Paguyuban Jeep Malang Raya Siap Gugat Monopoli Kuota Jeep Wisata Bromo

  • 13-06-2019 / 19:31 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Paguyuban Jeep Malang Raya Siap Gugat Monopoli Kuota Jeep Wisata Bromo GUGAT: Ketua DPC Peradi RBA Malang, Yayan Riyanto (kiri) dan Ketua Paguyuban Jeep Malang Raya, Idhamsyah Putra bakal menggugat TNBTS terkait monopoli jeep wisata Bromo.

MALANG- Ketidaktegasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) untuk menyelesaikan polemik operator Jeep Wisata Bromo akhirnya berbuntut masalah. Kemarin, Paguyuban Jeep Malang Raya berniat menggugat TNBTS terkait pembatasan kuota armada yang diperbolehkan melayani penumpang ke Bromo.

“Pembatasan kuota armada sejak 9 Mei lalu. Dari anggota kami berjumlah 94 jeep, hanya diperbolehkan 21 jeep saja yang naik ke Bromo. Tentu saja, seluruh anggota kami terkendala tidak dapat melayani penumpangnya. Sementara, paguyuban lain tidak ada pembatasan kuota,” kata Ketua Paguyuban Jeep Malang Raya, Idhamsyah Putra.

Dijelaskan dia, alasan pembatasan kuota itu, karena mereka dianggap bukan sebagai warga lokal yang dianggap lebih berhak melayani pengunjung Bromo. “Ada SK dari TNBTS yang isinya untuk mengangkut wisatawan ke Bromo, harus jeep dari paguyuban lokal. Itu alasannya keduanya,” terang dia.

Gesekan dengan paguyuban lokal ini, diakuinya sudah terjadi beberapa kali. Jeep anggota Paguyuban Malang Raya dihentikan oleh anggota paguyuban lokal di rest area Gubukklakah, Poncokusumo. “Mereka selalu menghitung jeep-jeep anggota kami yang sudah naik hingga mencapai 21 armada. Setelah itu, mereka menghentikan yang lain,” ujarnya.

Idham, panggilannya mengaku tiga bulan lalu sudah menghadap ke Kepala Balai Besar TNBTS, John Kennedy untuk meminta agar ada pengaturan jumlah armada jeep wisata Bromo agar tidak terjadi permasalahan di jalan. “Waktu itu, pak John sudah memberikan kuota kepada kami 100 jeep, sedangkan paguyuban lokal 600 jeep,” tegas dia.

“Kami ada rekamannya, pak John berkoordinasi dengan salah satu kepala seksinya untuk menyelesaikan itu. Tapi nyatanya sekarang, malah hanya mendapat kuota 21 jeep yang boleh melayani. Saya berusaha menghubungi, tapi malah kami dikatakan sudah tandatangan kesepakatan saat rapat koordinasi. Ini sangat merugikan anggota kami,” tutupnya.

Sementara itu, Yayan Riyanto, SH, MH mengaku DPC Peradi Rumah Bersama Advokat (RBA) Malang memback up permasalahan yang dihadapi paguyuban jeep Malang Raya. “Kami mendapat kuasa untuk menyelesaikan permasalahan itu secara damai. Kalau seminggu tidak ada hasil, kami gugat kesepakatan rapat koordinasi yang seolah-olah tidak diketahui TNBTS,” katanya.

“Paguyuban lokal ada 900 jeep, sedangkan paguyuban Malang Raya hanya 94 jeep. Itu masih dibatasi. Monopoli itu namanya. Padahal mereka tidak pernah mengambil penumpang dari Tumpang. Mereka dapat penumpang wisata Bromo dari usahanya sendiri, seperti melalui online, komunitas, telepon dan sebagainya,” ucap Ketua DPC Peradi RBA Malang ini.

Kasus penghadangan jeep paguyuban Malang Raya tidak hanya sekali. “Tapi sudah berulangkali. Desember 2018 lalu, turun dari Bromo, dicegat. Sekarang dicegat lagi nggak boleh naik. Kalau ini diteruskan, wisatawan Bromo yang dirugikan. Bromo bukan masalah atau milik Tumpang atau Malang Raya. Ini masalah nasional,” ungkap dia.

Yayan, panggilannya menegaskan, akan melakukan jalur hukum untuk menyelesaikan permasalahan monopoli kuota jeep wisata ini, andai seminggu tidak terselesaikan. Sayangnya, John Kennedy enggan memberikan jawaban ketika dikonfirmasi perihal gesekan antara paguyuban jeep tersebut. Ia hanya membaca pesan WhatsApp yang dikirimkan ke nomor ponselnya. (mar)


  • Editor : mar
  • Uploader : irawan
  • Penulis : marga
  • Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI