Malang Raya Heritage

Kayutangan Koridor Paling Unik

  • 26-06-2019 / 22:45 WIB
  • Kategori:Malang, Kabupaten, Batu
Kayutangan Koridor  Paling Unik SPOT FAVORIT: Kawasan Kayutangan heritage memiliki banyak spot foto, benda-benda klasik yang dipajang di depan rumah warga selalu jadi spot favorit wisatawan.

 

MALANG-Semangat komunitas Malang Raya Heritage menciptakan reaksi berantai yang positif. Gayung bersambut. Semua pihak, dari berbagai unsur tertarik untuk ikut terlibat. Paling dekat menyambut event besar di Kayutangan sebagai koridor heritage paling unik.

Hal ini disampaikan Manajer Gerai Jatim Sarinah Wien Febi Damayanti kepada Malang Post, Rabu (26/6) kemarin. Ia yang sudah lama menjadi volunteer (relawan,red) cagar budaya Kota Malang, menyambut baik apa yang hendak diwujudkan Malang Raya Heritage.

“Pemilihan Kayutangan menjadi pusat kegiatan heritage nantinya pun sangat pas. Kebetulan saya pun ikut dalam pencetusan ide tersebut, saya pikir ini sangat pas karena sudah lama kita volunteer membuat kegiatan di koridor Kayutangan,” jelasnya.

Selama ini, lanjut Febi, para volunteer cagar budaya Kota Malang mengadakan berbagai kegiatan seperti workshop, diskusi hingga satu hari tur akan tetapi tetap belum memberikan efek besar. Itulah mengapa saat berdiskusi membentuk Komunitas Malang Raya Heritage, ia merasa wadah lebih besar terbentuk.

Dengan wadah lebih besar, yakni melibatkan banyak pihak pecinta heritage se Malang Raya, tentu kekuatan dan personel yang hendak bekerja bersama akan jauh lebih besar.

“Maka dengan adanya konsep Malang Raya Heritage terlebih Kayutangan akan dideklarasikan jadi ibu kota Malang Raya Heritage, kita sangat-sangat setuju,” tegasnya.

Kabar baik ini tidak ia simpan sendiri, rekan sesama kerja dan kolega yang memiliki pengaruh ia ajak pula. Seperti pengelola-pengelola gedung sekitar koridor Kayutangan selain Gedung Sarinah. Yakni Bank BNI, BI dan Hotel Pelangi pun menyambut baik dan hendak ikut bergabung dalam rencana besar Malang Raya Heritage dalam waktu dekat.

Hal ini menurut Febi menjadi efek berantai atau Chain Reaction warga dan komponen masyarakat lain, yang sebenarnya memiliki kepedulian akan heritage akan tetapi tidak tahu kemana menyalurkannya.

“Iya semua jadi pengen ikut. Semoga bisa lebih banyak lagi yang gabung. Rencana Agustus kita mau adakan festival heritage sebagai debut komunitas ini,” pungkasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Ir. Budi Fathony kepada Malang Post saat dimintai tanggapan. Menurut Budi, warisan heritage Kota Malang sangat beruntung memiliki pihak yang peduli dan berpikir kedepan untuk mengembangkan dan melestarikannya.

Dibentuknya Malang Raya Heritage benar-benar merupakan inisiatif warga dan publik di luar unsur pemerintah. Hal ini dianggapnya sangat positif.

“Disamping pemilik kebijakan yang memiliki wewenang mengatur. Pihak lain dari publik yang memiliki kemauan dan inisiatif mendukung. Ini akan menjadi kekuatan sangat besar bagi kelestarian budaya kita di Malang Raya,” tegas yang juga dosen Arsitektur ITN Malang ini.

Pria ramah ini menjelaskan kembali bahwa Malang Raya merupakan satu kesatuan sumber sejarah dan budaya yang terpendam. Malang memiliki warisan budaya dari ujung sampai ujung lainnya. Mulai dari Lawang di Kabupaten Malang, Kota Malang di Kayutangan hingga kawasan jejak kolonial lainnya di Kota Batu.

Disatukan, semuanya akan menjadi satu garis panjang jejak warisan sejarah, budaya, dan wisata yang kuat. Inilah potensi sebenarnya wisata heritage Malang Raya.

“Dan Kayutangan sendiri memiliki karakter yang sangat unik dan kuat. Dia tidak seperti koridor heritage lain di daerah lain di Indonesia. Kayutangan memiliki segalanya mulai dari sejarah, arsitektur bangunan yang masih terjaga, hingga eko-kulturalnya masih ada,” papar Budi.

Ia mengatakan kawasan Kayutangan pun mendapatkan perhatian tidak hanya dari dalam daerah saja, pihak kementrian pariwasata, pengamat-pengamat budaya dan arsitektur dari luar daerah pun kagum dengan koridor Kayutangan yang masih terjaga nilainya.

Tidak hanya dari nilai sejarah dan peninggalan arsitektur kunonya saja yang patut dikagumi, penduduk lokal asli Kayutangan pun masih ada disana.

“Kayutangan tidak seperti Braga (koridor cagar budaya di Bandung,red) karena di Braga tidak ada yang tinggal di sana tetapi perputaran ekonominya yang dikuatkan. Tapi Kayutangan beda, semuanya ada,” jelas pria yang juga ahli dalam bidang tata kota ini.

Belum lagi, unsur spiritual pun ada di sana. Karena kawasan Kayutangan memiliki Makam Kuno Mbah Honggo yang masih bisa dilihat dan dikunjungi hingga saat ini. Menurut Budi, dalam waktu dekat konsep lebih besar untuk mengembangkan kawasan ini akan diwujudkan.

Ia meyakinkan akan lebih banyak pihak dan unsur yang akan dilibatkan. Budi optimis satu langkah kecil ini dapat membentuk dampak lebih besar untuk meningkatkan kesadaran publik akan kekayaan warisan budaya Malang yang potensial.(ica/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : abdi
  • Penulis : ica
  • Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Korban Laka Plaosan Terlindas Setelah Masuk Kolong Truk

7 Varian Pizza dan Pasta Amerika-Eropa

Ritual Perkawinan Joko dan Sri Gondel di Kawisari

Jelang Hari Adhyaksa Diapresiasi Gubernur

Per Juli, Siswa SMA-SMK Tak Perlu Bayar SPP

Ma Chung Misi Jadi Kampus Praktikal

Marvel Umumkan Tanggal Tayang 'Black Widow' dan Fase 4 MCU

Harga Tiket Final Indonesia Open 2019