Bromo Erupsi, Wisatawan Tetap Datang

  • 21-07-2019 / 00:27 WIB
  • Kategori:Malang, Nasional
Bromo Erupsi, Wisatawan Tetap Datang RADIUS 1 KM: Kondisi Gunung Bromo Sabtu (20/7) yang ditutup untuk wisatawan karena beberapa kali mengalami letusan dan gempa Jumat (19/7)

MALANG-Gunung Bromo tetap menarik kunjungan wisatawan walau mengalami erupsi dan gempa vulkanik. Hingga tadi malam, wisatawan masih berdatangan di tempat wisata yang menawarkan sensasi kawah dan dinginnya itu.  

Aktivitas wisatawan tidak terpengaruh pascaerupsi. Sejumlah travel yang menyediakan jasa perjalanan ke Bromo masih tetap ramai dan tidak mengalami penurunan hingga kemarin.

BW Travel, salah satu contohnya. Owner BW Travel, Robet mengatakan, tidak ada pengaruh erupsi terhadap wisatawan. Pasalnya mereka tetap berangkat menuju Gunung Bromo.

"Kami juga diarahkan oleh pihak jeepnya bahwa kemarin itu ada upacara sehingga di tengah kawah terjadi hujan dan eropsi," ujar Robet.

Ia melanjutkan, Gunung Bromo masih aman untuk wisatawan hanya saja tidak diperkenankan naik ke kawah. BW Travel memberangkatkan wisatawan pada Jumat (19/7) malam sebanyak tujuh orang.

Meski informasi erupsi santer terdengar, BW Travel juga tetap melayani wisatawan ke Bromo, Sabtu (20/7). Jumlahnya lima orang dari Jakarta. "Rutenya tidak ada perubahan, saya selalu melewati rute Nongkojajar, paling cuma memberitahu ke wisatawan bahwa tidak bisa naik ke kawah. Kebanyakan tamu saya memang jarang ke kawah, biasanya mereka hanya melihat-lihat dari area pasir berbisik," jelasnya.

Sementara itu, driver dari Jeep Wisata Malang Raya (JWMR), Mohammad Anas Samudra, warga Blimbing, baru saja mengantarkan tamu ke Gunung Bromo pada Sabtu (20/7) dini hari dan kembali ke Kota Malang kemarin siang.

Andra, sapaan akrabnya memaparkan pengamatan matanya saat mengantarkan wisatawan ke Gunung Bromo. Saat mencapai kawasan gunung tersebut, ia  melihat kondisi puncak kawah sudah tak berasap seperti sebelumnya. Langit di atas Bromo juga sudah cerah dan tidak terlihat adanya abu.

“Wisatawan dilarang ke area satu kilometer sekitar puncak kawah. Jadi, titik terakhir wisatawan bisa mendekati gunung di sekitar pura,” ujarnya. Andra membawa pengunjung dari Malang Sabtu kemarin pukul 00.00 WIB, dan tiba di Bromo pukul 02.30 WIB.

Karena kondisi cuaca, pengunjung tidak mendapatkan sunrise atau matahari terbit. Dia menyebut tidak melihat atau merasakan adanya erupsi dan tremor lagi, paska aktivitas menonjol gunung pada Jumat sore. Meski demikian, ada kawasan sekitar area parkir jeep di gunung Bromo, di sekitar kaldera, yang mengalami perubahan.

Jalannya, terkena luberan air sehingga memengaruhi laju kendaran. “Di dekat kawah, ada luberan, entah dari kawah, atau dari mana, melubernya sampai ke jalan. Jalan jadi sedikit susah. Luberan itu ada di sekitar area parkir jeep. Saya mengemudi pulang ke Malang, jam 10 pagi, tiba jam 12 siang,” tambah Andra.
Sementara itu, kabar erupsi Gunung Bromo juga direspon berbeda oleh CV Wijaya Fun Holiday. Demi keselamatan para tamunya,  perjalanan menuju Bromo sementara ditunda satu hari.

"Hari ini (kemarin) saya pending yang ke Bromo, tapi besok sudah ada tamu bule yang berangkat. Mereka malah tertarik pengen lihat (erupsi, red)," ujar Direktur CV Wijaya Fun Holiday, Hendri Wijaya.

Ia melanjutkan, CV Wijaya Fun Holiday pada Jumat (19/7) kemarin memberangkatkan 54 pax ke Gunung Bromo. Saat itu kondisinya masih aman hanya saja tidak bisa menikmati sunrise lantaran angin kencang dan kabut.

"Sehingga yang harusnya berangkat hari ini saya undur besok sembari menunggu info Bromo, kalau paguyuban jeepnya sih bilangnya aman cuma gak bisa naik saja" tandas Hendri.

Sebelumnya Gunung Bromo mengalami erupsi dan gempa vulkanik, Jumat (19/7) lalu. Terjadi tiga kali letupan disertai abu dan satu kali gempa mengguncang spot wisata andalan itu.  Gempa tremor beramplitudo maksimum 37 milimeter durasi 7 menit 14 detik, sempat terasa paska erupsi.

Sabtu (20/7) kemarin, masyarakat sekitar kaki gunung tetap beraktivitas seperti biasa meski Gunung Bromo tremor dan meletupkan erupsi menonjol. Kendati sudah melihat dan mendengar soal adanya getaran dan dentuman dari gunung, warga di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, tak terpengaruh.

Kades Ngadas, Mujianto membenarkan Jumat malam, warga Ngadas mendengar dan melihat peningkatan aktivitas di Gunung Bromo. Namun, sampai Sabtu (20/7) kemarin, belum ada aktivitas vukanik yang menonjol lagi.

“Situasi di kawasan Ngadas aman kok, tapi kami pantau di Bromo, ada perubahan, terutama kawasan yang boleh dan tidak boleh dilewati wisatawan,” kata Mujianto kepada Malang Post, kemarin.

Menurut dia, wisatawan kini dibatasi. “Di Bromo, pengunjung hanya boleh radius 1 kilometer dari puncak kawah,” tutur Mujianto.

Bukan Banjir Lahar Dingin

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menegaskan, aliran air beserta material batuan dan pasir di kaldera Gunung Bromo bukan lahar dingin. Aliran air itu banjir akibat hujan. Kebetulan terjadi bersamaan dengan erupsi Gunung Bromo.

"Itu cuma waktunya saja yang kebetulan bareng. Saat Gunung Bromo erupsi, situasi di sekitar kawasan itu hujan pada saat yang bersamaan. Informasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)." kata Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Sarif Hidayat.

Menurutnya, banjir di kaldera Gunung Bromo merupakan hal yang biasa. Pasalnya, kaldera Gunung Bromo dikepung perbukitan. Saat hujan, air bakal mengarah ke dasar kaldera. Kemarin siang, banjir di jalur kaldera dilaporkan sudah tidak ada.(lin/fin/van)

Editor : van
Uploader : abdi
Penulis : lin
Fotografer : ya

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU