trial_mode: on
PPDB

Siswa Sumberbrantas Menyerah ke Swasta

  • 21-06-2019 / 22:17 WIB
  • Kategori:Batu
Siswa Sumberbrantas Menyerah ke Swasta JAUH DARI SEKOLAH: Dengan nilai pas-pasan dan jarak yang jauh dari sekolah, Ica Nurcahyani dari Dusun Jurang Kuali Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji terpaksa bersekolah ke swasta.

BATU– Ica Nurcahyani, salah satu siswa dari Desa Sumberbrantas Kota Batu, terpaksa melanjutkan ke SMA swasta. Gadis lulusan SMPN 5 Sumberbrantas, masuk zonasi di irisan Kabupaten Mojokerto. Lacur baginya, dengan sistem zonasi, ia juga pasti tak diterima pada tiga SMA Negeri di Kota Batu.

Ica sapaan akrabnya, mengaku tidak bisa masuk di SMAN terdekat dari rumahnya. Yakni SMAN 3 Batu. Pasalnya jarak rumah dengan sekolahnya sesuai dengan google map 6.964 meter atau 6,9 kilometer.

Ica, sapaan akrabnya, dalam PPDB Jalur zonasi menentukan pilihan pertamanya adalah SMAN 3 Batu. Karena dari dua SMAN lainnya di Kota Batu. Yakni SMAN 2 dan 3 Batu. Serta dua pilihan dalam zona irisan SMAN 1 Pacet dan SMAN 1 Gondang, tak mungkin dipilihnya karena jauh. Jarak dari desa Sumberbrantas  ke SMAN 1 Gondang 26 km dan  ke SMAN 1 Pacet 21 km.

"Pilihan pertama kemarin SMAN 3 Batu dengan jarak 6.964 meter. Sedangkan pilihan kedua di SMAN 1 Batu dengan jarak 11.926 meter," paparnya.

Saat dirinya mendaftar di SMAN 3 Batu juga sempat diberi tahu oleh petugas jika jarak terjauh sementara yang diterima di SMAN 3 Batu 1.800 meter. Artinya ia sudah pasti tak diterima dalam jalur zonasi di pemeringkatan zona.

Ica mengungkapkan, untuk pemeringkatan UN juga tidak masuk tidak masuk. Karena jumlah UN yang ia dapat adalah 188,50 atau rata-rata 47 tiap mapel yang diujikan. Karena tidak masuk ke SMAN, ia memilih untuk SMA Swasta. Yakni di SMA Muhammadiyah 8 atau ke SMA Hasyim Asyari Kota Batu.

Kebanyakan dari kakak tingkat dan teman-teman lulusan SMPN 5 Batu yang mendaftar ke SMA atau SMK negeri dan tidak terima bersekolah di swasta. Baik di wilayah Kota Batu, Kota Malang seperti SMK PGRI 3 Tlogomas.

Sedangkan saat ditanya apakah dirinya kenapa tak memilih di zona irisan? Yakni SMAN 1 Pacet dan SMAN 1 Gondang. Ia bilang terlalu jauh dan tidak mungkin diambil. Begitu juga dengan teman-temannya yang diungkapnya, tidak ada yang bersekolah di Kabupaten Mojokerto dan lebih memilih sekolah swasta.

Ia sendiri, sebenarnya menentukan pilihannya di sekolah negeri karena biaya yang murah ketimbang swasta. Sehingga mampu meringankan beban orang tua. Dari pengalamannya tersebut ia memohon agar pemerintah membangun SMA Negeri di Desa Sumberbrantas. Sehingga lulusan SMP dari wilayah tersebut tak perlu jauh-jauh mencari sekolah. Apalagi SMA swasta juga tak ada di wilayah tersebut.

Dengan adanya permasalahan tersebut juga dikeluhkan oleh ayah Ica. Yakni Tukidi yang berharap dan meminta tolong agar di Desa Sumberbrantas ada SMA atau SMK negeri. Mengingat selama ini banyak dari siswa Sumberbrantas yang harus sekolah jauh.

"Saya minta tolong, agar di desa kami ada sekolah SMA/SMK Negeri. Karena selama ini anak-anak harus sekolah jauh ke pusat kota. Belum transport dan sangu (uang saku, Red). Kalau seperti ini kan kasihan masyarakat kecil. Kalau orang tua mampu gak masalah. Kalau tidak mampu bisa-bisa ya gak sekolah," urainya dengan memohon.

Karena itu, ia benar-benar berharap ada sekolah. Ia meminta agar pemerintah mempertimbangkan secepatnya. "Bagaimana Sumberbrantas majunya kalau seperti ini," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 3 Kota Batu, Anto Dwi Cahyono mengakui bahwa jalur irisan, memang bermasalahnya. Untuk SMAN 3 Batu yang berada di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menjadi irisan siswa dari Kabupaten Mojokerto.

Sehingga ketika calon peserta didik dari wilayah Kecamatan Bumiaji mendaftar akan ada lima pilihan sekolah. Yakni SMAN 1, 2, dan 3 untuk zona Batu dan dua sekolah jalur irisan dari Kabupaten Mojokerto di SMAN 1 Pacet dan SMAN 1 Gondang.

"Terkait irisan tersebut sudah saya laporakan sebelumnya ke Cabang Dinas Provinsi. Katanya masih dalam tindak lanjut oleh operator di Provinsi. Mengingat tidak mungkin warga Kecamatan Bumiaji, khususnya di Desa Sumberbrantas sekolah di Pacet atau di Gondang karena terlalu jauh jaraknya," beber Anto sapaan akrabnya.

Tak hanya itu, iapun juga meminta ke Cabang Dinas Provinsi untuk memasukkan Kecamatan Dau dan Karangploso dalam zona irisan di Karangploso. Karena menurutnya lebih dekat dua kecamatan itu dari pada sekolah di Kabupaten Mojokerto.

Sedangkan untuk nasib calon peserta dari wilayah terjauh Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji yang berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto yang mendaftar di SMAN 3 Kota Batu bisa dipastikan tidak masuk. Khusus jalur pemeringkatan zonasi. Karena peserta terakhir di SMAN 3 yang masuk dalam pemeringkatan berjarak 1.426 meter antara rumah dengan sekolah atas nama Nafakhatus Sakhariyah dari SMP Raden Fatah Batu.

Diketahui jarak Desa Sumberbrantas dengan SMA negeri terdekat atau SMAN 3 Batu sekitar 5-7 Km. Artinya hampir semua calon peserta yang rumahnya di Desa Sumberbrantas sesai KK tidak bisa terakomodir di SMAN 3 Batu. Kecuali bagi mereka yang punya nilai UN tinggi dan berprestasi.

"Kok calon peserta didik dari Desa Sumberbrantas. Yang satu desa dengan jarak 1,9 km tidak bisa masuk. Namun sekali lagi kami tidak bisa apa-apa karena hanya ikut aturan," tegasnya.

Lebih lanjut, Anto menambahkan, ia meminta perubahan daerah irisan untuk Dau dan Karangploso karena dua daerah itu tak punya SMA Negeri. Sehingga peserta dari dua wilayah itu harus memilih ke SMAN 1 Lawang dan SMAN 1 Singosari yang juga memiliki jarak sangat jauh dari Dau dan Karangploso.

Terkait perubahan aturan jumlah kuota jalur zonasi, kata Anto ada beberapa calon peserta didik yang awalnya masuk dalam pemeringkatan zona menghilang. Sebaliknya dalam pemeringkatan UN ada penambahan calon peserta didik.

Ada perubahan aturan untuk sistem zonasi. Sehingga membuat beberapa calon siswa terdepak dalam pemeringkatan zona dan bertambahnya calon siswa di pemeringkatan UN.

"Terkait perubahan aturan kami belum mendapat sosialisasi dari Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Yang jelas memang ada pengurangan dan penambahan di jalur zonasi," ujar Anto.

Ia menjelaskan, dalam sistem zonasi ini banyak wali murid yang bertanya-tanya. Bahkan sebagai pihak penyelenggara, sekolah negeri atau pihaknya banyak disalahkan wali murid karena aturan yang berubah-ubah ini.

Padahal, lanjut dia, sekolah hanya memfasilitasi pelaksanaan PPDB sesuai dengan Permendikbud 51/2018. Yakni, 5 persen perpindahan tugas orang tua, 5 persen prestasi, dan 90 persen zonasi.

Untuk yang 90 persen zonasi tersebut dimodifikasi dalam tiga jalur. Yaitu kuota 50 persen berdasar jarak terdekat rumah calon peserta didik dengan sekolah, 20 persen nilai ujian nasional tinggi, dan 20 persen dari keluarga tidak mampu, termasuk didalamnya keluarga buruh.

"Misalnya saja, untuk jalur zonasi di pemeringkatan zona kemarin (Kams.red) kuotanya ada 84 siswa menjadi 62 siswa. Sedangkan untuk pemeringkatan UN dari pagu 25 siswa menjadi 47 per tadi malam dari total pagu jalur zonasi 109 pagu. Ini bisa jadi masih sementara dan belum final," urainya.(eri/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : abdi
  • Penulis : eri
  • Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI