Keluar PNS Demi Jadi Wartawan, in Memoriam Husnun Djuraid

  • 04-08-2019 / 12:35 WIB
  • Kategori:Malang
Keluar PNS Demi Jadi Wartawan, in Memoriam Husnun Djuraid

MALANG - Pendiri Malang Post sekaligus wartawan senior Husnun N Djuraid dilahirkan di Bibis, Tandes Surabaya, 15 Februari 1959. Dia menyelesaikan pendidikannya mulai dari SD, SMP sampai SMA di sekolah Muhammadiyah di Surabaya. Setelah lulus, Husnun mengembara ke Semarang untuk bekerja pada sebuah perusahaan kayu milik temannya.

Setelah sempat bekerja beberapa saat, Husnun memutuskan untuk melanjutkan kuliah pada FPOK (Fakultas Pendidikan  Olahraga dan Kesehatan) IKIP Semarang. Dunia pendidikan menjadi pilihannya sesuai darah yang mengalir dari orang tuanya yang juga seorang pendidik. Sebelum lulus, sambil kuliah, Husnun mengajar di beberapa sekolah di Salatiga dan Semarang. Sampai akhirnya, Husnun yang lulus dengan gelar SPd, diangkat sebagai guru PNS di STM Pembangunan Semarang.

Hanya saja, pekerjaan guru PNS tidak membuatnya tenang. Dia berusaha mencari tantangan baru sesuai kegemarannya menulis. Pada saat masih jadi guru olahraga, tahun 1989 dia diterima sebagai wartawan Jawa Pos oleh Dahlan Iskan, untuk bertugas di Biro Semarang. Di sinilah dia menemukan dunia yang selama ini diimpikannya. Baju seragam Korpri akhirnya ditanggalkan, dia keluar dari PNS dan menekuni profesinya sebagai wartawan, karena dia tidak ingin konsentrasinya terpecah.

Selama bertugas di Semarang, wilayah Jateng dan DIY menjadi wilayah liputan Husnun.  Tahun 1993 dia dipindah ke Yogyakarta untuk menjadi Kepala Biro sekaligus redaktur halaman Jateng dan DIY. Tidak sampai setahun di Yogya, dia dipindah sebagai Kepala Biro dan redaktur Jawa Pos di Malang.  Ketika Jawa Pos menerbitkan harian Bhirawa dari Malang, dia ditunjuk sebagai redaktur pelaksana pada tahun 1990-an. Tapi itu tidak lama, karena tahun 1998 Jawa Pos mendirikan Malang Post bersama eks Bhirawa.

Bersama Juniarno Djoko Purwanto dan Sudarno, Husnun ditunjuk sebagai Pimpinan Redaksi dan berkantor awal di Jalan Arjuno, sebelum pindah ke Jalan Sriwijaya Kota Malang. Terakhir, karir Husnun adalah Komisaris Malang Post. Husnun meninggalkan seorang istri Cicik Rahayu, dosen Universitas Negeri Malang, serta empat anak, Reza, Ade, Lia dan Aulia, yang akrab disapa Dudun.

Darah wartawan tak hanya mengalir di tubuh Husnun, tapi juga dua saudaranya, Dhimam Abror yang juga Pemred Jawa Pos, serta Hadi Mustofa, wartawan Republika dan Berita Buana.
Selain menjadi wartawan, Husnun juga mengajar jurnalistik di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka (Unmer) Malang dan Vokasi Universitas Brawijaya.(fin/han)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : irawan
Penulis : fin
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU