Iseng Mendaftar, Terkejut Saat Lolos Seleksi

  • 24-06-2018 / 22:27 WIB
  • Kategori:Malang
Iseng Mendaftar, Terkejut Saat Lolos Seleksi KESEMPATAN BERHARGA: Aries Dewi Andriani menyusuri Old Town di sela kegiatan belajar selama tiga minggu di San Diego, Amerika Serikat. (Aries Dewi Andriani for Malang Post)

Guru SMKN 2 Batu Aries Dewi Andriani S.Si S.Pd, tak pernah membayangkan bisa menginjakkan kakinya di Amerika Serikat. Kesempatan itu ia peroleh dari iseng-iseng mengikuti program High School Business Teacher Seminar di University of California, San Diego pada 16 April hingga 4 Mei lalu.

Selama tiga minggu berada di negara pimpinan Donald Trump itu, tidak hanya ilmu yang didapat, tetapi juga pengalaman menarik tentang berbagai hal saat menapaki jalanan Kota San Diego. “Sejak pertama kali menjejakkan kaki sampai pulang dari sana, tak hentinya saya bersyukur.

Karena sebelumnya tak pernah membayangkan bisa mendapat kesempatan untuk belajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Amerika. Sekaligus jalan-jalan untuk melihat perbedaan di negeri yang sibuk itu,” ujar Aries kepada Malang Post.

Lebih lanjut ia menceritakan, selama mengikuti program yang diadakan oleh Pemprov Jawa Timur tersebut, ia merasa sangat puas. Ia belajar dengan dosen-dosen yang profesional dan terbuka serta mendapatkan teman baru yang ramah dan menyenangkan.

Di luar dunia akademis, Aries mengungkapkan keberuntungannya bisa menapaki beberapa tempat. “Meski di beberapa tempat tersebut saya dan rekan-rekan tidak masuk dan hanya berfoto saja,” imbuhnya sembari tersenyum.

Alumni jurusan Fisika Murni dan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang ini mengungkapkan, keikutsertaanya dalam program itu bukan murni keinginannya. Ia awalnya bahkan tidak berniat untuk mendaftar. Namun dorongan dan dukungan dari teman-teman mengajar di sekolah lah yang membuatnya berani untuk mencoba. “Awalnya pesimis untuk ikut. Karena kelas yang membuka program adalah kelas bisnis, biologi, matematika dan bahasa Inggris. Sedang saya lulusan sarjana Fisika,” bebernya.

Tapi, lanjut dia, setelah terus didukung teman-temannya, Aries akhirnya mengirimkan semua persyaratan dan berkas yang diminta melalui pendaftaran online. Saat pengumuman ada 30 nama yang tercantum. Namanya ada dalam list. Saat itu ia melanjutkan tes tulis dengan beberapa materi yang di antaranya tes potensi akademik, Bahasa Inggris dan kemampuan bidang keahlian.

“Saya terkejut kembali, karena waktu keluar hasil seleksi saya mendapat rangking dua dari 15 guru SMA/SMK di seluruh Jatim yang lolos untuk kelas bisnis,” katannya semangat.

Di mana dari ratusan pendaftar, yang lolos tes untuk berangkat sebanyak 70 orang. Kelas bisnis dan biologi masing-masing 15 orang, lalu 20 orang untuk kelas matematika dan Bahasa Inggris juga 20 orang.

Selama tiga minggu San Diego, ibu dua anak ini bersama peserta lain mengikuti perkuliahan singkat, melakukan diskusi kecil sebelum dan sesudah perkuliahan. Setiap kelas hanya berisi 15 peserta. “Kami juga berkunjung ke beberapa SMA di sana untuk melihat cara pembelajaran,” tuturnya.

Dari apa yang diperolehnya itu, ia memaparkan pendidikan tingkat SMA di Amerika tidak ada yang namanya pendidikan vokasi (di Indonesia level SMK, red). Namun yang menarik, siswa SMA diarahkan sesuai dengan minat dan bakat ke jurusan tertentu. Contohnya, ada kelas biologi yang ingin jadi ilmuwan, kelas ekonomi hingga kelas fisika.

“Bedanya, setelah lulus SMA, baru ada yang namanya pendidikan vokasi. Jadi yang ingin punya keahlian dan tersertifikasi bisa melanjutkan ke jenjang tersebut selama 1,5 tahun,” papar guru yang saat ini menempuh S2 Jurusan Bisnis dan Manajemen UM ini. Pendidikan vokasi atau selevel college tersebut, lanjut Aries, juga bisa diikuti oleh mereka yang sudah kerja atau mahasiswa yang sedang menjalani kuliah.

Sebelum berangkat ke Amerika, ia dan para guru yang memang sudah memiliki kemampuan berbahasa Inggris tetap mendapatkan pembekalan bahasa selama sebulan, sehingga bahasa tak menjadi kendala berarti. “Intinya kita hanya perlu adaptasi dan konsentrasi saat dosen atau orang lain berbicara,” tegasnya.

Pengalaman menarik lain di samping kuliah adalah saat menyusuri jalan-jalan dan tempat publik di San Diego. Aries mendapati fasilitas umum yang ramah difabel dan orang tua. “Saya sangat berkesan dengan fasilitas umum yang memprioritaskan difabel dan orang tua. Ini berbeda dengan di negeri kita. Bahkan di transportasi umum, orang akan mendahulukan yang lebih tua untuk duduk,” bebernya.

Selain itu, saat berjalan di tempat umum atau berada di kantin kampus, masyarakat Amerika sangat ramah dengan menyapa orang-orang yang dianggap baru. “Saya di sana bersama teman-teman yang berhijab juga tidak mendapatkan diskriminasi atau pelecehan. Sehingga kami merasa nyaman,” kenang perempuan kelahiran Tulunggagung, 12 April 1982 ini.

 

Begitu juga dengan pelayanan transportasi umum. Karena dari rumah yang ditempatinya dengan kampus membutuhkan perjalanan selama satu jam, ia selalu memanfaatkan transportasi yang ada. Dan tidak pernah terlambat. Baik bus mupun kereta. Menurutnya, San Diego adalah kota yang menarik dan disiplin karena tidak ada keterlambatan jadwal transportasi.

Begitu juga saat terjadi kekerasan atau kecelakaan. Aparat keamanan hingga pemadam kebakaran tidak membutuhkan waktu lama untuk membereskan keruwetan yang terjadi. “Jadi ketika ada orang mabuk atau membuat keributan, orang yang merasa terganggu bisa langsung menghubungi pihak keamanan untuk segera ditindak lanjuti,” katanya.

Selama tiga minggu itulah ia merasakan banyak pengalaman baru di negeri yang banyak diketahui masyarakat Indonesia melalui layar kaca saja. Hal itu menjadi pengalaman berharga dan tak terlupakan baginya.

“Saya bersyukur atas kesempatan untuk belajar dan menimba ilmu di sana. Sekarang tinggal membaginya ke murid-murid saya,” pungkasnya. (eri/han)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : irawan
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU