Tempat Belajar Memadukan Pariwisata dan Sanitasi

Pujon Kidul Percontohan Nasional

  • 08-08-2019 / 00:02 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Pujon Kidul Percontohan Nasional Kepala DPKPCK Kabupaten Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat MM menyambut Ketua AKKOPSI Dr. H. Syarif Fasha di Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang dalam rangka gala dinner, tadi malam.

MALANG- Desa Wisata Pujon Kidul, Kabupaten Malang jadi tempat belajar memadukan pariwisata dan sanitasi level nasional.  Ratusan kabupaten dan kota dari berbagai daerah di Indonesia belajar di desa yang pernah dikagumi Presiden Joko Widodo itu, Kamis (8/8) hari ini.

Kepala daerah maupun perwakilan kabupaten dan kota dari seluruh  Indonesia terkagum-kagum terhadap desa yang memiliki Cafe Sawah itu. Mereka diberi kesempatan belajar lalu mengembangkan wilayahnya dengan acuan kawasan wisata yang berada di barat Kabupaten Malang itu.

Seperti sudah diberitakan Malang Post, Rabu (7/8) lalu, Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menggelar Advocacy Horizontal Learning (AHL) 2019. Tempatnya di Desa Wisata Pujon Kidul. Sesuai jadwal,  90 kepala daerah atau perwakilannya hadir dalam kegiatan ini.

Ketua AKKOPSI, Dr. H. Syarif Fasha mengaku penasaran dengan Desa Wisata Pujon Kidul. Rasa penasaran itu disampaikan Fasha saat gala dinner di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Rabu (7/8) tadi malam.

"Saya sudah mendengar nama kiprah Desa  Wisata Pujon Kidul dari banyak daerah. Nama Pujon Kidul sudah terkenal. Namun baru besok (hari ini) bisa datang ke sana," katanya. Menurut  Fasha, berkunjung ke Desa Wisata Pujon Kidul merupakan kesempatan untuk bisa belajar tentang pengelolaan dan pengembangan wilayah mulai dari tingkat bawah. Perkembangan  desa tersebut dinilai sangat pesat. Hal itulah yang menjadikan alasan AKKOPSI menggelar AHL tahun 2019 di wilayah Kabupaten Malang. "Pertimbangan kami memilih wilayah Kabupaten Malang karena di sini istimewa. Ada kombinasi antara sanitasi dan pariwisata," ungkapnya.

Di temui usai gala dinner, Fasha mengatakan AHL tidak sekadar momen para kepala daerah berkumpul. Namun menjadi tempat sharing. Masing-masing anggota AKKOPSI yang hadir, lanjut dia, akan memaparkan keberhasilan ataupun permasalahan sanitasi di daerahnya.  Dengan adanya sharing ini, diharapkan seluruh daerah dapat menyelesaikan sanitasi di daerahnya masing-masing.

Direktur Eksekutif Seknas AKKOPSI, Capt. Josrizal Zain, SE, MM mengatakan, Kabupaten Malang dipilih sebagai tempat digelarnya kegiatan tersebut karena memiliki sanitasi yang baik. Salah satu indikatornya yakni adanya pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.

"Sanitasi tidak hanya saluran air. Tapi juga pengelolaan limbah dan pengelolaan sampah. Kabupaten Malang memiliki pengelolaan sampah terpadu yang dikelola masyarakat. Hal ini tidak hanya menghasilkan energi, tapi juga rupiah  yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat," papar dia.

Bukan itu saja, saat ini Kabupaten Malang  mampu kombinasikan antara sanitasi dan pariwisata. Menurut Jos, sapaan akrab Josrizal Zain, antara pariwisata dan sanitasi merupakan

dua hal yang saling mendukung. "Sebagus-bagusnya tempat wisata, tidak akan dikunjungi jika sanitasinya tidak bagus," tambahnya.

Jos berharap AHL 2019 dimanfaatkan peserta dengan baik. "Karena besok (hari ini) juga ada sharing. Peserta bisa memperhatikan dengan baik, keberhasilan daerah lain terhadap sanitasi dapat diterapkan didaerahnya,"  pesan Jos.

Dari kegiatan ini, lanjut dia, targetnya masalah sanitasi di Indonesia betul-betul terselesaikan. Apalagi hasil sharing AHL dibawa ke pemerintah pusat di Jakarta.

 

Dari Desa Sepi Jadi Magnet Wisata

Plt Bupati Malang, H.M Sanusi menjelaskan, sebelum ada Cafe Sawah, Pujon Kidul merupakan desa yang sepi. Tapi kini karena ada kafe tersebut, Pujon Kidul jadi magnet wisatawan. Dampaknya perekonomian berkembang, pertanian pun maju.

Mantan anggota DPRD Kabupaten Malang ini mengatakan, sanitasi menjadi isu strategis, dan menjadi konsentrasi utama Pemkab Malang. Sanusi berharap melalui kegiatan ini sanitasi di Kabupaten Malang lebih baik.

Sementara itu gala dinner yang digelar di Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang tadi malam berlangsung hangat.  Perwakilan sejumlah daerah hadir. Pantauan Malang Post di antaranya Pokja Sanitasi Kota Bontang, Pokja Sanitasi Kota Makassar hingga  Kepala Bapeda Kota Banjarmasin.

Kegiatan ini juga dihadiri Forkopimda Kabupaten Malang. Tampak Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Ir Didik Budi Moeljono, Kajari Kepanjen Abdul Qohar AF, Pimpinan Bank Jatim Cabang Kepanjen M. Ridho Yunianto, Dirut Perumda Tirta Kanjuruhan, Syamsul Hadi, dan sejumlah kepala OPD di Pemkab Malang.

Kepala DPKPCK Kabupaten Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM menjelaskan, AHL 2019 hari ini diisi sejumlah rangkaian kegiatan. Sesuai jadwal, pembukaan kegiatan digelar di Pendopo Kabupaten Malang. Selanjutnya digelar di Cafe Sawah, Desa Wisata Pujon Kidul.

"Venue di Cafe Sawah Pujon Kidul sudah oke. Semuanya sudha siap digelar,” ujarnya.

Kemarin sore, Plt Bupati Malang H.M Sanusi meninjau persiapan lokasi kegiatan. Dia melakukan pengecekan langsung tempat para kepala daerah anggota AKKOPSI berkumpul.
Saat pengecekan, Sanusi didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara.  Untuk panggung, pria asal Bali ini menyebutkan sudah tidak ada masalah.

 

Bikin Terkagum-Kagum

Kabupaten Malang memaparkan best practice terkait pengembangan Desa Wisata Pujon Kidul. Paparan oleh  Plt Bupati Malang H.M Sanusi. Menurut Wahyu,  Pujon Kidul memiliki potensi wisata yang masih alami dan cocok untuk refreshing hingga wisata edukasi. Wisata edukasi antara lain petik sayur, peternakan, pembelajaran energi alternatif, pengolahan susu, dan outbond.

Selain itu, juga memiliki beragam kesenian tradisional yang dapat dinikmati wisatawan, seperti Kuda Lumping, Pencak Silat, dan Tarian Sanduk. Tak ketinggalan, desa ini juga memiliki kuliner dan oleh-oleh khas. 

Pengembangan wisata juga dilakukan di Dusun Maron, Desa Pujon Kidul. Salah satunya di wisata alam Coban Rondo. Keindahan dan gemericik aliran air diiringi kicauan burung, siap menyambut wisatawan.   

Selain wisata alam yang eksotis, juga terdapat sebuah destinasi wisata bernama Cafe Sawah yang ikonik. Lokasi kafe ini dikelilingi ladang sayuran yang terhampar sejauh mata memandang, serta hamparan hijau area pegunungan dan perbukitan. “Meski masih sekitar dua tahun, destinasi wisata ini sudah mendatangkan ribuan pengunjung,” kata Wahyu.

Cafe Sawah merupakan salah satu kreasi inovatif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pujon Kidul. Karena keberhasilan pengelolaan Dana Desa hingga meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PADes) Pujon Kidul, telah menjadi percontohan nasional. Setidaknya, BUMDes telah berhasil meningkatkan PADes hingga lebih dari Rp 1,3 miliar pada tahun 2018. Pada tahun 2019 diprediksi mampu meraup PADes hingga Rp 2,5 miliar. Karena sukses mengelola Dana Desa, Presiden Joko Widodo pernah memberi apresiasi melalui Instagram.

Wahyu menambahkan, dalam memaksimalkan potensi wisata Desa Wisata Pujon Kidul, Pemkab Malang memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan sektor sanitasi melalui sinergitas antar OPD, pemerintah desa, maupun swadaya masyarakat. Beberapa inovasi yang dilakukan antara lain Integrated Resource Recovery Center (IRRC), Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Komunal, serta pengelolaan air bersih.  (ira/van)

  • Editor : van
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : ira
  • Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI