Lawan Askar, Ratusan Petani Wonorejo Lawang Geruduk PN Surabaya

  • 24-06-2019 / 08:12 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Lawan Askar, Ratusan Petani Wonorejo Lawang Geruduk PN Surabaya BERANGKAT: Warga Desa Wonorejo, Lawang siap berangkat menghadiri mediasi gugatan perlawanan bersama Sumardhan, kuasa hukumnya (tiga dari kiri).

LAWANG - Senin (24/6) pagi ini, sekitar 117 orang warga Desa Wonorejo, Lawang, Kabupaten Malang mendatangi PN Surabaya, Jalan Arjuno Surabaya. Warga mengajukan gugatan perlawanan karena tanah yang mereka garap, hendak dieksekusi oleh Muhammad Askar, 52, warga Jalan Sukodami III, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kelurahan Mulyorejo, Surabaya.

“Mereka disuruh hadir di Pengadilan Negeri Surabaya dalam acara mediasi. Kami sudah menyiapkan dua bus untuk mengangkut para petani. Tentang eksekusi, kami sudah mengajaukan gugatan perlawanan dengan nomor perkara 322/Pdt.Bth/2019/PN. Sby,” ungkap Sumardhan, SH, kuasa hukum para petani tersebut kepada malangpostonline.com, beberapa menit lalu.

Ia menegaskan akan membuktikan eksekusi yang dimintakan Muhammad Askar tidak melalui proses yang benar. “Gugatan perlawanannya sudah diajukan dua bulan lalu dan sekarang masuk tahap mediasi. Kami all out untuk melawan karena penetapan PN Surabaya tanggal 7 Februari 2017 tentang eksekusi itu adalah cacat hukum,” ungkap advokat senor di Malang itu.

“Warga tidak pernah dimasukkan menjadi subjek hukum dalam perkara ini. Padahal mereka yang menguasai dan menggarap lahan itu sejak tahun 1960-an,” terangnya. Warga, lanjutnya, bahkan sudah hearing dengan DPRD Kabupaten Malang, dan mengajukan surat ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk menjelaskan jika tanah yang ditanami polowijo tersebut merupakan tanah negara

Pernah diberitakan, warga Desa Wonorejo, Lawang meradang. Gara-garanya, puluhan hektar lahan garapan yang ditanami polowijo, tiba-tiba hendak dieksekusi Askar. Eksekusi itu, ditetapkan PN Surabaya karena Askar mengatakan sebagai pemiliknya setelah membeli dari Renny De Kock, warga Makassar, yang mengaku cucu dari Elias Burhard Theodore, pemilik kebun teh zaman Belanda

Elias Burhard Theodore memang menguasai tanah tersebut  sebelum adanya Undang- Undang RI No 1 Tahun 1958 tentang penghapusan tanah partikelir. Setelah ditelusuri, Renny De Kock menguasai lahan itu hanya berdasar verponding yang ia miliki. Setelah adanya UU RI No 1 Tahun 1958 tentang penghapusan tanah partikel, maka hak tersebut tidak berlaku. 

Mardhan, panggilan pengacara ini, jika Askar melakukan pembelian tanah dari Reni, tanggal 25 November 2015 dengan AJB No 16 dan Akta Kuasa No 17,  dianggap merupakan perbuatan melawan hukum karena tanah tersebut bukan milik Reni sehingga hukum jual beli  dengan Askar adalah cacat hukum. 

Begitu juga dengan putusan hakim PN Surabaya nomor 1003/Pdt.G/2016/PN.Sby tanggal 7 Februari 2017 adalah tidak sah. “Akta jual beli dan akta kuasa jualnya adalah tidak didasarkan pada suatu perjanjian yang benar karena tanah yang diperjualbelikan bukan milik Reni, melainkan tanah milik negara. Saya dan warga berharap pengadilan membatalkan eksekusi itu,” tutupnya. (mar)

Editor : mar
Uploader : irawan
Penulis : marga
Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU