Tembusen (seberangi.red) wilayah ke selatan ini,” jelas Muhammad Irfain.

Temas menjadi tempat perang yang strategis untuk melumpuhkan pasukan Belanda. Di sana sangat banyak tembusan-tembusan yang memudahkan pergerakan para pejuang dan penyebar Agama Islam. Sehingga menetaplah Suwito Harjo di Temas sampai beliau wafat.

Tidak diketahui sejak kapan Suwito harjo dimakamkan di Temas. menurut Muhammad Irfan, Suwito Harjo berada di Batu sejak meninggalnya Pangeran Diponegoro pada kisaran tahun 1830 an. Lima tahun setelah itu, Harjo Suwito meninggal.

Makamnya memang berada di tengah-tengah padatnya pemukiman penduduk. Namun hingga kini masih saja banyak orang yang berdatangan menziarahinya. Bahkan biasa ditemui orang dari Jawa Tengah seorang diri berkendara dari asalnya dan bermalam di makam Mbah Bener.

 “Mereka punya ikatan batin dengan Mbah Bener. Sudah biasa ada seseorang sendiri ke sini dari jauh da bermalam. Mereka memanjatkan doa di sini dengan khusyuk. Mungkin biar bener. Setiap orang punya kepercayaannya masing-masing,” papar Muhammad Irfain.

Ia menjelaskan lebih lanjut, untuk motif orang-orang yang berdatangan berbeda-beda. Menurut informasi yang dikumpulkan Malang Post, tempat ini ramai didatangi para calon pekerja ASN saat musim CPNS. Tak tahu pasti apa yang dilakukan.

“Setiap orang memiliki kepercayaannya masing-masing,” pungkasnya.(eri/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : abdi
  • Penulis : eri
  • Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI