trial_mode: on

HK Ngaku Disuruh Kivlan Zen Beli Senjata dan Bunuh 4 Pejabat Negara

  • 11-06-2019 / 19:42 WIB
  • Kategori:Nasional
HK Ngaku Disuruh Kivlan Zen Beli Senjata dan Bunuh 4 Pejabat Negara

MALANGPOSTONLINE.COM - Walikota Jenderal (Purn) Kivlan Zen disebut menjadi aktor utama yang berencana melawan terhadap para pejabat negara. Itu diketahui setelah Polri memutar video rekaman pengakuan tersangka di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta.

Empat pejabat itu antara lain, Menkopolhukam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan mantan Kadensus 88 Antiteror Gories Mere. Selain itu ada nama Yunarto selaku Direktur eksekutif Charta Politika.

Wadir Krimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary menyampaikan proses hukum yang tengah berjalan saat ini. “Kami melakukan pengembangan penyidikan sebelum akhirnya memulai dua tersangka,” kata Ade di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/6).

Ade menuturkan, selaku pimpinan lapangan HK alias aku yang sebelumnya ditangkap, diterima mendapat uang dari Kivlan Zen untuk membeli senjata militer (senpi). Pengakuan ini diutarakan dalam video yang diputar oleh Polri.

“Saya diamankan polisi tanggal 21 Mei terkait ujaran kebencian, kepemilikan senjata api dan ada yang setuju dengan senior saya, jenderal saya yang saya hormati dan saya bayakan sebagai Bapak Walikota Jenderal Kivlan Zen,” ucap HK alias I.

HK menjelaskan, pada Maret 2019 ia bertemu dengan Kivlan di Kelapa Gading, Jakarta Utara bersama seseorang bernama Udin yang merupakan sopir pribadi Kivlan. Dalam pertemuan itu, Kivlan berjanji untuk mencari senpi.

“Dalam rapat itu saya beri uang Rp 150 juta untuk pembelian alat, senjata api yaitu senjata api laras pendek dua pucuk, senjata api laras panjang dua pucuk,” ungkapnya.

Ade menuturkan, mantan Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat (KSAD) itu disebut sebagai pemberi uang dan penentu target operasi. Kivlan saat itu meminta agar dapat membunuh empat pejabat negara dan satu pimpinan lembaga survei.

Sementara itu, peran HM adalah memberikan uang kepada Kivlan sebesar SGD 5.000 atau Rp 150 juta. Selain itu, ia juga memberikan uang Rp60 juta kepada HK dengan hadiah Rp10 juta yang digunakan untuk operasional. Bahkan dia pun memberi uang Rp50 juta untuk melakukan aksi unjuk rasa.

"Kepada dua tersangka baru, KZ dan HM ini, disahkan, melakukan tindak pidana, dan ilegal mengatur mana pun yang mengatur UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan perijinan demi keselamatan hidup," jelasnya.

Sebelumnya, polisi telah menerbitkan HK alias I, AZ, IR dan TJ, serta AD dan AF alias VV. Saat ini, ada satu yang berinisial Y yang masih dalam buron.

Pengacara Bantah

Muhammad Yuntri, selaku meminta dari Kivlan Zen membantah kliennya ingin melakukan menentang kepada empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei. Alasan, dalam Polri di kantor Kemenkopolhukam di dalam video yang dibeberkan Polri, Hadi Kurniawan alias Iwan meminta mendapat perintah dari Kivlan untuk melakukan pembunuhan kepada empat tokoh nasional dan satu orang yang mendukung lembaga survei.

Mereka yaitu, Menkopolhukam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, mantan Kadensus 88 Antiteror Gories Mere dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya. Yuntri menyebut, cerita yang disampaikan Iwan kepada Polri berbanding terbalik dengan yang diceritakan kepada Kivlan. Menurutnya, sebaliknya kliennya yang akan dikeluarkan oleh empat tokoh nasional tersebut.

“Sampai saat ini kita mau ketemu Iwan enggak bisa, dikhawatir cerita Iwan dengan yang kami terima dari Pak Kivlan itu berbeda. “Saya menentang datang ke Pak Kivlan mengatakan bahwa Pak Kivlan mau di tolak oleh empat orang itu,” kata Yuntri. (jpc/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : JPC
  • Fotografer : JPC

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI