Hakim Nyatakan Rizfan dan Ninik Bersalah Kuasai Kampus YPIM

  • 08-07-2019 / 21:03 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Hakim Nyatakan Rizfan dan Ninik Bersalah Kuasai Kampus YPIM LESU: Wajah Rizfan Abudaeri dan Ninik Damayanti lesu setelah dinyatakan tetap bersalah oleh majelis hakim PN Malang dan divonis masing-masing dua tahun enam bulan penjara.

MALANG- Majelis hakim PN Malang diketuai Djuanto SH, memutuskan Rizfan Abudaeri, SE, 45, bersalah karena menguasai kampus milik Yayasan Putera Indonesia Malang (PIM) di Jalan Barito 5 Malang. Ini dikatakannya dalam sidang putusan Senin (8/7) siang. Mantan Ketua II Urusan Keuangan dan Bendahara Yayasan PIM itu dianggap menguasai yayasan yang memiliki satu SMK dan dua akademi di bidang farmasi itu.

Hakim juga menegaskan, warga Jalan Simpang Bunga Krisan Malang itu tidak memiliki kewenangan untuk menduduki kantor dan lembaga pendidikan PIM karena sudah bukan lagi pengurus yayasan PIM. Hampir sama dengan Ninik Damayanti, S.Pd, 47, warga Perum Karanglo Indah Malang. Ia yang juga duduk di kursi pesakitan bersama mantan adik iparnya ini, dianggap bekerja sama menguasai yayasan PIM dengan cara melawan hukum. 

“Keduanya divonis dua tahun enam bulan,” tegas Djuanto yang memimpin persidangan. Rizfan dan Ninik juga terbukti merugikan keuangan Yayasan PIM sebesar Rp 6,6 miliar. Meski divonis lebih ringan dibandingkan tuntutannya, yakni empat tahun enam bulan, namun tetap saja wajah Rizfan dan Ninik tetap lesu. Keduanya juga terlihat murung dan sempat berkonsultasi dengan penasehat hukumnya, Martinus Panto, SH dan Frederico Kevin Jandu, SH.

Diberitakan sebelumnya, mereka dilaporkan Yayasan PIM karena dianggap menggelapkan uang yayasan yang memiliki SMK PIM, AKFAR PIM dan AKAFARMA PIM. Pengusaha salah satu showroom mobil di Malang itu dan Ninik, dilaporkan Mochamad Wahyudi, Ketua Umum Yayasan PIM   ke Ditreskrimum Polda Jatim, Januari 2018 lalu karena menggelapkan uang pemasukan pendaftaran siswa dan mahasiswa baru tahun 2017 lalu.

JPU Kejari Malang, Dimas Adji Wibowo, SH mengaku langsung melakukan upaya banding terhadap putusan hakim. “Dakwaan pertama tidak dipertimbangkan majelis hakim, makanya kami banding,” terangnya. Dalam dakwaan, Rizfan dan Ninik dianggap terbukti melanggar Pasal 374 junto 55 ayat 1 Jo Pasal 372 junto 55 ayat 1 Jo Pasal 167 junto 55 ayat 1 KUHP. “Dakwaan pertama yakni Pasal 374 itu yang tidak dipertimbangkan,” kata dia.

“Tidak sesuai dengan tuntutan kita. Masih dibawah 2/3. Dakwaan kedua, hakim menyebutkan terdakwa dua yakni Ninik sebagai bendahara. Jadi ada penggelapan dalam jabatan dan ada penggelapan bukan sebagai bendahara. Jadi ada dua waktu. Semua pertimbangan juga diambil alih oleh hakim. Termasuk kerugian. Kalau JPU kan totalnya Rp 7,7 miliar. Hakim salah menerapkan putusan sehingga kami banding,” urai Dimas.

Kuasa hukum YPIM, MS. Alhaidary, SH, MH mengaku tidak tahu pertimbangan hukum putusan. “Jadi saya tidak punya komentar. Lagipula, itu mutlak kewenangan hakim. Bagi yang tidak terima atas putusan itu, baik terdakwa maupun jaksa dapat menggunakan upaya hukum banding,” terangnya. Sedangkan Frederico, mengaku mengikuti proses hukum kliennya. “Kalau jaksa banding, kami akan kontra memori banding,” katanya singkat. (mar)

  • Editor : mar
  • Uploader : slatem
  • Penulis : marga
  • Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Ofo Bekas

Ritual Perkawinan Joko dan Sri Gondel di Kawisari

Galakkan Minum Teh

Acak Nomor Peserta, Cegah Praktik Joki Sistemik

MPLS SMPK Sanmar 2 Ditutup Dengan Inaugurasi

Sukses dengan Thor: Ragnarok, Waititi Kembali Garap Thor 4

Perang dan Intrik dalam Trailer Terbaru 'The King;s Man'