Riska Kuarti Handayani, Pelestari Seni Batik Lukis

Beri Pelatihan Gratis Warga Tak Mampu Agar Berdikari

  • 26-06-2019 / 22:41 WIB
  • Kategori:Malang, Kabupaten
Beri Pelatihan Gratis Warga Tak Mampu Agar Berdikari BUTUH KETELATENAN: Riska Kuarti Handayani memoles kain untuk bahan batik lukis, hasilnya berbentuk kain yang bisa juga dijadikan baju.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Prinsip itulah yang dipegang oleh Riska Kuarti Handayani. Ibu satu anak ini memiliki keahlian membuat batik lukis. Namun dia tak mau menyimpan sendiri keahlian itu. Riska sapaan akrabnya, membaginya kepada orang lain lewat pelatihan gratis untuk keluarga tidak mampu.

"Ilmu kan tidak harus disimpan, tapi lebih baik dibagi, agar tidak hilang, dan bermanfaat juga bagi yang menerima,"  katanya mengawali cerita.

Riska pun mengaku bangga, karena banyak warga yang ikut pelatihan membuat batik lukis, kini sudah berdikari dan memiliki usaha sendiri.  Malang Post berbincang dengan wanita yang juga memiliki tugas sebagai pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Pakis, wilayah Desa Bunut Wetan dan Desa Saptorenggo ini.

Ia mengaku jika menekuni dunia batik lukis sejak kecil. Awalnya  tahun 1992 lalu, saat dia duduk di bangku SMP. Di mana saat itu, salah satu ekstrakurikuler yang diajarkan adalah seni menjahit. Riska sangat tekun belajar, karena dia senang, dan mempelajari seni menjahit dengan serius.

Tapi demikian di usianya yang masih sangat muda yaitu 15 tahun, wanita yang pernah sekolah di SMPN 1 Kota Malang ini tidak mudah puas. Dia ingin mempelajari yang lain, yaitu melukis.

"Kebetulan saya juga suka melukis. Jadi saat itu terpikir melukis di kain panjang, untuk kemudian menjadi bahan pakaian, seperti batik begitu,’’ tambahnya.

Tak lama ide itu muncul, alumni SMKN 8 Surabaya inipun langsung mencoba. Membeli kain panjang warna putih, ibu dari Ariq Kristi Vidianto inipun mulai melukis. Motif bunga-bunga dipilih saat itu.

Sekalipun bukan hal mudah, namun Riska sangat bersemangat. Hingga akhirnya, kain putih sepanjang 2,5 meter itu telah dilukis sesuai keinginannya. Setelah dilukis, melanjutkan dengan pewarnaan.

”Prosesnya sama persis dengan batik sebetulnya, hanya motifnya saja yang berbeda,’’ ungkapnya.

Bahan itupun kemudian dijahit menjadi baju. Hasilnya, cukup mengejutkan, banyak orang yang memberikan pujian. ”Kalau jahitannya ya seperti itu, maksudnya karena belum ahli betul tapi juga ya tidak mengecewakan,’’ tambah wanita berjilbab ini.

Dari situlah rasa ingin belajar Riska semakin besar. Terbukti, setelah lulus SMP, dia memiliki SMKN Surabaya sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Dan di sekolah ini, wanita kelahiran 30 Oktober ini mengembangkan bakat. Dia terus melukis dan berkarya. Bahkan, meskipun saat itu masih duduk di bangku sekolah,  beberapa kali dia menerima pesanan untuk kain batik lukis. Riska menerima itu dengan senang hati.

Saat kuliah ia memilih Fakultas Teknik, Jurusan Tata Busana (Fashion Design) Universitas Negeri Jakarta. Di sini tak sekadar mengembangkan bakatnya melukis batik, tapi juga membuat design pakaian, serta tata cara mengajar.

”Mungkin karena passion saya di sini ya, saya senang sekali menjalaninya,’’ akunya.

Selama 4,5 tahun kuliah, Riska pun lulus dengan IPK  3.43. Meskipun demikian, bukan berarti wanita berkulit putih ini berhenti sekolah. Dia semakin memantapkan ilmunya dengan sekolah desainer di Jakarta. Di sekolah desainer ini tidak sekadar mengandalkan bakat atau otodidak. Tapi, semua diajarkan. Dan perolehan ilmu itulah yang kemudian dia tularkan kepada masyarakat.

”Waktu kuliah, saya sudah banyak mendapat pesanan, baik itu kain ataupun souvenir. Sehingga begitu saya lulus kuliah, sembari mencari pekerjaan, saya juga mengamalkan ilmu yang saya miliki ini kepada masyarakat,’’ tambahnya.

Dia memulai memberikan pelatihan batik lukis di wilayah Jawa Barat, karena saat itu dia tinggal bersama orang tuanya di sana. Dia merangkul warga sekitar yang kurang mampu, untuk dilatih membuat batik tulis secara gratis. Pelatihan yang diberikan Riska ini direspons apik oleh warga. Terbukti, latihan yang digelar secara rutin satu kali dalam seminggu itu pesertanya terus bertambah.

