Kisah Sukses Anjas Pramono Sukamto,  Penyandang Tulang Rapuh

Semangatnya Tak Pernah Runtuh, Bulan Depan Diundang ke White House

  • 12-08-2019 / 23:13 WIB
  • Kategori:Malang, Nasional, Internasional
Semangatnya Tak Pernah Runtuh, Bulan Depan Diundang ke White House PERANCANG DIFODEAF: Sejumlah program acara dari stasiun televisi nasional antre mengundang Anjas Pramono Sukamto sebagai tamu, salah satunya Kick Andy Metro TV.

Anjas Pramono Sukamto, pemuda berusia 22 tahun ini memberikan inspirasi nyata. Ia menunjukkan kepada semua orang, bahwa keterbatasan bukan sebuah batasan untuk berprestasi. Ia masuk universitas terkemuka dan cemerlang di kancah internasional.

Anjas sapaan akrabnya, membuktikan diri lolos dalam ajang The Young Southeast Asian Leadership Initiative (YSEALI) 2019. Prestasi itu ia raih di tengah kondisinya yang mengalami kelainan pada tulang. Dalam bahasa medisnya disebut Osteogenesis Imperfecta.

Kelainan ini membuat tulang-tulang dalam tubuh Anjas mudah rapuh. Dalam artian lagi, jika ia sedikit saja melakukan aktivitas fisik secara berat fisik, tulangnya akan mudah rusak, patah ataupun bermasalah.

Namun keterbatasan tidak menghalangi ia menorehkan prestasi. Dalam ajang YSEALI 2019 lalu, Anjas menjadi salah satu delegasi.

Perlu diketahui sejak tahun 2013, YSEALI menjadi suatu program favorit mahasiswa di Indonesia. Di tahun 2019 saja pendaftar mencapai lebih dari 3.000 mahasiswa dari berbagai universitas. Namun hanya 3 delegasi yang berhasil lolos, salah satunya Anjas.

Pemuda kelahiran Kudus, 28 November 1997 juga saat ini adalah mahasiswa Teknik Informatika Universitas Brawijaya angkatan 2016.

Ia ingin membuktikan kepada orang-orang. Bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk sukses di tengah persaingan ketat dengan orang normal pada umumnya. Itu adalah motivasi terbesarnya, apalagi dulu ia sering diremehkan oleh orang lain.

"Banyak yang merendahkan, tetapi dengan semangat saya ingin menunjukkan kalau pasti bisa, dulu waktu SMP saya hampir tidak bisa sekolah," ujarnya.

Kepada Malang Post, Anjas mengaku dulu sempat mengalami susahnya masuk bangku SMP. Hampir semua sekolah menolak lantaran kondisi fisiknya yang dalam sehari-hari harus dibantu dengan penyangga. Bahkan banyak sekolah menyarankan untuk menempuh pendidikan di SMPLB.

Namun kisah sedih itu kini telah terlewati. Tak hanya mulai dilihat melainkan ia juga banyak diundang di berbagai acara, berkat prestasinya. Lolos dalam program YSEALI 2019 juga bukan perkara mudah, saingannya mahasiswa umum tanpa ada keterbatasan fisik.

Awalnya mengikuti program tersebut hanya sekadar iseng, namun tahap demi tahap lolos seleksi. Dan berkesempatan belajar di University of Nebraska Omaha selama 4 minggu mulai 21 September mendatang. Sedangkan satu minggunya lagi di istana kepresidenan Presiden Amerika Serikat atau White House.

"Jadi program YSEALI itu belajar di Amerika selama lima minggu, di sana kami akan membahas tentang program apa yang dicanangkan di Indonesia, saya sendiri mengusung dua hal pelatihan kerja untuk anak disabilitas dan program pendidikan seperti pramuka inklusi," jelas Anjas.

Jadi dalam pelatihan kerja untuk difabel ini nantinya mengajari mereka bagaimana membuat sebuah produk. Bagaimana bekerja sama menciptakan inovasi yang hasilnya bisa dijual belikan. Goals yang ingin dicapai adalah mereka yang memiliki keterbatasan bisa mandiri.

Program ini juga lebih mengutamakan aspek leadership. Anjas sudah terbiasa dengan hal itu lantaran dalam organisasinya PMII UB ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Komisariat periode 2019-2020. 

Tak cukup sampai di situ, sebelumnya Anjas juga dikenal dengan prestasi lainnya. Yakni merancang sebuah aplikasi untuk membantu anak-anak menggunakan bahasa isyarat. Aplikasi tersebut diberi nama Difodeaf.

"Aplikasi ini bisa mengubah kata maupun kalimat bahasa Indonesia atau Inggris ke dalam sebuah isyarat berbentuk gambar, tujuannya agar anak bisa menggunakan bahasa isyarat dengan mudah," terang Anjas.

Ketika edukasi tersebut sudah berjalan, harapannya tingkat diskriminasi dapat menurun. Diperuntukkan kepada anak-anak lantaran mereka saat ini menggemari  game untuk mengubah kebiasaan tersebut salah satunya melalui Difodeaf. 

Ketika mereka sudah mengerti maka saat mendapati temannya yang difabel bisa tetap berinteraksi. Tidak ada batasan antara penyandang disabilitas dengan yang normal karena mereka sudah bisa berkomunikasi melalui aplikasi tersebut.

"Dalam mengerjakan aplikasi ini saya tidak sendiri ada dua rekan lainnya yang turut membantu, awalnya terbentuk karena di Indonesia tingkat deskriminasi sangat tinggi dan angka penyandang difabel juga tinggi, ini adalah salah satu solusi," urainya. 

Berkat prestasinya itulah, banyak acara yang mengundangnya untuk menebarkan virus semangat kepada orang lain. Beberapa waktu lalu Anjas diundang Kemenpora dan bertemu langsung dengan Imam Nahrowi. Dalam kesempatan ini dirinya mendapat penghargaan Pemuda Hebat Tahun 2019 serta uang senilai Rp 15 juta.

"Pernah diundang juga oleh Kominfo, Menakertrans, PBNU, dan yang akan datang juga diundang oleh stasiun televisi di Indonesia seperti Kick Andy Metro TV dan Hitam Putih Trans7 tetapi masih rundingan jadwal," tutupnya.

Anjas berharap aplikasi Difodeaf mendapat perhatian pemerintah, membantu mengembangkannya agar diskriminasi bisa dicegah dan membantu para difabel untuk leluasa berinteraksi dengan semua orang. Juga agar mereka mampu mandiri dan sukses.(lin/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : abdi
  • Penulis : lin
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI