Kerusuhan Jakarta

No People No Power

  • 22-05-2019 / 23:53 WIB
  • Kategori:Nasional
No People No Power Massa yang terkonsentrasi dekat Pasar Tana Abang mendapat tembakan gas air mata, Rabu dini hari.

JAKARTA-People power yang digembar-gemborkan setelah KPU mengumumkan pemenang Pilpres itu, tidak muncul, Rabu (22/5). Aksi massa di depan KPU dan Bawaslu, kemarin pun tak seheboh seperti aksi 212. No people, no power. Jadilah people power itu gagal total. Namun, Selasa (21/5) hingga Rabu dini hari terjadi kerusuhan di sejumlah ruas jalan.

Gerakan people power ini digaungkan para pendukung Capres-cawapres 02 Prabowo-Sandi. Awalnya, mereka akan menggelar aksi besar-besaran pada hari ini, 22 Mei. Bertepatan dengan pengumuman hasil rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 oleh KPU. Ternyata, pengumuman hasil Pemilu dilakukan KPU lebih awal, 21 Mei dinihari.

Dimajukannya pengumuman ini membuat aksi massa pun terlihat berantakan. Acaranya tak tersusun dengan baik. Pergerakannya tidak rapi. Massanya juga tak sebanyak seperti yang dibayangkan.

Aksi kemarin hanya terkonsentrasi di sekitar Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Massa baru berdatangan ke lokasi sekitar pukul 2 siang. Mereka datang terpencar-pencar. Mereka tak bisa mendekati Bawaslu karena jalan utama di depan Gedung Bawaslu sudah ditutup Polisi dengan pembatas beton dan kawat berduri.

Polisi juga sudah siaga dengan membentuk pagar betis. Alhasil, massa hanya bisa berkumpul di persimpangan Sarinah. Massa baru terlihat agak ramai saat beranjak sore.

Di tengah kerumunan massa, tampak tiga elite BPN Prabowo-Sandi: Koordinator Juru Bicara Dahnil Anzar Simanjuntak, Koordinator Debat Sudirman Said, dan Anggota Dewan Pakar Said Didu. Massa terus bertahan.

Mereka bahkan menggelar buka puasa bersama, salat magrib, hingga salat tawarih di lokasi. Polisi pun memberikan toleransi. Yang tadinya aksi hanya boleh sampai pukul 6 sore, diperpanjang hingga setelah tawarih.

Setelah tawarih, sebagian massa membubarkan diri. Mereka berjanji akan kembali hari ini dengan jumlah yang lebih besar. Namun, ada sebagian yang masih bertahan.

Di antara mereka bahkan ada yang menginjak-injak kawat berduri yang dipasang sambil meneriakkan yel-yel “curang-curang”. Seorang anggota Polisi sempat melarang tindakan tersebut.

Namun massa malah menghardiknya. Melihat kondisi itu, Polisi yang berjaga di depan Gedung Bawaslu lalu bergerak ke arah massa. Massa yang menginjak-injak kawat berduri ini langsung tunggang langgang. Namun, sebagiannya berhasil diamankan Polisi.

Namun, pada malam hari, terjadi bentrokan antara massa Kedaulatan Rakyat dengan aparat kepolisian. Bentrokan itu pecah sekitar pukul 20.00, Rabu (22/5). Awalnya kondisi kondusif di antara kedua pihak. Orasi dan salawat para pedemo berjalan lancar.

Suasana tersebut mulai mencekam saat aparat kepolisian maju selangkah sembari menghentakkan tamengnya ke tanah. Hal tersebut membuat massa kaget dan meminta agar polisi tidak maju lagi. Tetapi polisi tetap maju sehingga massa melawan.

Massa yang didatangi polisi itu akhirnya mundur teratur. Namun, dari belakang massa melempari polisi dengan botol aqua. Setelah itu, massa yang lainnya ikut melempari dengan kayu, bambu dan benda yang dibakar.

Meski menerima serangan, polisi hanya diam. Bahkan, saat petasan menghempas tameng dan barisan Brimob, aparat penegak hukum itu pun hanya berlindung di balik tameng. Tetapi kondisi itu hanya bertahan sekitar 15 menit.

Polisi akhirnya menembak dengan gas air mata. Desingan peluru gas air mata ditembakkan puluhan kali sampai massa luluh lantak.

Massa pun mengambil kesempatan itu dengan membakar sejumlah benda di jalanam. Massa juga turut mengambil batu sambil melempari petugas. Hingga berita ini diturunkan, bentrokan antara petugas dengan massa belum berhenti.

Kerusuhan Dini Hari Enam Tewas

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan 200 orang luka-luka buntut kericuhan demo Bawaslu semalam. Sebanyak 6 orang tewas akibat peristiwa tersebut.

"Ini per jam 09.00 WIB. Jadi ada sekitar 200-an orang luka-luka," ujar Anies di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019).

Anies mendatangi RSUD Tarakan untuk menjenguk orang-orang yang terluka akibat ricuh demo di sekitar kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang terjadi sejak semalam.
Ia memastikan ada korban meninggal akibat peristiwa itu.

"Per jam 09.00 dan ada 6 tercatat meninggal," sebut Anies.
Seperti diketahui, bentrok antara massa demo di Bawaslu dan polisi terjadi semalam. Polisi bertindak lantaran massa bertindak anarkistis dan tidak mau dibubarkan hingga dini hari.

Selain itu, ada massa yang membuat keributan di dekat markas Brimob di Petamburan. Paginya, sekelompok massa bertindak anarkistis di sekitar Tanah Abang.

Polisi memastikan pihaknya tak menggunakan peluru tajam dalam menghalau massa.

"Polisi tidak ada yang pakai peluru tajam," tegas Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi wartawan, Rabu (22/5)

Polda Metro Jaya Tetapkan 257 Tersangka

Polda Metro Jaya menetapkan 257 tersangka kasus kerusuhan 22 Mei 2019 yang berawal dari depan Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/5) malam.

"Berkaitan dengan unjuk rasa yang kami amankan, TKP-nya ada tiga. Pertama di depan Bawaslu, Petamburan, dan ketiga adalah di Gambir. Dari tiga TKP tersebut setelah dilakukan penangkapan orang-orang atau sekelompok massa yang melakukan rusuh, ada 257 tersangka yang buat kerusuhan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (22/5) malam.

 

Para tersangka tersebut, kata Argo, diamankan antara lain dari depan Bawaslu sebanyak 75 orang, Petamburan 156 tersangka, dan Gambir 29 tersangka.

"Di Bawaslu kenapa dilakukan penangkapan karena melawan petugas yang sedang bertugas, kemudian juga melakukan perusakan. Selanjutnya di Petamburan karena pembakaran mobil dan asrama, di Gambir penyerangan asmara dan Polsek Gambir," ujar Argo.

Dari para pelaku, kata Argo, polisi telah menyita sejumlah barang bukti beberapa di antaranya celurit, anak panah, dan sejumlah uang.

Argo mengatakan polisi saat ini tengah memburu diduga aktor intelektual yang menyuruh para tersangka melakukan kerusuhan.

Polisi memberlakukan Siaga 1 di Jakarta menyikapi hasil rekapitulasi suara nasional Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Setelah sempat terjadi aksi massa mengatasnamakan Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) di depan Bawaslu yang bubar usai salat tarawih pada Selasa (21/5), malam harinya terjadi kerusuhan di depan Bawaslu.

Kerusuhan di depan Bawaslu RI itu pun berlanjut hingga Rabu (22/5) siang hingga merembet ke kawasan Petamburan dan Tanah Abang, Jakarta Pusat karena massa dipukul mundur dan diupayakan bubar oleh polisi.(jpg/rmol/cni/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : Bagus Ary
  • Fotografer : -

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Penyerang Sopir Bus Diperiksa Kejiwaannya

JPU Tuntut Vanessa Angel 6 Bulan Penjara

Elegan, Makanan Penutup Berbentuk Cerutu Kuba

VIDEO