Mengenal Cak Ud, Sang Pohon Bambu di Muhammadiyah dan NU

Belajar dari Tiga Tokoh Besar, Kagumi Keteguhan Khofifah Indar Parawansa

  • 16-07-2019 / 00:32 WIB
  • Kategori:Malang
Belajar dari Tiga Tokoh Besar, Kagumi Keteguhan Khofifah Indar Parawansa TERAMPIL BERORGANISASI: Prof. Dr. M. Mas'ud Said, M.M pernah menjabat Asisten Staf Khusus Presiden dan Staf Khusus Menteri Sosial, karir profesionalnya dari Muhammadiyah, dimensi sosial ia dapatkan dari Nahdlatul Ulama.

Perkembangan Islam di Indonesia tak terlepas dari peran Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sarat akan perbedaan, tapi menjadi simbol kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Prof. Dr. M. Mas'ud Said, M.M adalah produk dua organisasi besar itu. Ia seorang Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus tokoh berpengaruh NU.

 

Cak Ud, sapaan akrabnya, merupakan seorang ahli pemerintahan ternama yang sudah malang melintang secara akademis maupun secara praktis pemerintahan. Orang tuanya, yakni H. Ahmad Said (Alm) dan Hj. Nasuha (Almh), mengantarkannya aktif sebagai pemuda NU yang terampil dalam berorganisasi.

Tahun 1980 ia pernah didapuk sebagai Ketua IPNU Anak Cabang Tulangan Sidoarjo. Kemudian semasa kuliah di Malang, pria kelahiran Sidoarjo 55 tahun silam ini, juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum PC PMII Malang selama tiga periode hingga tahun 1991.

Suatu ketika pada tahun 1989, Cak Ud yang sudah dianggap sebagai seorang tokoh muda berpengaruh NU, justru ditugaskan untuk mengajar sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebelumnya, ia menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB). Ia meraih beasiswa Supersemar dan beasiswa tunjangan ikatan dinas dari Kementerian Pendidikan.

"Pemerintah yang menentukan saya dinas di mana, ternyata saya masuk list calon dosen kopertis wilayah VII dan ditempatkan di UMM," ungkap pria yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma).

Dihadapkan langsung pada Rektor UMM masa itu, yakni Prof. Dr. Abdul Malik Fadjar, Cak Ud kala itu ditanya apakah akan menerima tugas tersebut atau justru minta dipindahkan ke tempat lain. Namun, ia memilih untuk mengemban tugas yang diamanahkan oleh pemerintah.

"Ketika itu Prof. Malik Fadjar mengetahui kalau saya Ketua Umum PMII Kota Malang dan masuk nominasi Wakil Ketua Cabang NU Kota Malang. Tapi beliau meyakinkan saya dan justru langsung menempatkan saya pada posisi Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan di UMM," lanjut ayah empat anak ini.

Terdapat tiga dosen utusan pemerintah yang kala itu yang ditunjuk untuk mengajar di UMM. Pertama ialah Surya Anoraga yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua BEM dan Muhammad Najih yang merupakan Ketua HMI Kota Malang. Cak Ud menyampaikan pendapatnya, bahwa Prof. Malik Fadjar ketika itu terlihat berniat menciptakan nuansa mozaik keberagaman di UMM.

"Nuansa tersebut berhasil diwujudkan, menyusul langkah KH. Hasyim Muzadi yang mengkuliahkan putrinya di UMM. Kala itu UMM memang sedang berkembang," katanya.

Berbicara tentang sosok KH. Hasyim Muzadi, Cak Ud punya kesan tersendiri. Mantan Ketua PBNU tersebut, merupakan guru yang selalu memberikannya motivasi untuk mengesampingkan kepentingan pribadi dan selalu semangat memberikan kontribusi positif terhadap umat.

"KH Hasyim Muzadi mengajarkan saya bagaimana itu kemaslahatan yang universal, intinya selalu memberikan yang terbaik kepada umat. Dulu saking dekatnya, saya dijuluki orangnya beliau yang dikirim ke UMM," ungkap suami dari Hj. Faiqotul Himmah ini.

Selain KH Hasyim Muzadi, sosok yang memberikan pengaruh besar terhadap hidupnya adalah KH Tholchah Hasan. Sang Kiai ini, beberapa kali juga ia tulis sebagai sumber inspirasi dalam sejumlah tulisannya. Kemudian juga sosok Prof. Malik Fadjar yang  mendorongnya menjadi sosok akademisi berpengaruh tanpa mengindahkan perbedaan yang dianut.

Tak hanya itu, Cak Ud juga sempat menyebutkan bahwa ia sangat terinspirasi dari kiprah Khofifah Indar Parawansa di dunia politik praktis yang mencerminkan ketangguhan dari perempuan Islam di era ini.

"Saya pribadi sebagai pria menganggapnya sebagai sosok teladan dan perempuan yang tangguh," ungkap pria yang juga sudah menulis tujuh buah judul buku ini.

Lebih lanjut, karir Cak Ud di UMM semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu, dari Sekretaris Jurusan ke Kepala Pusat Penelitian, kemudian menjadi Pembantu Dekan I FISIP sambil menempuh studi S2 yang juga ia tempuh di UMM. Namun selama meniti karir di UMM, Cak Ud juga tetap aktif pada kegiatan-kegiatan NU. Salah satunya menjadi Ketua Panitia Hari Jadi NU Kota Malang.

"Secara profesional saya di Muhammadiyah, dan secara sosial saya di NU, dan semua berjalan normal," ujar pria yang juga dikenal sebagai salah satu pembina LAZIS Sabilillah Malang ini.

Sepanjang karirnya sebagai dosen di UMM, ia mengisahkan bahwa perbedaan paham yang ia anut sama sekali tak mengganggu kinerja maupun hubungan dengan rekan-rekan koleganya. Ia tetap fokus meniti karirnya sebagai akademisi di UMM, yang diimbangi dengan aktivitas organisasi di lingkup NU.

Kemudian hingga tahun 2001, ia mendapat beasiswa S3 dari AusAid dan menempuh pendidikan selama lima tahun di School of Political and International Studies, Flinders University,  Adelaide, Australia. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 2007, ia diusulkan sebagai Guru Besar di UMM. Hingga akhirnya, pada 2009, tepat pada usianya yang ke 46, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Pemerintahan lulusan luar negeri pertama di UMM.

Menariknya, pada hari ia dikukuhkan sebagai Guru Besar kala itu dilaksanakan di Dome UMM. Ketika itu dihadiri oleh setidaknya seribu orang yang terdiri dari kalangan Muhammadiyah, NU dan kalangan birokrasi umum.

"Yang hadir ketika itu, 500 dari NU, 400 dari Muhammadiyah. Sisanya tokoh-tokoh birokrasi nasional," terang pria yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua IKANU ini.

Ia menambahkan, bahwa ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar, ia mendapatkan sambutan dari Pimpinan Wilayah Jatim Muhammadiyah ketika itu yakni Nurcholis Huda yang menyebutnya sebagai pohon bambu. Memiliki akar yang kuat menghujam namun bisa menjulang tinggi tanpa mengganggu sekitarnya.

Kemudian juga Prof. Lincolin Arsyad yang ketika itu mengapresiasi UMM, karena telah mampu membesarkan sosok yang memiliki perbedaan paham seperti Cak Ud. Momen pengukuhan Guru Besar Cak Ud, ketika itu menjadi sejarah bahwa Muhammadiyah dan NU merupakan organisasi Islam yang mampu berjalan seiring dengan menjunjung kerukunan.

Tahun 2011, Cak Ud dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah di Sekretariat Kabinet RI hingga tahun 2014. Berlanjut pada 2015, Cak Ud dipercaya menjadi Staf Khusus Menteri Sosial RI Bidang Pengembangan SDM dan Program Kementerian, yang fokus untuk membantu program pengentasan kemiskinan.

"Sepanjang perjalanan karir itu semua berkesan, dan semua bisa diambil hikmahnya. Saya pribadi hanya fokus bagaimana memberikan kontribusi yang terbaik," kata ayah empat anak ini.

Sementara itu, Cak Ud pernah tercatat menjabat berbagai posisi keorganisasian mulai dari anggota Dewan Penasehat PC Ansor Kota Malang dan Kabupaten Malang, Penasehat PC Ansor Kota Batu. Selain itu, hingga saat ini Cak Ud menjabat sebagai Dewan Penasehat PW LAZISNU Jawa Timur, dan juga Ketua Dewan Ahli PC ISNU Kota Malang.

Dengan berbagai posisi jabatan yang ia duduki saat ini, Cak Ud ternyata merupakan sosok 'family man' yang pandai membagi waktu dengan keluarga. Ayah dari Himmah Isalura Mas'udi, Ayasha Dheiba Mas'udi, Muh. Atallah Mas'udi, dan Aidan Ramadhan Mas'udi ini mengungkapkan bahwa dirinya merasa tenang jika tetap bisa dekat dengan keluarga.

"Kedekatan dengan keluarga tidak ternilai harganya, My family is number one," ujarnya.

Belum lama ini, berhembus kabar terkait adanya usulan terhadap Muhammadiyah dan NU agar masuk dalam nominasi penerima Nobel Perdamaian atas kontribusinya dalam dalam menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Cak Ud menyampaikan bahwa usulan tersebut sangat tepat, apalagi terkait dengan kesalahpahaman tentang Islam yang sejauh ini bisa dibantah oleh Muhammadiyah dan NU.

"Saya menjadi saksi dari kontribusi yang diberikan baik itu dari Muhammadiyah maupun NU, yang mengusung konsep kerukunan dalam Islam. Mematahkan stigma bahwa Islam itu anti demokrasi, modernisasi dan tidak adil terhadap perempuan," pungkasnya.

Cak Ud menerangkan bahwa Muhammadiyah dan NU memang sarat akan perbedaan, tapi keduanya sama-sama memiliki kebaikan. Ada tiga hal yang ia dapat pelajari dari Muhammadiyah yakni disiplin, tidak mengambil hak orang lain dan juga pentingnya koordinasi. Di sisi, lain NU juga memberikan kebaikan lainnya terkait pembelajaran agama, yang membuatnya teguh berada dalam lingkup NU.

"Menurut pengamatan saya selama 25 tahun  NU dan Muhammadiyah menggambarkan Islam yang sesungguhnya. Menjadi gambar baru untuk membuktikan kesalahpahaman terkait Islam. Keduanya menjadi cerminan dari umat beragama di Indonesia," tutupnya.(mg3/ary

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis : lin
Fotografer : ya

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU