trial_mode: on

Dramatari Brastho Durjono Mewarnai Indonesia's Cultural Dining Series 42 Hotel Tugu Malang

  • 12-06-2019 / 18:18 WIB
  • Kategori:Hotel
Dramatari Brastho Durjono Mewarnai Indonesia's Cultural Dining Series 42 Hotel Tugu Malang Delapan penari akan menampilkan sebuah kisah perjuangan memenangkan kebaikan atas keburukan pada malam Indonesia’s Cultural Dining Series 42 di Tirta Gangga Hotel Tugu Malang.

MALANG - Konsisten di pertengahan bulan dengan suguhan seni dan budayanya, Hotel Tugu Malang akan menampilkan tarian topeng Malang yang dipadukan dengan esensi pakem tarian Jawa. Bertajuk Dramatari Brastho Durjono, pertunjukan ini bisa dinikmati pada Sabtu (15/6) mendatang di Tirta Gangga.

Dimulai pada pukul 20.00 WIB, Dramatari Brastho Durjono akan memberikan pengalaman bersantap malam sambil menyaksikan pertunjukkan seni budaya lokal. Setiap bulannya Hotel Tugu Malang mengusung tema yang berbeda-beda mulai dari musik, tarian, donten, wayang dan lain sebagainya.

"Pertunjukan rutin setiap bulan ini digelar dalam upaya untuk menghidupkan kembali apresiasi terhadap seni dan budaya Indonesia yang dirangakai dalam kegiatan Indonesia’s Cultural Dining Series dengan tema berbeda-beda setiap bulannya," ujar Public Relation Hotel Tugu Malang, Richard Wardana.

Untuk menampilkan Dramatari Brastho Durjono, Hotel Tugu Malang bekerja sama dengan sanggar budaya Ginaris Art. Pertunjukan ini terinspirasi dari konflik gejolak dan sifat manusia dalam menyeimbangkan kepuasan diri dengan kedamaian, Dramatari Brastho Durjono diciptakan dengan memadukan esensi tarian Topeng Malang dengan pakem-pakem tarian Jawa lainnya, seperti gerakan singet, labas dan kencak dalam melambangkan dongeng rakyat utama.

Aksi tari tradisional Jawa Timur akan jauh lebih memikat dengan adanya delapan penari yang menyajikan sebuah kisah perjuangan memenangkan kebaikan atas keburukan. Bahkan alunan gamelan di sepnajang pertunjukan tersebut dijamin membawa para penonton turut larut dalam cerita tersebut.

"Cerita yang ditampilkan ​mengangkat dari kesenian kerakyatan dari tradisi Budaya Jaran Kepang yang berakar dan berkembang di masyarakat, namun dikemas kekinian supaya bisa diterima oleh Generasi Milenial," terang Richard.

Cerita yang ditunjukkan tidak hanya epik dilihat namun juga mengandung nilai-nilai filosofi dengan simbol-simbol kehidupannya. Dalam tampilan tersebut juga diberi pemaparan harapan Ibu Pertiwi kepada anak bangsa adalah menaklukkan kedurjanaan di dalam dirinya.

"Dengan begitu, nantinya generasi penerus bisa menjadi sosok tangguh, berhati nurani serta menjadi tauladan yang baik sebagai ujung tombak keutuhan bangsa dan negara," tutupnya. (lin)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : lin
  • Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI