Versi Auditor, Thomas Bayar Kredit Mobil Anak Via Rekening CV MSA

  • 15-07-2019 / 19:39 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Versi Auditor, Thomas Bayar Kredit Mobil Anak Via Rekening CV MSA KESASIKAN: Ali Irfan, auditor dari kantor akuntan publik AG di Malang memberikan keterangan kepada majelis hakim.

MALANG- Lama kelamaan, Thomas Zacharias, 68, mantan Direktur Percetakan CV. Mitra Sejahtera Abadi (MSA) tidak dapat berkelit dari sanksi hukuman yang menantinya. Meski ia berusaha mati-matian agar tidak dinyatakan bersalah, namun saksi-saksi yang dihadirkan JPU Kejari Malang banyak memojokkannya. Seperti, saksi Ali Irfan, auditor dari kantor akuntan public AG di Malang.

Kepada Noor Ichwan Ichlas Ria Adha SH, ketua majelis hakim PN Malang yang memimpin persidangan mengatakan Thomas, tidak dapat menjelaskan uang Rp 712 jutaan yang dipakainya. “Kami diminta polisi untuk mengaudit tahun 2014. Ada sembilan rekening yang kami periksa. Hasilnya, ada angsuran mobil anak Thomas dikeluarkan secara auto debet dari salah satu rekening itu,” ungkapnya.

 

Baca Juga:

 

Selain itu, ada pula pembelian tiket pesawat ke Australia dan beberapa pengeluaran kecil lainnya. “Kalau Megawati, bisa menjelaskan penggunaan uang Rp 300 jutaan dengan nota-nota dan laporan lain,” lanjut dia. Sedangkan Thomas yang tinggal di Perum Bumi Mas Blok C1/17, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang tidak ada. “Ia mengaku ada bukti penggunaan uang Rp 712 jutaan itu, tapi tidak pernah ditunjukkan,” lanjut dia.  

Sedangkan saksi Dr. Lucky Endrawati, SH, MH,  dosen  Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang mengatakan Thomas sudah menyalahi kerja sama yang dilakukan dengan saksi pelapor Megawati Tjipto. “Perjanjian kerja dituangkan tertulis untuk hubungan kerja. Jadi ada penggelapan dalam hubungan kerja ini,” ungkap ahli pidana yang didatangkan JPU itu. Sementara itu, saksi yang diajukan Thomas, justru membingungkan.

Dalam sidang Senin (15/7) siang, tiga saksi a de charge (meringankan) diajukan penasehat hukumnya. Yakni Kusnan Hadi Raharjo, Ratnawati Condro dan Zainuri, mantan penyidik Satreskrim Polres Malang Kota (Makota) yang kini sudah pensiun. Ketiganya sama-sama nyaris tak berkutik ketika diminta menjawab berbagai pertanyaan yang cukup menohok oleh JPU Kejari Malang, Herianto SH. 

Seperti Kusnan. Ia tergagap-gagap ketika ditanya keterlibatannya dalam urusan buku berjudul Kidung. “Saya mendapat kuasa untuk meminta buku Kidung oleh Ardian, pengurus Yasperin, Jakarta,” katanya. Mendengar keterangannya, hakim dan jaksa juga balik bertanya. “Tapi ini surat kuasanya untuk penarikan mesin jahit buku oleh Yasperin. Bukan untuk menarik buku,” balas hakim Ichwan. 

“Saya berusaha memediasi agar permasalahan selesai. Saya juga lapor ke Yasperin kalau usaha saya gagal dengan membuat surat pernyataan,” kata Kusnan. Jawaban ini tidak memuaskan jaksa Herianto. “Lalu apa alasan saudara mengirimkan surat peringatan hingga tiga kali, padahal saudara sudah melaporkan gagal,” tanyanya. Satu-satunya saksi yang membantunya adalah Zainuri.

“Dulu perkara ini adalah limpahan dari penyidik lain. Dan hasilnya memang tidak ada kerugian dari kedua belah pihak,” katanya. Yang lebih lucu lagi keterangan saksi Ratnawati. Ia yang dua kali tidak hadir dalam pemanggilan sebagai saksi JPU, mengaku tidak sanggup untuk memeriksa keuangan. “Jadi saya tegaskan, saya bukan auditor. Saya hanya disuruh memeriksa. Saya tidak sanggup. Saya mendem (mabuk.red) baca laporan keuangan itu,” tegasnya. (mar)

Editor : mar
Uploader : slatem
Penulis : marga
Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU