32 Tahun, Tak Cukup 2 Ada 3

  • 10-08-2019 / 13:02 WIB
  • Kategori:Catatan
32 Tahun, Tak Cukup 2 Ada 3

Salam satu jiwa. Arema.

Tanpa embel-embel di belakangnya.

Saya tak menyebut FC atau Indonesia.

11 Agustus ini, Arema merayakan ulang tahunnya ke-32. Masih dalam suasana belum kembali satu jiwa. Ya, badai dualisme Arema belum berakhir.

Jika tak keliru, sudah 8 tahun kondisi ini. Menjadi ingat catatan saya tentang Arema, sekitar tahun 2011 silam. Saat dimulainya dualisme.

‘Badai Pasti Berlalu’

Judul catatan saya saat itu. Menggambarkan kondisi dualisme, sekaligus sebuah harapan. Badai dualisme bisa berakhir. Ternyata masih, sampai saat ini.

Bahkan di 32 tahun Arema, kini tak cukup 2 Arema. Ada 3 tim sepakbola di malang dengan nama Arema. Selain Arema FC di Liga 1, Arema Indonesia di Liga 3, muncul Arema Malang United juga Liga 3.

Sungguh kenyataan pahit yang sulit diterima pendukung Arema. Khususnya Aremania yang ingin hanya ada satu Arema di Malang.

Kenyataan yang juga bikin miris identitas Arema sebagai Arek Malang. Semacam jadi bahan lelucon yang tak seharusnya terjadi. Sering menimpa Arema di perantauan. Sering muncul pertanyaan, umak Arema yang mana?

Sedih. Sudah sekian lama, tak kunjung ada solusi. Hasil peninggalan pecahnya kompetisi Liga Indonesia beberapa tahun lalu.

Padahal beberapa klub lainnya yang juga pecah jadi dua, sudah selesai urusannya. Seperti Persebaya, Persija dan Persib sudah tak terdengar lagi masalah dualisme ini. Sementara Arema masih berlanjut.

Pastinya efek perpecahan ini, punya pengaruh buruk.

“Yang ulang tahun Arema Indonesia, yang memperingati Arema FC”

Itu contoh kalimat yang masuk dalam kolom komentar IG Malangpostonline.

Banyak lagi, kalimat sinis seperti itu.

Seperti saat terjadi penurunan drastis jumlah penonton laga kandang Arema di Liga 1. Banyak ‘komentator’ menyebut bahwa penyebab utamanya adalah dualisme Arema.

Jujur, kami sangat merasakan efek negatif dari dualisme Arema ini. Tepatnya usai Arema raih gelar juara Indonesia Super League (ISL) edisi 2009/2010, adanya dualisme sangat mengurangi minat baca berita Arema. Turun drastis.

Saya yakin, dampak yang sama juga dirasakan pihak-pihak yang terkait dengan Arema. Seperti penjualan merchendise hingga penjualan tiket laga home, dirugikan dengan dualisme Arema. Sampai sekarang, belum normal.

Okelah. Jika 32 tahun Arema ini lebih berasa diperingati oleh Arema FC. Setidaknya manajemen Arema yang berlaga di Liga 1 ini lebih tertata, lebih profesional. ‘Menjaga’ nama Arema di level kompetisi tertinggi.

Bersatu memang penting. Hingga ada aksi Aremania memboikot semua Arema demi mempersatukan Arema kembali.  Namun setidaknya menjaga Arema ini tetap ada dan eksis ini juga penting. Sembari menunggu ‘keajaiban’, badai dualisme ini bisa berakhir.

Berat. Harus diakui memang berat. Proses menuju bersatu lagi. Saya kenal baik dengan pengurus Arema Indonesia maupun Arema FC. Khususnya dengan Arema FC dalam kapasitas kebutuhan berita yang lebih banyak di Liga 1. Rasanya mereka semua ingin hanya ada satu Arema.

Saya bisa merasakan, khususnya lewat postingan di media sosial, betapa akibat dualisme ini, berpotensi munculkan konflik horisontal. Melihat komentar miring, yang justru mencaci atau merendahkan nama Arema itu sendiri.

Jika komentar itu datang dari rival, mungkin bisa dimaklumi. Tapi sulit diterima, jika cacian itu datangnya dari Arek Malang.

Ada Aremania pendukung Arema FC, ada Aremania pendukung Arema Indonesia dan ada Aremania yang tidak mendukung keduanya. Mungkin juga sudah muncul yang pendukung Arema Malang United itu.

Mereka jadi ‘perang komentar’, sesama Aremania. Sedih rasanya.

Dan kondisi ini, tidak tahu bakal sampai kapan? Bagaimana solusinya?

Saya pernah menyampaikan, juga lewat sebuah catatan beberapa waktu lalu. (https://www.malangpostonline.com/read/12709/darjoto-setyawan)

Peluang menyatukan Arema. Melalui seorang tokoh pembina Arema, Darjoto Setyawan. Sudah pernah saya sampaikan, namun hingga saat ini saya belum dapat kesempatan bertemu langsung dengan beliaunya.

Kemungkinan solusi lainnya adalah dengan gerakan Aremania yang meminta tiga kepala daerah di Malang Raya  untuk bisa menjembatani atau lebih tepatnya ‘memaksa’ Arema kembali bersatu. InsyaAllah ada peluang Arema bersatu.

Entah siapa yang akan memulainya. Saya hanya bisa menulis ini. Untuk ke sekian kalinya. Pada usia 32 tahun Arema. Usia yang cukup dewasa, yang idealnya sudah dalam posisi mapan. Menyiapkan masa depan lebih baik. Bukan justru ditambah kepusingan munculnya klub baru yang juga pakai nama Arema.

Seperti Arema Malang United yang bikin heboh itu. Semoga tim dengan logo kuda jingkrak ini cukup dengan nama Malang United saja. Karena Arema identik dengan logo Singa bukan kuda.

Terlepas itu, ini juga jadi sebuah peringatan. Adanya kekhawatiran munculnya klub-klub lain dengan nama Arema. Apalagi sampai muncul di luar Malang. Misal pakai nama PS Arema, Putra Arema FC, Arema United atau nama yang lainnya.

Ya, jangan sampai peringatan berikutnya di usia 33 tahun atau 34 tahun nanti, justru benar-benar ada 3 tim Arema atau malah lebih. Kita semua ingin hanya ada satu Arema. Salam Satu Jiwa, benar-benar hanya untuk satu Arema. Arema yang lahir 11 Agustus 1987.  (*/ Malangpostonline.com)

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem
  • Penulis : Buari
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI