Guru Jurnalistik itu Telah Pergi...

  • 04-08-2019 / 19:10 WIB
  • Kategori:Opini
Guru Jurnalistik itu Telah Pergi... KENANGAN: Husnun N. Djuraid bersama Ira Ravika (kiri) dan Dewi Yuhana usai olahraga di sekitar kantor Malang Post.

Catatan Pemred Malang Post, Dewi Yuhana

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka meninggalnya Pak Husnun N. Djuraid pagi ini (4/8) tidak hanya mengagetkan kami, keluarga besar Malang Post, tapi juga kolega, sahabat, dan murid beliau yang tersebar di mana-mana. Kami tak percaya, tapi harus menerima. Bahwa kematian hanyalah milik Allah SWT semata. 

Mengenang Pak Nun, begitu saya dan teman-teman di Malang Post memanggil beliau, berarti saya juga mengingat perjalanan saya menjadi wartawan hingga sekarang. Peran Pak Nun dalam karier dan keilmuan jurnalistik saya, sangatlah besar. Beliau guru, mentor, sahabat, sekaligus sosok yang saya anggap sebagai bapak. 

Saya mengenal Pak Nun pertama kali saat  masih mahasiswa dan magang wartawan di Malang Post usai mengikuti pelatihan jurnalistik pada 2002. Kala itu beliau Pemimpin Redaksi (Pemred) korane arek Malang ini. Sebagai orang nomor satu di redaksi, Pak Nun adalah sosok yang humble, tak menjaga jarak dengan anak buah, bahkan dengan anak baru yang berstatus magang seperti saya. Beliau mau melihat dan mengedit berita yang saya tulis, memberikan masukan dan arahan tanpa nada tinggi dan emosi. Satu pelajaran yang belum bisa saya terapkan dari beliau. 

Nasib anak magang berarti belum punya meja dan komputer sendiri, sehingga saya seringkali harus menunggu komputer kosong untuk bisa menulis berita. Melihat itu, Pak Nun meminta saya untuk menggunakan komputernya. Menduduki kursi panas Pemred yang selama ini tak seorang wartawan pun berani duduk di sana. Maka setiap sore, sebelum Pak Nun tiba di kantor, saya lah yang duduk di sana, mengetik berita sembari membayangkan asiknya bila saya jadi wartawan beneran. Ada satu dua orang karyawan Malang Post senior yang menegur saya kala itu. 

“Eh, kamu siapa?!. Jangan duduk di situ, cari tempat lain”.

“Saya sudah dapat izin dari Pak Nun untuk menggunakan komputer beliau”. Jawaban itulah yang biasanya saya sampaikan kepada para senior. Jawaban pamungkas yang membuat mereka diam. 

Sesudah itu, kursi dan meja Pak Nun menjadi sangat populer, makin banyak yunior yang ingin merasakan duduk dan menggunakan komputer beliau. Silih berganti sebelum sang empunya datang. Mungkin, karena keramahan Pak Nun itulah, saya akhirnya memutusan untuk meneruskan magang menjadi kerja beneran di Malang Post. Hingga sekarang. 

Saat awal diberi amanah menjadi redaktur, Pak Nun jua lah yang menyemangati saya untuk dapat menjalankan tugas. Ketika saya kebingungan meminta berita (untuk diedit) dari wartawan yang lebih senior dan biasa memanggil saya "dik", Pak Nun menegaskan: "Kamu redaktur, tugasmu mengedit berita wartawan meskipun usianya lebih tua dari kamu. Nggak usah sungkan". 

Atau, ketika saya tergiur dengan tawaran penggandaan uang dengan skema ponzi Pohon Mas, Pak Nun lah yang menegur saya. Sebagai wartawan yang waktu itu ngepos di desk Komunikasi Bisnis, saya tahu Pomas pasti akan kolaps suatu saat. Sebagai manusia biasa, saya mengalkulasi bila saya ikut di awal, saya masih akan mendapatkan untung dan uang kembali. Apalagi, sebagai wartawan saya kenal petinggi Pomas saat itu yang secara langsung menawari saya untuk gabung. Tapi sebagai wartawan muda, saya tak punya uang untuk diinvestasikan. Tak kurang akal, saya iseng dan nekat meminjam uang ke Pak Nun. Sebulan. Lalu akan saya kembalikan sesudah uang cair. 

Komentar beliau singkat. "Kamu ini alumni pondok, dan masih mau dapat uang dengan cara begitu?. Hukumnya gimana itu?". 
Saya nyengir dan tertohok. Sudahlah tak dapat pinjaman, malu iya. Namun alhamdulillah, saya urung tergiur Pomas dan terbebas dari jeratan masalah seperti yang dirasakan ribuan korbannya.

Sebagai pemimpin, Pak Nun adalah motivator bagi anak buahnya. Beliau memotivasi melalui kalimat yang kita sendiri lah yang harus memutuskan untuk melakukan tindakan apa selanjutnya, tanpa paksaan. Strategi yang biasanya digunakan Psikolog dalam melakukan terapi pada pasiennya. Tidak mengarahkan, tapi memberikan pilihan. Itu membuat banyak wartawan dekat dengan beliau, leluasa menyampaikan unek-unek dan masalah. Perasaan dekat ini, saya yakin tidak hanya dirasakan oleh saya, wartawan dan karyawan Malang Post, tapi juga mereka yang sudah “lulus” dari Malang Post dan bahkan wartawan media lain. 

Terbukti dari banyaknya pesan WA yang saya terima, semua menjadi saksi kebaikan Pak Nun. Termasuk pesan yang ditulis orang yang mengenal beliau di media sosial. Semuanya baik dan mengingat yang baik-baik. Mereka mengenal Pak Nun dari berbagai cara. Ada yang lewat pekerjaan di Malang Post, ada mantan mahasiswanya dari UMM, Unmer, Vokasi Universitas Brawijaya, kolega dosen, aktivis Muhammadiyah, hingga teman berolahraga. Maka tak heran, bila saya datang ke suatu acara di Malang dan luar kota, yang banyak ditanyakan kenalan baru adalah "bagaimana kabar Pak Husnun". 

 

Satu Kaki di Neraka, Satu di Surga

Dalam berbagai kesempatan sharing dengan wartawan, Pak Nun seringkali mengatakan: "Kaki wartawan itu, satu ada di neraka dan satu ada di surga. Tinggal kalian yang menentukan, mau dua-duanya di neraka atau mengangkat satu kaki lagi untuk dibawa ke surga karena kalian menuliskan berita sesuai fakta, mengangkat kebenaran yang bermanfaat untuk pembaca". 

Pak Nun memang dikenal juga sebagai ustadz, pendakwah, yang seringkali mengisi tausiyah, menjadi imam dan khatib di masjid-masjid. Ia juga memiliki banyak WhatsApp Group yang selalu diingatkannya untuk tahajud dan dhuha. Sebelum ada WA yang bisa mengirim pesan tak berbayar, dulu Pak Nun mengirimkan SMS pengingat tahajud dan dhuha kepada puluhan hingga ratusan orang. 

Maka tak heran bila beliau seringkali menyisipkan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam sharing jurnalistik. Bahwa wartawan harus selalu menyampaikan berita sebenar-benarnya, tidak menambahi apalagi memelintir fakta. 

Komitmennya pada dunia jurnalistik tidak perlu ditanyakan lagi. Hingga akhir hayatnya, Pak Nun selalu menyempatkan menulis dan berbagi ilmu kepenulisan. Sebagai Wakil Ketua KONI Kota Malang, Pak Nun tak hanya mendampingi atlet dalam Porprov kemarin, tapi juga menulis sendiri beritanya, meski Malang Post juga mengirimkan wartawan untuk meliput event tersebut. 

Senin (5/8) Pak Nun harusnya menjadi pembicara Menulis Artikel Populer di salah satu kampus, selain agenda pelatihan menulis lain lagi yang masih menunggu. Semua agenda itu harus direschedule. 

Soal menjadi pembicara, Pak Nun adalah senior yang mau mendidik yuniornya untuk mampu menjadi pembicara, maka tak jarang beliau mengajak atau merekomendasikan para redaktur untuk acara-acara tertentu. Melakukan regenerasi. 

Saya menganggap Pak Nun bukan sekadar senior dan atasan, tapi juga sosok bapak. Sehingga tanpa saya sadari, saya sering bersikap bandel layaknya anak ke bapak, berani menentang dan sedikit melawan lewat kalimat yang bagi orang lain mungkin terdengar kasar. Tapi ya itulah, tak ada bapak yang marah berlama-lama kepada anaknya kan?. Selalu memaafkan tanpa sang anak pernah meminta maaf. Namun inilah yang paling membuat saya sedih sekarang ini, saya belum meminta maaf langsung ke beliau atas semua sikap saya selama ini. Maafkan saya Pak Nun... 

 

Motivator Olahraga

Pak Nun adalah pecinta olahraga dan hidup sehat. Lewat WhatsApp group, beliau selalu berbagi aktivitas olahraganya, setiap hari. Juga menu-menu makanan sehat yang seringkali dikonsumsi. Saat belakangan saya sering memosting infused water dan minuman rimpang-rimpangan, Pak Nun sering memberi komentar dan menunjukkan minuman sehat ala dirinya. 

Tak kenal lelah ia memotivasi karyawan Malang Post untuk olahraga. Lalu tercetuslah Malang Post Runners (MPR) sekitar satu setengah bulan lalu, dengan jadwal lari di Sabtu pagi. Pada edisi perdana, hanya ada dua awak Malang Post yang hadir. Saya dan wartawan Ira Ravika. Karena berat badan kami over, Pak Nun tidak menyarankan untuk lari, tapi jalan cepat. 

Selama jalan cepat itu, Pak Nun menceritakan perkembangan Bu Cicik Rahayu, istrinya, yang mulai belajar berjalan setelah beberapa lama terbaring sakit. Bu Nun, saya menyapa beliau begitu, sudah bisa berdiri dengan bantuan, tapi masih butuh banyak latihan dan terapi. 

Dua minggu terakhir, Pak Nun yang selalu menyemangati Bu Nun untuk sembuh dan fit kembali, rutin mengantarkan istri tercintanya itu ke kampus Universitas Negeri Malang. Sembari mendorongnya di atas kursi roda, menunggui dan mengantarnya pulang.

Aktivitas itu terhenti Minggu (4/8) ini. Kami juga tidak akan lagi mendapatkan motivasi olahraga dan lari di grup tiap pagi. Tapi seperti yang lain, kami akan mengenang semua kebaikan beliau. 

Selamat jalan Pak Nun, Allah SWT loves you more than us.(*)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : slatem
Penulis : hana
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU