trial_mode: on
EKSPEDISI PANAGAMA (22)

Mbah Sedek Wariskan Japa Mantra Syahadat

  • 26-05-2019 / 22:51 WIB
  • Kategori:Malang
Mbah Sedek Wariskan Japa Mantra Syahadat Mbah Tomo, Dukun Suku Tengger di Desa Ngadas merapal mantra dalam tradisi Entas-Entas.

Setelah membuka Desa Ngadas dan hidup selama lima dekade di desa ini. Mbah Sedek, Sidik Wacono (1774-1824),  mewariskan tradisi lisan yang bertahan hingga milenium. Warisan ini, merupakan syiar keIslaman yang disisipkan oleh Mbah Sedek, di antara adat istiadat dan budaya unik suku Tengger seperti upacara Entas-Entas, Karo dan Kasada.

 

Budaya lisan ini pula, yang bahkan bisa diingat-ingat serta dilafalkan oleh masyarakat Tengger di Desa Ngadas. Kepala Desa Ngadas, Mujianto menyebut, warisan lisan yang diturunkan sejak Desa Ngadas berdiri hingga sekarang, diyakini berasal dari Mbah Sedek.

“Jadi, ada satu japa mantra, yang diwariskan Mbah Sedek kepada warga Suku Tengger di Ngadas, dan ini bertahan hingga sekarang,” kata Mujianto kepada tim Ekspedisi Panatagama Malang Post.

Menurut Mujianto, japa mantra tersebut, diwariskan secara lisan dari Mbah Sedek kepada warga Suku Tengger, saat hendak memotong hewan. Ceritanya, ketika babat alas desa pada 1774, Mbah Sedek yang diyakini sebagai muslim pertama di Ngadas, hidup bersama suku Tengger yang tak mengenal Islam.

Suku Tengger, sangat memegang teguh adat. Bahkan, keteguhan itu masih terasa hingga tahun 2019 ini ketika tim Panatagama Malang Post, menyaksikan upacara kematian Entas-Entas.

Adat istiadat berusia ratusan tahun tersebut, bisa terlestarikan karena  ketaatan suku Tengger di Desa Ngadas Poncokusumo terhadap leluhur. Namun, Mbah Sedek yang hadir sebagai pembuka desa menyisipkan napas Islam sebagai bagian dari syiarnya. Mujianto, lalu menyebut bahwa dahulu, warga suku Tengger tidak tahu doa memotong hewan bagi umat muslim.

Mbah Sedek, yang khawatir makanannya bakal haram karena dipotong tanpa doa muslim, mengajarkan ‘japa mantra’ kepada suku Tengger.

“Saat itu, cerita dari para sesepuh, Mbah Sedek bilang akan mengajari japa mantra untuk menyembelih hewan, sehingga hewan itu baik untuk dimakan,” ujar Mujianto.

Tim ekspedisi lalu mengeluarkan alat perekam. Dan meminta kepala Desa Ngadas untuk melafalkan japa mantra, yang diwariskan secara turun-temurun kepada suku Tengger. Mujianto, dengan tempo pelan tapi bersuara lantang, merapalkan mantra yang diyakini diwariskan oleh Mbah Sedek.

“Ashadualla Ilohailollah Muhammadar Rasulullah. Ini adalah japa mantra dari Mbah Sedek ketika mau memotong hewan,” sambung Mujianto.

Ternyata, warisan budaya lisan yang dikira japa mantra untuk memotong hewan oleh suku Tengger, diketahui sebagai kalimat syahadat sebagai tanda menerima iman agama Islam. Tanpa sadar, suku Tengger Ngadas sejak 245 tahun yang lalu, sudah mengucapkan syahadat meskipun Mbah Sedek menyebutnya sebagai japa mantra sebelum menyembelih hewan.  Warisan yang bertahan hampir dua setengah abad ini, baru disadari sebagai jejak Islam di Ngadas, ketika beberapa warga Ngadas mulai memeluk agama Islam.

Mujianto menyebut, Mbah Sedek tidak mewariskan artefak, benda bertuah maupun barang-barang lainnya untuk dijadikan simbol serta pusaka. Selain japa mantra ini, Mbah Sedek mewariskan petuah kata yang harus dijaga oleh suku Tengger di Ngadas, jika ingin desa tetap hidup dan bertahan di antara terpaan arus waktu dan zaman.

“Pesan Mbah Sedek, adalah warga Ngadas, harus hidup saling tolong menolong, harus selalu rukun, tidak boleh ada pertengkaran, istilahnya sekarang, harus menjaga silaturahmi,” papar Mujianto.

Pesan dari Mbah Sedek ini, diamini oleh Dukun Desa Ngadas, Mbah Sutomo yang diwawancarai Malang Post, usai memimpin ritual upacara kematian Entas-Entas.

Mbah Tomo, membenarkan bahwa leluhur, memberi pesan agar menjaga adat dan warisan budaya dari leluhur, serta meminta generasi demi generasi, untuk melestarikan adat. Japa mantra berupa kalimat syahadat tersebut, juga harus terus diwariskan kepada generasi penerus, terlepas apapun agama yang dipeluk oleh warga Ngadas.

“Di sini, warga Ngadas tolong menolong, hidup rukun, apapun agamanya, hindu, buddha, Islam, semuanya ada dan lahir di sini karena ada leluhur yang membuka desa. Sehingga, kami pun sangat menghormati leluhur dan adat yang diwariskan kepada kami warga Tengger Ngadas,” ungkap Mbah Tomo.

Dia juga mengungkapkan, tak ada warisan lain dari Mbah Sedek kepada generasi penerus di Ngadas. Selama melakukan babat alas dan hidup bersama warga suku Tengger di Ngadas, Mbah Sedek tidak memiliki keturunan langsung. Dia tidak beristri dan memiliki anak di Ngadas. Menurut Mbah Tomo, dia pernah mendengar dari sesepuh, bahwa Mbah Sedek memiliki sanak famili.

“Kalau anak, Mbah Sedek tidak punya. Tapi, saya pernah dengar dari para sesepuh, bahwa ada sanak famili Mbah Sedek di daerah Batu. Hanya, info ini cuma berhenti sampai di sini saja. Kami sendiri belum tahu, apa benar yang di Batu itu adalah sanak famili Mbah Sedek,” tambah Mbah Tomo.

Sementara itu, M. Dwi Cahyono, Arkeolog sekaligus tim ekspedisi Panatagama mengungkapkan, Islam yang diwariskan dari Mbah Sedek, banyak terasimilasi oleh nilai dari kepercayaan warga Tengger pada tradisi dan leluhur. Sehingga, kendati bernapas Islam, ritual dan kebudayaan warga Tengger di Ngadas, masih bersifat kejawen dan asimilasi hindu, buddha  serta Islam.

Sistem kepercayaan warga Tengger Ngadas, mulai dari kemerdekaan bahkan hingga era Orde Baru, masih berpegang pada tradisi. Sehingga, warga Tengger di Ngadas, menurut Dwi Cahyono, termasuk masyarakat dan suku yang menolak dikotak-kotakkan dalam agama tertentu, baik itu Hindu Buddha maupun Islam.

“Jadi, ada masa suku Tengger ini disebut Hindu ya bukan, disebut Buddha bukan juga, disebut Islam juga belum. Pada masa Orde Baru, dulu orang dipaksa untuk masuk dalam satu dari lima agama. Suku Tengger Ngadas ini, termasuk yang tidak mau dikotakkan dan menolak hal itu,” sambung Dwi.

Dia lalu menyebut, Islam mulai berkembang sejak hadirnya seorang guru yang notabene pendatang.

“Tahun 1996, ada seorang pendatang, guru, seorang muslim, yang datang ke Desa Ngadas untuk mengajar. Dia tinggal di Ngadas, dan menikahi warga Tengger. Baru dari sini, dia mengislamkan istrinya, lalu anak-anaknya. Sejak itu, Islam mulai tersebar,” tambahnya.

“Desa Ngadas dengan suku Tenggernya adalah sebuah komunitas yang unik, dan budaya serta tradisinya yang bertahan selama ratusan tahun, menjadi warisan berharga bagi kita semua anak-anak generasi sekarang,” tutupnya.(fin/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : fin
  • Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI