Tak Sanggup Menutupi Kesedihan, Baiq Nuril Menangis Ketika Bacakan Surat untuk Jokowi

  • 15-07-2019 / 16:25 WIB
  • Kategori:Nasional
Tak Sanggup Menutupi Kesedihan, Baiq Nuril Menangis Ketika Bacakan Surat untuk Jokowi Terpidana kasus pelanggaran UU ITE, Baiq Nuril tak bisa menutupi kesedihannya saat membacakan surat untuk Presiden Jokowi.

MALANGPOSTONLINE.COM - Terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Baiq Nuril tak bisa menutupi kesedihannya saat membacakan surat yang dibuat untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menyerahkan surat tersebut melalui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Baiq Nuril dihukum enam bulan penjara setelah Peninjauan Kembali (PK) dirinya ditolak Mahkamah Agung (MA). Ia divonis bersalah karena telah menyebarkan rekaman percakapan mesum yang dilakukan atasannya, Muslim.

Mantan tenaga honorer di SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terus memberikan dukungan dalam menghadapi kasus tersebut.

Dilansir dari CNN, "Dan ini saya bacakan surat, surat seorang anak kepada bapak," kata Baiq yang mencoba menahan tangis di Kantor Staf Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/7).

Di awal surat, Baiq memperkenalkan dirinya sebagai seorang lulusan SMA. Ia mengaku sebelum dipecat karena kasus ini dirinya merupakan tenaga honorer di sebuah SMA di Mataram. Ia mengatakan memiliki tiga orang anak dan suami yang bekerja di Gili Trawangan.

Baiq menyebut ketika dirinya terjerat kasus ini untuk menjalani proses persidangan dan harus ditahan selama dua bulan tiga hari, suaminya lah yang merawat ketiga anaknya itu. Menurutnya, sang suami juga mengalami nasib yang sama, kehilangan pekerjaan.

Baiq turut menceritakan kronologi kasusnya. Ia menyatakan kasus yang menimpa dirinya terjadi pada 2013. Baiq menyebut 'teror' yang dilakukan atasannya itu terjadi berulang kali, bukan hanya melalui pembicaraan telpon, tapi juga saat perjumpaan langsung.

"Saya dipanggil ke ruang kerjanya. Tentunya saya tidak perlu menceritakan secara detail kepada bapak, apa yang atasan saya katakan atau perlihatkan kepada saya," tuturnya.

Baiq yang mengenakan pakaian serba hitam itu menyatakan karena sudah tak tahan dengan perilaku yang diterima, dirinya lantas merekam percakapan atasannya itu melalui telepon. Ia mengaku tak memiliki niat sama sekali untuk menyebarkan rekaman percakapan tersebut.

Menurut Baiq, dirinya merekam percakapan tersebut karena untuk mengantisipasi jika suatu saat atasannya di SMAN 7 Mataram itu memaksanya melakukan hasrat bejatnya, maka ia akan mengatakan bahwa dirinya sudah merekam apa yang disampaikan selama ini.

Ia menyatakan barangkali salah satu kesalahannya, jika memang dianggap salah, adalah menceritakan rekaman percakapan tersebut kepada rekannya. Menurutnya, rekannya yang memiliki niat baik untuk membantu lantas menyerahkan rekaman itu karena DPRD Mataram.

"Bapak, apakah saya salah saat saya memberikan rekaman itu? Apakah kawan saya salah berupaya membantu saya 'lepas' dari 'teror cabul' atasan saya?" kata Baiq.

Mata Baiq mulai merah ketika membacakan isi suratnya kepada Jokowi itu. Ia berusaha menahan air matanya keluar. Baiq pun sesekali berhenti membaca untuk menghela napas. Ia kemudian kembali melanjutkan membaca suratnya.

Baiq menyampaikan bahwa pada 17 Maret 2015, dirinya kemudian dilaporkan karena telah menghina atasannya. Rekaman yang dirinya berikan kepada rekannya ternyata sudah tersebar di media sosial. Baiq pun harus menjalani proses hukum di Polres Mataram.

Selama dua tahun Baiq mengaku bolak-balik menjalani pemeriksaan di Polres Mataram. Ia mengaku baru ditetapkan sebagai tersangka pada 27 Maret 2017. Ia pun langsung ditahan ketika itu.

Kasusnya mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Mataram pada 4 Mei 2017. Baiq menyebut jaksa penuntut umum menyatakan dirinya telah melanggar Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Setelah menjalani sidang selama kurang lebih dua bulan, majelis hakim menyatakan Baiq tak bersalah.

Namun, kata Baiq, putusan Majelis Hakim PN Mataram tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA) pada 26 September 2018. Menurutnya, MA menyatakan mengabulkan kasasi yang diajukan oleh jaksa penuntut umum.

"Pada tanggal 4 Januari 2019, saya melalui Kuasa Hukum memutuskan untuk mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung. Tanggal 4 Juli 2019, Mahkamah Agung menyatakan menolak PK yang saya ajukan," tutur Baiq sambil tersedu-sedu.

Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid dan anggota DPR Rieke Diah Pitaloka berusaha menenangkan Baiq agar bisa kembali membacakan surat untuk Jokowi itu. Baiq pun mengusap air matanya yang menetes di pipi.

"Tapi, saya tidak akan pernah menyerah. Sekali lagi bagi saya perjuangan ini adalah perjuangan untuk menegakkan harkat martabat kemanusiaan di negara tercinta ini," kata Baiq menambahkan.

Baiq mengatakan dirinya hanya lulusan SMA. Ia menyebut pengalaman pahit selama kurang lebih enam tahun ini telah menjadi guru terbaiknya. Menurutnya, berbagai dukungan mengalir sejak kasusnya mencuat tanpa dirinya rencanakan atau pikirkan.

Baiq kembali menangis usai mengeluarkan kalimat tersebut. Ia berhenti bicara beberapa detik. Menghela napas kembali sembari mengusap pipinya. Ia tampak emosional. Mukanya pun memerah, berusaha untuk menahan tangis.

"Hal itu yang membuat saya semakin bertekad tidak akan pernah menyerah," ujar Baiq tersedu-sedu.

Baiq mengatakan yang dilakukan bersama kuasa hukum dan kawan-kawan lainnya bukan sekedar tentang dirinya pribadi. Ia memahami bahwa yang dilakukan ini bukan lagi perjuangan pribadi, yaitu sekedar untuk lolos dari jerat hukum yang tidak adil.

"Saya sebagai rakyat kecil sangat yakin, niat mulia bapak memberikan amnesti kepada saya didasari karena jiwa kepemimpinan napak yang menyadari keputusan amnesti tersebut merupakan bentuk kepentingan negara dalam melindungi dan menjaga harkat martabat rakyatnya sebagai manusia," tuturnya.

Baiq lantas menyampaikan bahwa dirinya dan suami telah memilih Jokowi pada Pilpres 2019 karena percaya kepada mantan wali kota Solo itu. Ia percaya Jokowi adalah pemimpin yang selalu berpijak pada konstitusi. Menurutnya, keputusan amnesti yang akan diambil Jokowi juga berdasarkan amnesti.

"Saya, Baiq Nuril Maknun sangat berterima kasih dan mendukung niat mulia Bapak Presiden Joko Widodo yang akan menggunakan hak prerogatif sebagai Presiden Republik Indonesia untuk menjalankan amanah konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 14 ayat (2), yaitu dengan memberikan amnesti kepada saya, Baiq Nuril Maknun," katanya. (fra/pmg/cnn/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : CNN
  • Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI