UPDATE NOW
UPDATE NOW
   UPDATE NOW
Pujiono Pelopor Pertanian Hidroponik Lewat Youtube

Ajak Milenial Bertani, Tak Harus Kotor dan Punya Lahan

  • 12-06-2019 / 22:40 WIB
  • Kategori:Batu
Ajak Milenial Bertani, Tak Harus Kotor dan Punya Lahan Petani Hidroponik Asal Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu bernama Pujiono sukses membina anak muda.

Pertanian bukan tujuan. Tapi kebutuhan. Itulah penegasan dari petani hidroponik asal Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu bernama Pujiono (36 tahun). Ia miris melihat fenomena menyusutnya pata petani di Kota Batu. Puji, sapaan akrabnya terlecut mengajak anak-anak muda atau milenial di Kota Batu, untuk bangga bertani dan makmur bersama.

 

Bagi Puji, bertani adalah dunianya. Pasalnya, ia terjun di bidang pertanian sejak SD,  diajak oleh ayahnya. Sedangkan petani saat ini, kebanyakan berusia 40 tahun ke atas. Itulah yang membuat Puji berpikir merubah mindset masyarakat. Khususnya anak muda agar terjun dalam bidang pertanian. Caranya dengan mengenalkan sistem pertanian organik yang jauh dari kotor, lahan luas dan nilai jual tinggi.

"Saya terjun pertanian sejak SD dengan ikut orang tua bertani. Karena dulu sampai sekarang ayah merupakan petani bawang, kentang, dan apel," ujar Puji kepada Malang Post.

Tentu saja, pertanian yang dilakukan dan pelajari dirinya bersama sang ayah adalah pertanian konvensional. Namun ia merasa jika pertanian konvensional mulai ditinggalkan anak muda. Dengan berbagai faktor dan alasan. Namun secara umum karena kotor, panas, dan banyak merugi.

Dari hal itulah, laki-laki kelahiran Batu, 24 Februari 1983 ini mulai mencoba berdiri sendiri dengan pengembangan pertanian hidroponik. Usaha itu ia lakukan sejak empat tahun lalu atau tahun 2015. Ia pun mengenal pertanian hidroponik dari youtube.

"Saat itulah saya mulai tertarik dalam pertanian hidroponik. Padalah dulu sempat bertani apel mulai tahun 2010 membantu sang ayah. Tapi hasil tidak maksimal karena minder dengan lulusan yang hanya SMP dan sulit mendapat informasi dari teman petani," kenangnya.

Akhirnya tahun 2015 ia mulai pindah ke pertanian paprika dengan sistem hidroponik. Dari situ pula ia merasakan bahwa pertanian itu tak harus punya lahan luas, kotor, atau panas-panasan.

"Dari situ saya mulai pertanian hidroponik," imbuhnya.

Berjalannya waktu, permasalahan mulai muncul. Yakni sistem hidroponik hanya sepintas saja. Pasalnya banyak orang berpikir pada nilai jual tinggi. Tapi tidak melihat pasar. Sehingga bingung untuk menjual. Karena kalah harga dengan pertanian konvensional yang mayoritas mengunakan pupuk kimia.

Ia mencontohkan, misalnya untuk sayuran Lolorosa atau Selada Merah. Orang menanam menjual di pasar tradisioanal. Jelas tak akan laku. Karena peminat adalah resto dan supermarket.

"Dari situ pula daya akhirnya mulai kenalkan dan menjual sistem, melakukan pendampingan, dan pemasaran bagi pemula. Kecuali sistem hidroponik skala besar. Untuk penjualan mudah," terangnya.

Lebih lanjut, dengan mengajak warga sekitar yang memproduksi skala kecil. Ia menginisiasi melalui plasma atau petani hidroponik skala kecil untuk berjejaring. Sehingga mampu bersaing dengan skala industri.

Menariknya, pertanian hidroponik, bis memanfaatkan lahan yang ada. Mulai dari lorong rumah, atap rumah, dan halaman rumah. Dengan cara vertikal garden atau bertani ke atas.

Begitu juga dengan segmen yang ditembaknya. Ia mengajak dua segmen. Pertama anak-anak muda, agar bertani yang modern atau dikenal dengan urban farming. Dengan mengubah mindset bahwa produk pertanian adalah kebutuhan.

"Kita tanamkan mindset agar anak muda bahwa pertanian adalah kebutuhan. Serta jangan sampai produk pertanian sampai import," tegasnya.

Kedua, Puji ingin mengajak orang perkotaan untuk berdikari di kaki sendiri dengan pertanian hidroponik. Alasannya ketika sewaktu-waktu terjadi krisis, masyarakat perkotaan tak perlu takut kehabisan bahan pangan dari desa.

"Untuk itu saya juga manfaatkan media sosial seperti youtube dalam mengenalkan pertanian hidroponik. Yakni dengan membuat konten Lancar Hidroponik Batu," tutur laki-laki lulusan SMP Arjuno Kota Batu ini.

Dalam konten yang ia buat, sudah ada ratusan subscriber dan puluhan konten video yang berisi cara bertani hidroponik, perawantan, hingga panen pertanian hidroponik. Serta manfaat bagi kesehatan dan nilai jual pertanian hidroponik yang juga masuk dalam pertanian organik.

"Dari konten yang saya punya itu, saya tunjukkan bahwa pertanian hidroponik bersih dan mudah. Lebih dari itu, setidaknya dengan bertani, produknya tak harus dijual. Tapi bisa jadi kebutuhan keluarga," ayah dua anak ini.

Dari bertani di rumah, lanjut dia, selain dikonsumsi sendiri. Diungkapanya bisa mengajarkan anak-anak di lingkungan keluarga yang menggunakan urban farming untuk bertani.

Di sisi lain, apa yang tengah dilakoni laki-laki yang juga memiliki usaha di bidang pertanian dan konsultan pertanian ini, memang tidak mudah. Karena diungkapnya, tantangan bertani yang ia lakoni tidak ada penghargaan dari orang lain.

"Tantangannya terbesar adalah tidak ada penghargaan dari orang lain. Pasalnya orang tidak mau tahu apakah itu produk organik atau bukan. Beda dengan konvensional yang murah namun berbahaya karena tadi yang pernah saya bilang. Menggunakan bahan kimia," paparnya.

Tapi ia menegaskan, memang tidak bisa menarungkan produk organik dengan konvesional. Karena itu harus ada pasar khusus. Yakni dengan memasarkan melalui Sosmed.

"Jadi harus ada pasar khusus. Mulai dari sosial media hingga membuat aplikasi seperti sayur box. Melalui aplikasi ini kita bisa buat menjual sendiri produk pertanian dengan harga di bawah supermarket dengan kualitas bagus," ungkapnya.

Penjualan itu, dengan catatan untuk pasar dengan daerah mobilitas tinggi seperti perkotaan di Jakarta dan Surabaya. Dengan begitu petani akan dapat nilai jual lebih tinggi. Karena petani tak perlu melalui tengkulak.

Untuk penjualan melalui aplikasi juga tak semua produk bisa masuk. Tapi harus melihat kualitas produksi. Karena selama ini pertanian yang dikejar adalah kuantitas. Dengan begitu petani harus berpikir agar bertani kualitas.

"Agar bisa maksimal untuk bertani hidroponik kami juga buat koperasi Bolo Tani Makmur. Saat ini koperasi itu beranggotakan 29 orang warga Tulungrejo. Intinya misi saya mempermudah pertanian berkualitas dengan berbagai cara yang ada," paparnya.

Saat ini, ia tengah menanam pertanian hidroponik Lolorosa, Romane, Sweet Basil, Coklat Mint, Kale, dan Tomat Cery. Dengan seluruhnya ditanam di lahan yang di taman tidak luas. Hanya sekitar 400 meter persegi untuk hidroponik.

"Yang sebagian mengajak temen-temen muda untuk bertani hiroponik. Saat ini sudah tujuh lokasi yang produksi dengan luasan rata-rata 50 meter persegi tiap lokasi di lahan yang ada. Misal di halaman rumah, lorong-lorong rumah dengan vertikal garden, diatas atap rumah atau deck rumah," urainya. 

Puji mencontohkan, untuk pertanian Lorosa dengan pertanian organik ia mampu memanen lebih cepat. Yakni dengan waktu 35-40 hari dengan sistem hidroponik. Sedangkan untuk konvensional butuh waktu hingga 60 hari. Belum lagi bermasalah dengan hama dan pestisida kimia.

Untuk harga jual Selada Merah yang ia tanam per kilogram mampu dihargai Rp 15 ribu. Sementara untuk hasil pertanian konvensional harga bisa dibawah sistem hidroponik.(eri/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : eri
  • Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

GE Way

Tiket Pesawat Mahal, Danau Toba Kehilangan Turis

Air Putih Demi Metabolisme

VIDEO