Ekspedisi Panatagama (21)

Perjuangan Eks Laskar Keturunan Untung Surapati

  • 25-05-2019 / 22:10 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Perjuangan Eks Laskar Keturunan Untung Surapati JEJAK: Makam Mbah Sedek menjadi salah satu tempat ziarah sekaligus riset sejarah. Ia merupakan penyiar Islam di kawasan Ngadas.

ASIMILASI penghayat kepercayaan, Hindu, Buddha hingga Islam, begitu terasa di Ngadas, desa yang dihuni suku Tengger. Jejak Islam di Ngadas, diwakili oleh Mbah Sedek, atau Sidik Wacono, seorang pria yang diyakini warga Tengger sebagai tokoh babat alas Ngadas.

Arkeolog, sekaligus tim ekspedisi Panatagama Malang Post, Dwi Cahyono meruntut bahwa kehadiran Mbah Sedek di Ngadas, diyakininya tak lepas dari percaturan politik Jawa Timur.

Mbah Sedek, diyakini pernah tersedot dalam pusaran politik dan kekacauan era perlawanan keluarga aristokrat Jawa di era kedatangan Belanda.

Yakni, keluarga bangsawan Jawa keturunan Untung Surapati, yang menolak Belanda. Perjuangan itu terjadi pada medio 1767 sampai 1770-an.“Saya meyakini, Mbah Sedek ini merupakan eks laskar anak cucu Untung Surapati yang melawan Belanda pada 1767 sampai 1770 sebelum kekalahan di Malang,” rinci Dwi.

Latar belakangnya pun tergambar dari berbagai literatur sejarah Indonesia. Keterlibatan penjajah serikat dagang Belanda dalam percaturan politik Indonesia, telah merontokkan dinamika pemerintahan nusantara. Jawa, salah satu mercusuar peradaban nusantara pada era abad ke-17 diacak-acak oleh VOC.

Kerajaan-kerajaan dan keluarga aristokrat Jawa ditunggangi kulit putih bermata biru. Para pangeran diadu domba. Sanak famili kerajaan dihasut untuk saling menusuk. Bisikan-bisikan kebencian pun diembuskan kepada para pewaris kerajaan. Mereka dimanfaatkan penakluk yang tak segan mengumbar ambisi memonopoli pulau Jawa.

Sebagian, tentu terbuai dan dimanipulasi Belanda. Mereka dikangkangi dan menjadi tunggangan untuk melanggengkan eksploitasinya terhadap tanah Jawa. Tapi, sebagian dari para bangsawan Jawa, menolak menjongoskan diri. Sosok Untung Surapati adalah buronan Belanda yang mahsyur.

Dia terkenal karena kebengalannya sebagai pemberontak pemerintahan Belanda. Pasukannya bahkan pernah mengeksekusi seorang perwira berbakat VOC, Kapten Francois Tack pada 1684.  Untung meroket di antara kegalauan para bangsawan Jawa yang bingung untuk memilih memberontak atau berkongsi dengan Belanda.

Dia memanfaatkan kegalauan Amangkurat II yang ditagih utang 2,5 juta gulden oleh VOC, untuk membantai Kapten Tack. Untung adalah satu dari sekian pejuang yang menolak belenggu VOC. Dia memangku nama Surapati dan melahirkan garis keturunan keluarga elit Jawa yang mempertahankan pemberontakan terhadap Belanda di Jawa Timur.

Dia ditekan luar biasa oleh VOC akibat sepak terjang pemberontakannya. Belanda yang digendong kerajaan Mataram, sangat getol memburunya hingga ke Brang Wetan, atau Jawa Timur. Untung Surapati gugur tahun 1704 di Bangil, pada usia 46 tahun saat melindungi Amangkurat III yang diburu Belanda.

Tapi, api perjuangan keluarga Surapati masih berkobar. Anak cucu, serta laskar-laskarnya menolak menyerah pada operasi penjajah. Saat Amangkurat III menyerah pada Belanda di Surabaya tahun 1708, 4 tahun setelah Untung Surapati tewas, anak cucunya berupaya menghidupkan bara perlawanan penjajah.

Pasuruan ditinggalkan. Malang mulai dijadikan markas pemberontak Belanda. Para pemberani yang menolak kungkungan VOC, membangun perlawanan di Malang, dan bertahan hingga 1767. Setelah itu, perlawanan di Malang dipukul mundur setelah dikeroyok oleh VOC dan Mataram yang sudah dijadikan antek.

“Terjadi penyebaran eks laskar Untung Surapati yang terpukul kalah. Saya meyakini, Mbah Sedek adalah bagian dari laskar perlawanan itu. Dia mendatangi kawasan kaki gunung Bromo, untuk menghindari kejaran Belanda, yang memburu sisa-sisa para pejuang Malang,” sambung Dwi.

Tahun 1771, Dwi meyakini Mbah Sedek atau Sidik Wacono yang disinyalir berasal dari Yogyakarta, sudah pernah datang ke kaki gunung Bromo. Mbah Sedek datang ke kawasan bernama Ndling Sumpit, area yang berada di antara Gubug Klakah dan Desa Ngadas Poncokusumo.

“Mbah Sedek, mengajak suku Tengger di Gubug Klakah, untuk mencoba membuka desa baru yang kini disebut Ngadas. Tapi, Mbah Sedek gagal. Karena, banyak warganya yang mati, akibat penyakit malaria,” ujar Dwi. Mbah Sedek, akhirnya berhasil membuka desa baru yang kini bernama Ngadas pada 1774.

Tak hanya menghindari Belanda, Mbah Sedek diyakini sebagai seorang muslim. Dia juga melakukan syiar islam kepada suku Tengger di Desa Ngadas yang dipimpinnya. Namun, keunikan adat istiadat suku Tengger yang mengagungkan leluhur dan mengedepankan harmoni dengan alam, membuat Mbah Sedek memakai cara lain.

Cara lain itu pula, yang ternyata menjadi warisan syiar islam tak ternilai harganya bagi generasi masa mendatang. Karena, lewat warisan syiar islam dari Mbah Sedek inilah, generasi masa kini bisa memastikan bahwa islam sudah pernah masuk di Ngadas sejak tahun 1774. Apakah warisan Mbah Sedek untuk Ngadas? Tunggu edisi berikutnya besok di ekspedisi Panatagama Malang Post.(fin/van)

  • Editor : van
  • Penulis : fin
  • Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Divonis 5 Bulan, Vanessa Menerima, JPU Pikir-pikir

Ini Lho, Beda Safety dan Defensive Riding

Berkendara di Daerah Macet, Perhatikan Oli

VIDEO