trial_mode: on

KPK Gunakan Fakta Sidang untuk Jerat Tersangka Baru

  • 13-06-2019 / 14:43 WIB
  • Kategori:Nasional
KPK Gunakan Fakta Sidang untuk Jerat Tersangka Baru

MALANGPOSTONLINE.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mencermati fakta-fakta yang muncul dalam persidangan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Fakta persidangan itu akan menjadi bukti tambahan penyidik ​​untuk menjerat pihak lain yang terlibat dalam kasus tersebut, termasuk Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.

“Dalam pelaksanaan perkara di KPK itu, kami pasti melihat apa fakta yang muncul di sidang. Misalnya, terkonfirmasi dengan bukti-bukti yang lain dan ada kesesuaian dengan bukti yang lain, ”kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat menyetujui, Kamis (13/6).

Mantan peniliti Indonesia Corruption Watch (ICW) ini menilai, pihak KPK masih mengumpulkan fakta atau bukti kuat jika ingin menjerat Menag Lukman dalam kasus jual beli kepemilikan. Penyidik ​​masih harus menunggu fakta-fakta lain yang akan muncul dalam persidangan berikutnya.

“Proses persidangan masih berjalan Jadi kita simak dulu kita lihat fakta-fakta yang muncul di persidangan tersebut,” ucap Febri.

Febri mengatakan pihaknya tidak dapat mengandalkan satu pernyataan untuk menjerat seseorang sebagai tersangka. Lembaga antirasuah masih membutuhkan keterangan atau pengakuan terkait dengan peran Lukman dalam praktik kotor di Kemenag tersebut.

“Kita tidak bisa melihat sendiri, kami akan melihat kompilasi satu saksi bicara sesuatu akan kami lihat dengan saksi yang lain, apakah ada kesesuaian dan juga dengan bukti yang lain. Jadi mari kita simak bersama-sama fakta persidangan, ”tegas Febri.

Dalam persidangan mantan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jatim Haris Hasanudin yang digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta, Rabu (12/6) kemarin, Sekjen Kemenag Nur Kholis meminta bantuan pembuatan fiktif untuk proses pemilihan Haris Hasanudin.

Pada saat menerima nilai yang diperoleh Haris tidak mencukupi untuk memperoleh posisi tiga besar dalam proses pemilihan calon kepala kantor wilayah Kemenag Jawa Timur. “Saya memberikan nilai makalah lebih tinggi dari panitia,” ucap Nur Kholis

Dia berdalih meminta untuk meminta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk meloloskan Haris dalam seleksi tersebut.

Nur Kholis menyambut sudah, Lukman, bahwa nilai hasil seleksi Haris Hasanudin rendah dan tidak cukup untuk menampung tiga peserta seleksi besar. Akan tetapi Lukman tetap dipesan agar Haris diloloskan. "Perintah itu hanya untuk saya, karena saya Sekjen dan ketua panitia seleksi," tutur Nur Kholis.

Hal tak jauh berbeda disampaikan mantan Biro Kepegawaian Kemenag Ahmadi. Menurut dia, dirinya ikut menjelaskan kepada Lukman tentang nilai Haris yang tidak mencukupi.

“Peringkat 4 jadi peringkat 3 itu nominalnya tidak terlalu jauh. Panitia pelaksana yang melakukan perubahan soal itu. Tapi yang bisa diubah adalah nilai makalah, ”jelas Ahmadi.

Dalam kasus ini, Haris Hasanuddin dan Muhammad Muafaq Wirahadi telah menyuap mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Suap diberikan agar.

Rommy selaku penerima suap. Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP .

Muafaq Wirahadi dan Haris Hasanuddin selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. Muafaq juga dijerat juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, saksi lainnya Amin Nuryadi turut dihadirkan dalam sidang yang diduga suap mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy). Amin Nuryadi yang merupakan ajudan Rommy menerima tas dari Muwafaq saat akan berjalan menuju restoran guna makan pagi. Ketika itu dia tidak mengetahui isi dalam tas. Sebenarnya Amin tidak mengecek isi tas karena mengira itu adalah oleh-bukan uang.

“Setelah bertemu (dengan Muwafaq), bapak (Rommy) akan bertemu tamu berikutnya jika tidak salah dari Universitas Airlangga, karena sudah janjian sudah menunggu di resto saya ikuti (Romi), tiba-tiba Pak Muwafaq dan menerima saya (tas kertas) yang tidak tahu sesuatu itu apa, ”kata Amin saat bersaksi di persidangan pada Rabu (12/6).

"Lalu tas yang diberikan Pak muwafaq itu aku masukin tas biar jadi satu," kata Amin.

Sementara itu Abdul Rohim yang juga merupakan supupu Romi yang menerima bantuan Rp50 juta merupakan insiatif darinya dan Muwafaq. Romi menurutnya juga tidak mengetahui uang tersebut.

“Jangankan Pak Romi, kakak saya (Abdul Wahab) yang satu mobil saja tidak tahu (uang Rp 50 juta),” jelas Rohim dalam persidangan.

Rohim sendiri sebelumnya pernah memperkenalkan Muwaffaq dengan Rommy. Dia berharap, jika Muwafaq menjadi Kakanwil Kemenag Gresik akan bisa membantu Wahab yang saat ini menjadi Caleg untuk DPRD Gresik. (jpc/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : JPC
  • Fotografer : JPC

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI