Home > > Opini

Refleksi dari Dialog Sang Juara

  • 09-08-2019 / 19:51 WIB
  • Kategori:Opini
Refleksi dari Dialog Sang Juara

Hafidz, S.Pd.M.Pd.I

Dosen AIK UMM

 

Mau jadi juara dalam kehidupan ini? Belajarlah dari pengalaman keluarga Nabiyullah Ibrahim AS. Jika hidup diibaratkan sebuah perlombaan, maka beliau adalah pemain yang selalu memenangkan pertandingan. Bukan hanya menang dalam interaksi sosial, tetapi juga dalam menghadapi beratnya tekanan kehidupan. Pendek kata, beliau selalu berada pada posisi kelas atas. Artinya persoalan apapun mampu beliau atasi. Tidak heran jika Allah, melalui Rasulullah Muhammad SAW memasukkan beliau dalam kelompok ulul ‘azmi (orang yang mampu memikul beban berat kehidupan, sabar dalam menerimanya dan amanah dalam tugasnya).

Luar biasanya, meski hidup beliau selalu didera persoalan pelik dalam interaksi sosial, tetapi mampu membangun pertahanan ekonomi keluarga dengan baik. Sehingga rumah tangganya makmur dan sejahtera. Hal ini dibuktikan saat menda’wahkan kalimat Tauhid. Beliau diajak beradu argumen dengan raja di hadapan khalayak ramai. Dengan tema yang sangat sensitif. Yakni tentang kekuasaan Allah SWT versus kekuasaan raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dihadirkan di hadapan publik dua orang budak. Yang satu gemuk dan yang satu kurus. Yang gemuk disembelih dan yang kurus dibebaskan. Dan raja mengklaim kalau dirinya bisa mematikan dan menghidupkan. Hal ini dilakukan raja sebagai tantangan kepada Ibrahim as yang mengklaim, bahwasannya Allah Tuhan Yang Mampu menghidupkan dan mematikan. Nabi Ibrahim as menjelaskan kalau Allah mampu menerbitkan matahari dari timur dan menterbenamkan di ufuk barat. Beliau meminta agar raja melakukan dengan cara sebaliknya. Tentu saja raja tidak mampu. Sehingga dialog hari itu dimenangkan oleh Nabi Ibrahim as.

Beliau juga dibakar hidup-hidup dengan tuduhan telah melakukan perusakan terhadap patung-patung sesembahan mereka. Tapi dengan izin Allah, api tidak membakar dirinya, termasuk pakaian yang dipakai saat itu.

Disisi lain dari kehidupannya, beliau mampu menjamu tamunya dengan anak sapi guling tatkala di sepertiga awal malam, beliau kedatangan dua orang tamu. Ini menunjukkan bahwa secara ekonomi beliau adalah Aghniya alias termasuk kelas atas.

 

Egalitaria Dalam Rumah Tangga

Sekian lama berumah tangga, sang istri-Sarah-mandul. Hanya saja dengan itikad baik, Sarah menyarankan Nabi Ibrahim as diminta untuk menikah sekalipun dia hanya sebagai budak atau pesuruh rumah tangganya, Hajar. Belum lama Hajar melahirkan Ismail, Sarah mulai cemburu dan meminta tidak menyaksikan romantisme mereka bertiga di depan matanya. Untuk itu beliau mengasingkan anak istrinya kegurun tandus nan kerontang, yang kelak disebut Baqi’, artinya lembah air mata.

Ibrahim as meninggalkan mereka berdua cukup lama, begitu berjumpa dengan mereka berdua, dan waktu itu Ismail menginjak usia remaja, Allah memintanya untuk di qurban kan dengan cara menyembelihnya. Perintah itu juga dilakukan. Perjalanan dari Baqi’ ke Mina, mendapat hambatan berat dari Iblis yang terus-menerus membujuk rayu dengan  maksud menggagalkan rencana penyembelihan. Tapi team work ini semua berhasil dilalui dengan aman. Dan Allah mengganti Ismail dengan seekor domba sembelihan.

 

MENTAL JUARA

Jika diperhatikan dengan seksama, kenapa Nabi Ibrahim as dan keluarganya berhasil diabadikan dalam sejarah tentang perjalanan kisah hidupnya. Bahkan perbuatannya dijadikan syari’at dalam agama Islam. Itu karena beliau dan keluarganya adalah orang-orang yang memiliki mental juara. Selalu terdepan dan berada diposisi atas. Mampu mengatasi masalah bukan dibawah (baca ditekan) masalah. Artinya dalam hidup manusia masalah itu pasti akan datang. Tapi sang juara mampu mengatasinya. Sehingga yang mereka tonjolkan selalu prestasi terbaik dalam kancah kehidupan manusia.

Beberapa mental juara yang mereka miliki adalah, Selalu optimis tidak pesimis. Sang juara selalu melihat peluang sedang sang pecundang selalu melihat kehampaan. Gurun yang didatangi Nabi Ibrahim as untuk menempatkan Hajar dan Isma’il. Adalah gurun tandus tanpa kehidupan, tanpa apapun yang menjanjikan. Tapi Ibrahim as optimis. Kelak tempat ini makmur dengan buah-buahan. Terbukti beliau berdo’a kepada Allah untuk hal ini. “Ya Allah jadikan negeri ini aman untuk tempat tinggal dan makmurkan penghuninya dengan buah-buahan”.

Hajar juga melakukan hal yang sama tatakala air susunya mengering, perbekalan habis. Beliau berlari kesana kemari mendaki bukit-yang kemudian disebut Shafa dan Marwa. Jelas-jelas di atas bukit itu tidak ada apa-apa kecuali hamparan fatamorgana dan hembusan angin kering gurun sahara. Berbekal mental optimis, beliau tetap bergerak. Sehingga optimismenya berbuah. Sebuah air memancar dari kakinya Ismail. Kini air itu disebut zamzam artinya kumpullah. Air yang berkumpul, mengikuti seruan Hajar yang waktu itu berkata dalam bahasa Ibrani :”zamzam!”

 Yakin dan tidak pernah ragu, Sang juara, yakin bahwasannya Allah Yang Maha Kaya, selalu memberikan penghidupan kepada hambaNya. Dia tidak akan membiarkan hambaNya dalam kekurangan. Yakin bahwa potensi yang diberikan Allah kepada dirinya adalah potensi besar dan kuat. Yakin bahwa karunia Allah terhampar dimuka bumi. Sehingga ia bergerak diatas jalan keyakinan, menuju arah yang hendak dicapai tanpa ada keraguan sedikitpun.

Langkah ini pernah ditempuh oleh sahabat Abdul Rahman bin ‘Auf. Berhijrah dari Mekah ke Madinah tidak membawa sekeping hartapun kecuali pakaian yang melekat dibadannya. Padahal beliau adalah konglomerat Mekkah kala itu. Berkat keyakinannya, Allah selalu memberi ilham berupa ide-ide brilian. Bukan hanya menolak kebaikan Sa’ad bin Rabi’ai tatkala ditawari istri dan perusahaan. Tetapi beliau justru berani menyewa tanah seorang muslim dengan bayar belakang. Tanah itu dikavling dan disewakan kepada para pedagang muslim, yang juga dipersilahkan bayar belakangan. Asal barang yang masuk kekavling tersebut kwalitasnya mampu menyamai barang pasar sebrang yang dikelola Yahudi.

Sehingga dalam waktu tiga bulan hidup diperantauan, Abdul Rahman bin ‘Auf mampu mengawini seorang wanita dengan mahar yang memadai.

Berani bayar mahal dan tidak banyak menawar. Sang juara, tidak pernah risau apalagi galau dengan harga yang dituntut untuk sebuah keberhasilan. Berapapun harganya ia akan bayar. Ia hanya melihat hasil besar yang akan diraihnya, jika dibandingkan dengan pengorbanan yang ia lakukan. Ini membuat dirinya tidak pernah menawar secara bertele-tele.

Simaklah dialog heroik yang dilakukan Ibrahim dan Isma’il:”Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku (mimpi) menyembelih kamu. Maka pikirkan bagaimana pandanganmu (tentang mimpi ini).” “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan (Allah) kepadamu. Semoga, engkau akan dapatkan aku sebagai bagian dari orang yang sabar”.

Sungguh dialog spektakuler para juara. Isinya saling menguatkan dan tidak melemahkan. Meski mereka sadar, harga diri yang harus mereka pertaruhkan adalah nyawa. Tapi dengan tenang dan bersahaja mereka melenggang menjalaninya. Hasilnya, begitu luar biasa….

Jadilah juara, menangkan kehidupan dunia, sebelum memasuki gerbang syurga.

Allahu Akbar !!! selamat hari Raya Idul Adha 1440H/2019M. (*/Malangpostonline.com)

  • Editor : oci
  • Uploader : slatem
  • Penulis : ist
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI