Mantan Direktur Percetakan Mulai Jalani Sidang Penggelapan Uang

  • 12-06-2019 / 19:32 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Mantan Direktur Percetakan Mulai Jalani Sidang Penggelapan Uang KELUAR: Terdakwa Thomas Zacharias keluar dari ruang sidang usai pembacaan dakwaan di PN Malang, Rabu (12/6) siang.

MALANG- Thomas Zacharias, 68, warga Jalan Lembah Dieng Malang, mulai menjalani sidang beragendakan pembacaan dakwaan di PN Malang, Rabu (12/6) siang. Mantan Direktur CV. Mitra Sejahtera Abadi (MSA) itu duduk di kursi pesakitan setelah diketahui menggelapkan uang perusahaan sekitar Rp 900 jutaan.

Ia dilaporkan pasangan suami istri, Herman Setiabudi dan Megawati, warga Jalan Kedondong Malang yang merupakan pemilik perusahaan percetakan tersebut, enam tahun lalu. “Kami percaya kepada pengadilan untuk menghukum terdakwa,” kata Herman yang datang bersama istrinya kepada malangpostonline.com.

JPU Kejari Kota Malang, I Dewa Gede Putra Awatara 

 

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU Kejari Kota Malang, I Dewa Gede Putra Awatara, SH, Thomas melakukan penggelapan uang itu mulai November 2009 hingga Juni 2013 di kantor CV. MSA, Jalan Indragiri IV Malang. Awalnya, terdakwa bekerja sama dengan Megawati untuk mendirikan usaha percetakan.

“Terdakwa memiliki ketrampilan atau keahlian mengenai teknis percetakan dianggap pula sebagai suatu penyertaan modal berupa ketrampilan. Selain itu, terkait penentuan harga jual, penagihan hasil usaha, pemakaian uang untuk operasional dan pengaturan administrasi usaha serta keuangan harus disetujui terdakwa dan Megawati,” ucapnya.

Masih dalam uraian dakwaan, pembagian keuntungan bersih diberikan dalam waktu tertentu dan para pihak mendapatkan keuntungan sebesar 50 persen. Lalu, terkait pinjaman uang dan barang kepada pihak ketiga atau pinjaman untuk keperluan pribadi, tidak diperkenankan menjaminkan asset milik usaha bersama. 

“Kebiasaan saksi Megawati ketika mendapatkan pemesanan pekerjaan CV. MSA, langsung disampaikan kepada terdakwa. Sehingga setelah dipotong biaya operasional, terdakwa membagi hasilnya sebesar 50 persen bersama saksi Megawati,” ungkap Dewok, sapaan akrab jaksa tersebut kepada majelis hakim yang diketuai Noor Ichwan Ichlas Ria Adha SH. 

Sayangnya, seringkali Thomas tidak pernah memberitahukan pemesanan atau pembayaran pekerjaan untuk CV. MSA kepada Megawati, termasuk tidak pernah menuliskan dalam laporan keuangan, utamanya pemesanan atau pembayaran dari Yasperin dan Perum Jasa Tirta. “Saksi Megawati sudah seringkali melakukan teguran,” kata dia.

Jengkel dengan keadaan ini, Megawati lantas meminta audit dari kantor Akuntan Publik Drs. A. Ghonie Abubakar. Disitulah mulai terlihat beberapa aliran uang yang dipergunakan untuk kepentingan pribadi Thomas. Seperti pembelian besin, pembayaran makan di restaurant, hingga pembayaran cicilan mobil anak Thomas.

“Akibat perbuatan terdakwa Thomas Zacharias, membuat saksi pelapor atau korban, Megawati mengalami kerugian sekitar Rp 901.221.544, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHP Jo. Pasal 64,” tutupnya. Dalam pasal tersebut, ancaman hukuman penjara mencapai 5 tahun. (mar)

Editor : mar
Uploader : irawan
Penulis : marga
Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU