trial_mode: on

Bersikap Rektif dan Lebay, Puluhan Remaja Kota Batu dapat Pelayanan Psikologis

  • 12-06-2019 / 14:33 WIB
  • Kategori:Batu
Bersikap Rektif dan Lebay, Puluhan Remaja Kota Batu dapat Pelayanan Psikologis LAYANI: Psikolog Puskesmas Kota Batu, Sayekti Pribadiningtyas S.Pi M.Pd. tengah menangani remaja di Kota Batu yang terjerat masalah obat terlarang di Puskesmas Kota Batu Jalan Samadi, Rabu (12/6) siang ini.

BATU - Puluhan remaja tingkat SMP dan SMA di Kota Batu yang ikut dalam kesenian bantengan berperilaku reaktif dalam menanggapi setiap hal yang ditemuinya. Akibatnya banyak dari mereka yang terjerumus dalam pergaulan bebas, minum-minuman keras, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, bolos sekolah hingga putus sekolah. 

Masalah tersebut menjadi permasalahan yang harus segera diselesaikan. Pasalnya masalah itu telah terjadi sejak tahun 2017 lalu. Hal itu diungkapkan oleh Psikolog Puskesmas Kota Batu, Sayekti Pribadiningtyas S.Pi M.Pd.

"Memang benar saat ini ada sekitar 10 anak yang mendapat pelayanan psikologis di ruang pelayanan konsultasi psikolog Puskesmas Batu akibat bersifat reaktif. Namun banyak dari anak-anak ini bukan pemain aktif seni bantengan. Tapi mereka yang ikut-ikutan saja," ujar Sayekti kepada Malangpostonline.com Rabu (12/6) siang. 

Ia menjelaskan lebih lanjut, para pasiennya yang terdiri dari anak-anak belum cukup usia atau dewasa ini lebih reaktif dalam menyikapi setiap peristiwa. "Atau bisa dikatakan mereka ini lebai menyikapi suatu hal, mudah marah hingga lebih sering melamun," imbuhnya. 

Permasalahan itu ia dapatkan dari laporan guru BK di Kota Batu dan informasi dari beberapa orang tua yang melaporkan perilaku anak mereka yang tak sesuai dengan norma. Beberapa perilaku yang melenceng dari norma seperti bolos sekolah karena dimungkinkan mengantuk sehabis begadang.

"Bahkan beberapa dari mereka telah mengenali dan mengkonsumsi miras dan obat terlarang seperti pil LL. Hingga paling parah mereka memilih berhenti sekolah," bebernya. 

Namun perlu digaris bawahi, diungkapkan Sayekti, kasus seperti ini bukan karena budaya bantengan yang salah. "Bukan. Bukan kesenian bantengan yang salah. Tapi bagaimana memanage perilaku budaya yang terjadi pada anak dan remaja ini agar tidak mengarah ke perilaku negatif. Harus ada solusinya," tegasnya.

Menurutnya, untuk menghindari perilaku menyimpang atau negatif tersebut perlu ada kedisiplinan, perhatian orang tua, dan ada jam khusus bagi anak-anak untuk terlibat dalam kesenian. Sehingga tidak kebablasan. 

"Kami sarankan bagi yang akan terjun dalam berkesenian aktif seperti bantengan harus sudah lulus SMA. Karena mereka akan lebih bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan dengan usia sudah matang atau sudah dewasa. Sehingga tidak hanya ikut-ikutan saja," bebernya. 

Ia menambahkan, berkarir sebagai pelaku seni sangatlah bagus. Karena di Indonesia kesenian harus dilestarikan. Bahkan menjadi pondasi dari bangsa yang memiliki budaya yang beragam. Namun dengan usia matang. 

"Jadi untuk kategori remaja atau anak-anak tingkat SMP-SMA sebaiknya jadi penonton dulu. Setelah lulus baru aktif dalam berkesian bantengan," imbuhnya.

Selain itu, la jut Sayekti pihaknya juga meminta ke Dinas Pendiidkan, Dinas Pariwisata, Pelaku Seni di Kota Batu, Sosiolog, dan Psikolog untuk duduk bersama dalam menyikapi permasalahan ini. Dengan begitu budaya dan pendidikan bisa berjalan bersama. Tidak berat sebelah.

"Di Kota Batu ada bangak pelaku seni. Ini yang penting untuk diikutkan dan duduk bersama. Jangan hanya antar dinas saja. Karena jika dibicarakan pada tataran atas. Tapi yang langsung terjun seperti pelaku seni harus diikutkan," tegasnya. 

Dengan adanya permasalahan tersebut. Saat ini dirinya melayani terapi sekitar 10 remaja tingkat SMP dan SMA untuk dilakukan terapi secara berkelanjutan. Mulai dari psiko tes, konseling, terapi kognitif dan perilaku. Dengan waktu yang dibutuhkan paling cepat empat kali pertemuan. 

Menurutnya ada banyak remaja yang mengalami perilaku reaktif yang diakibatkan dari beberapa masalah diatas. Namun banyak yang telah diselesaikan oleh orang tua atau guru BK. 

Menanggapi kasus diatas, Kepala Puskesmas Batu, dr. Kartini menambahkan bahwa pihaknya akan menyampaikan ke Dinas Kesehatan dan melakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan. Karena masalah tersebut menurutnya memiliki pengaruh negatif.

"Yang pasti mereka banyak yang bolos sekolah atau menomor duakan pendidikan. Kasus ini masuk dalam pelayanan khusus psikolog. Kami telah melakukan pelayanan terkait masalah tersebut," paparnya. (eri)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : eri
  • Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI