Hendro Prasetyo, Penggagas Kedai Buku Gratis Kopi

Permudah Literasi Masyarakat, Pernah Dikunjungi Rocky Gerung

  • 26-05-2019 / 22:56 WIB
  • Kategori:Malang
Permudah Literasi Masyarakat, Pernah Dikunjungi Rocky Gerung Hendro Prasetyo dan Rocky Gerung yang datang ke kedai bukunya untuk berburu karya.

Kecintaan seseorang terhadap sesuatu, tentunya tidak dapat diukur dengan materi. Contoh saja, seseorang yang sudah mapan berbisnis kuliner, bisa merelakan bisnis diganti kedai buku yang menyediakan kopi gratis.

Nah, inilah yang dilakukan Hendro Prasetyo, warga Kelurahan Tlogomas Kota Malang belum lama ini. Ia mengaku ingin membagi apa yang ia baca dan pahami untuk dibagikan ke kawan-kawan dan warga sekitarnya.

Kedai Buku ini memang terlihat sederhana. Akan tetapi lumayan ramai orang datang membaca di sana. Walaupun saat ini bulan puasa datang.

Dari luar, memang tak tampak jika Ruko tersebut merupakan kedai buku. Ada buku bekas, ada buku baru. Hendro mengatakan, buku tersebut memang dijual untuk umum. Tetapi, bagi Anda yang hanya ingin melihat, membuka buku untuk mencari referensi, diperbolehkan.

”Kalau baca-baca saja tidak masalah,” tutur pemilik kedai buku yang diberi nama Kedai Buku Semut Alas ini.

Yang bikin menarik adalah, setiap pengunjung yang datang dipersilahkan membaca apapun. Sambil kemudian ngopi atau ngeteh, menariknya, kopi ini tidak perlu dibayar. Alias gratis. Maka siapapun yang datang bisa bersantai. Duduk di tempat layaknya kafe itu, sambil membaca buku apapun yang diinginkan.

Akan tetapi jika, pengunjung ingin membeli buku yang ada di kedai. Juga dipersilahkan. Tentunya juga dengan harga miring, karena sebagian besar adalah buku koleksi bekasnya.

“Makanya kalau ada yang datang saya tanya dulu. Masih lama atau sebentar. Kalau tidak terburu-buru, saya bikinkan kopi. Kecuali bulan puasa ini, ya enggak,” kata pria kelahiran 1988 ini.

Apa sih yang melatarbelakangi pria kelahiran 16 Februari 1988 ini membuat kedai buku dengan minuman gratis tersebut?

Dikatakannya tidak semua buku dari penerbit ada di toko buku besar. Tidak banyak pula yang mengetahui akses mendapatkan buku, seperti dirinya yang memang suka membaca.

Hendro kemudian berusaha menemukan sejumlah buku lawas yang banyak dicari orang. Seperti buku filsafat dan buku sosial. Yang kemudian dikumpulkannya dan dijadikan koleksi di kedainya, untuk dapat dibaca dan dimanfaatkan secara publik.

Awalnya, sekitar tahun 2014, dia bersama sejumlah rekannya merasa kesulitan mendapatkan buku yang dicari. Apalagi untuk buku yang sudah tidak lagi dicetak atau diedarkan oleh penerbit.

”Karena dulu memang tidak banyak buku anak muda, seperti filsafat dan sosial,” kata putra pasangan almarhum Said Efendi – Kholifah ini.

Lagi pula, Hendro juga menekankan agar tidak membajak buku. Hak cipta penerbit menurutnya harus dijunjung tinggi. Makanya, dia berusaha mendapatkan buku asli dari penerbit, ataupun dari sesama pedagang. Meski menurutnya, membeli buku dari pedagang buku juga mahal harganya.

”Buku yang tidak cetak lagi di penerbit, saya coba cari dan beli. Itu lebih baik dari pada harus melihat buku bajakan,” tegas suami Ikrotul Fitriah ini.

Hendro mengakui, tidak semua penerbit bisa dia jangkau, untuk mendapatkan buku edar. Namun dia terus berusaha agar bisa memenuhi kebutuhan pasar. Yaitu buku-buku yang dibutuhkan pembaca kritis.

Tentu ada biaya yang harus dia keluarkan untuk sekedar menyediakan kopi. Namun bagi Hendro, hal itu dianggapnya sedekah. Karena dari penjualan bukunya itu, kata dia, dirinya sudah mendapatkan untung.

 ”Saya juga lupa dari mana ide ini muncul, tapi yang saya lakukan ini untuk membangun keakraban dengan pengunjung,” tegas alumnus Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Meski tidak mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan buku, Hendro mengaku yang dilakukannya adalah bagian dari passion.

Kedai buku tersebut memang sudah dia mulai sejak 2014 lalu. Bermodalkan Rp 20 juta, Ia memberanikan diri untuk jualan buku. Kedai tersebut menurutnya, awalnya adalah warung makan yang dia kelola bersama kakaknya. Sementara toko bukunya waktu itu masih kecil, berada 4 meter di dekat kedai yang dia tempati saat ini.

”Dulu ini warung makan, saya kelola sama kakak. Akhirnya saya putuskan ambil alih jadi kedai buku,” tukasnya.

Nah, dari usahanya yang juga menggratiskan minuman kepada pengunjung, Hendro mengaku mendapatkan manfaat. Dia merasa lebih dekat dengan pelanggan.

Tidak hanya terkenal di kalangan mahasiswa, Kedai Buku Semut Alas juga sudah dikunjungi sejumlah orang penting. Karena di kedai tersebut, juga sering kali diadakan diskusi oleh sumber dari luar internal kedai tersebut.  Saat ini, pihaknya masih menyiapkan jadwal diskusi untuk pejabat Kemenpan-RB.

 ”Rocky Gerung juga pernah main ke sini lihat buku,” pungkasnya.(Sisca Angelina/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : ica
  • Fotografer : ica

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Menhan: Lebih Aman, Tidak Ada Chaos Usai Putusan MK

Divonis 5 Bulan, Vanessa Menerima, JPU Pikir-pikir

Ini Lho, Beda Safety dan Defensive Riding

Berkendara di Daerah Macet, Perhatikan Oli

VIDEO