”Awalnya saya buat pelatihan di rumah. Tapi karena pesertanya terus bertambah, saya bingung juga mencari tempat. Tapi Alhamdulillah, semua tetap berjalan,’’ kata istri dari Triyono Vidianto ini.

Riska sendiri tak sekadar membuat pelatihan. Tapi dia juga membuat program, targetnya adalah, peserta mampu berdikari. ”Saya ajarkan sampai mereka bisa. Sehingga begitu bisa mereka bisa berkarya. Dengan begitu, warga ini memiliki pekerjaan dan memiliki penghasilan,’’ ungkapnya.

Kegigihannya membuat pelatihan batik lukis kepada masyarakat saat itu dilirik oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Yang kemudian mengajak Riska untuk bekerjasama. Riska mau saat itu. Dengan menerima ajakan tersebut, dia berpikir ilmunya bisa diajarkan kepada banyak orang lagi.

”Meskipun sibuk memberikan pelatihan, tapi saya tetap berkarya. Bahkan saat di Jawa Barat waktu itu, karya saya sudah masuk mall, dan cukup laku lho.,’’ kata peraih juara 1 Kewirausahaan Muda Inovatif, Piala Walikota Bandung tahun 1997 ini.

Tahun 2005, Riska kemudian menikah, dan tinggal di Malang, untuk ikut suami. Meskipun pindah, tapi Riska tidak menghilangkan aktivitasnya. Itu terbukti, setelah tiga bulan pindah di Malang, dia pun memulai aktivitasnya kembali.

Dia mengumpulkan warga tidak mampu, untuk kemudian dilatih membuat batik lukis. Dia juga bersyukur, karena meskipun di tempat baru, tidak pernah mendapatkan kendala.

”Ya beberapa orang memang mencibir, tapi sudahlah saya tidak mau merisaukan cibiran itu. Yang penting, saya membantu dengan ikhlas,’’ tambahnya.

Aktivitas itupun dilakukan sampai sekarang. Bahkan terakhir, dia juga menggelar pelatihan gratis batik lukis di Cyber Mall, diikuti sekitar 100 peserta.

Seiring waktu, batik lukis dikenal di Malang. Itu terbukti, permintaan batik lukis terus bertambah.  Dan Riska sendiri tak mau sendirian berkarya. Dia juga merekrut beberapa warga yang ikut pelatihan untuk bekerja dengannya.

Sistem kerjanya berbeda dengan sistem kerja kantoran. Karena Riska menyediakan seluruh bahan, kemudian diserahkan kepada pekerjanya. Setelah batik lukis itu selesai, pekerja tersebut langsung mendapat imbalan.

”Dengan begitu warga yang saya rekrut juga tidak terikat. Mereka juga bisa menerima pesanan dari orang lain,’’ tambahnya.

Disinggung apakah usahanya tidak takut tersaingi? Dengan tegas Riska menggelengkan kepala. Dia mengatakan rejeki sudah ada yang mengatur. Sehingga dia tidak perlu takut. Terbukti, sampai dengan saat ini orderan batik lukis yang masuk kepadanya pun sama sekali tak berkurang, justru makin bertambah.

”Apalagi sekarang, saya juga didapuk pemerintah untuk menjadi pendamping PKH. Cita-cita saya satu, warga yang namanya masuk dalam daftar penerima PKH tersebut, pada waktu yang sudah ditentukan mereka sudah bisa berkarya. Mereka sudah memiliki pekerjaan, dan tidak lagi bergantung dengan orang lain,’’ urainya. Riska sendiri mengaku, meski menetap di wilayah Kabupaten Malang, tapi tidak tidak membatasi wilayah untuk memberikan pelatihan. Terbukti, dia juga memberikan pelatihan di wilayah Kota Malang dan Kota Batu. Bahkan, dia juga memberikan pelatihan di wilayah Kota dan Kabupaten Blitar serta beberapa wilayah di Jawa Timur.

Riska juga mengaku, dia terus mensosialisasikan batik lukis kepada khalayak luas. Apalagi dia juga kerap diajak Pemerintah Kabupaten Malang untuk ikut pameran, baik yang digelar di tingkat daerah Malang, provinsi maupun nasional. aat ini Riska berharap, batik lukis menjadi ikon Malang, dan menjadi benda yang wajib dibeli para wisatawan saat berkunjung di wilayah Malang.

”Jadi kalau ada wisatawan datang ke Malang, oleh-olehnya harus batik lukis. Dan sekarang batik lukis juga sudah banyak memproduksi, ya saya sangat bangga dengan itu. Meskipun bukan yang mengenalkan, tapi saya ikut mempopulerkan,’’ kata pemilik Galery Rumah Bunda Riska ini.(ira ravika/ary

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis : ira
Fotografer : ira

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU