Diskusi Lari Sehat Minim Risiko (3/habis)

Bukan Kecepatan dan Jarak, Acuannya Heart Rate

  • 13-08-2019 / 23:04 WIB
  • Kategori:Malang
Bukan Kecepatan dan Jarak, Acuannya Heart Rate ANTUSIAS: Peserta diskusi Malang Post berharap ada diskusi lanjutan karena mereka mendapat wawasan baru dan bisa berbagi kiat.

LARI sedang jadi gaya hidup di Malang. Dengan berlari, masyarakat olahraga secara simpel dan menyehatkan. Tapi sebelum memulai, miliki dulu wawasan soal olahraga ini. Terutama goal setting dan kondisi tubuh.

Hal ini dibahas dalam diskusi rutin Malang Post bertema Lari Sehat Minim Risiko’, Jumat (9/8) lalu. Diskusi yang dipimpin Pemred Malang Post Dewi Yuhana  ini menghadirkan berbagai kalangan. Seperti Kolamara, trainer, Free Runners, PAMI, RGO, Active Movement hingga dua pakar. Yakni Prof. Dr. dr H. Djanggan Sargowo SpPD,SpJP(K), FIHA., FACC, dokter spesialis konsultan jantung dari RSSA Malang. Selain itu, , dr Nanang Tri Wahyudi SpKO, dokter spesialis olahraga satu-satunya di Jawa Timur, yang juga dokter tim Arema FC.

Diskusi ini memunculkan banyak gagasan dan wawasan baru soal lari. Contohnya saja, Abdul Manan, dari Bakorwil Malang. Baginya lari adalah olahraga minim risiko dibandingkan dengan olahraga berat lain. “Karena tidak ada kontak langsung dengan lawan. Berbeda dengan sepak bola,” ujar Manan dalam diskusi.

Dia mencontohkan, olahraga risiko yang bakal terjadi kontak dengan lawan, antara lain sepak bola, basket, futsal atau tinju. Potensi cedera dalam olahraga-olahraga tersebut sangat tinggi. Selain mengandalkan kontak tubuh,  juga memacu jantung dan paru-paru secara luar biasa.

“Olahraga seperti sepak bola tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga teknik. Selain itu, banyak faktor membuat olahraga seperti sepak bola, tidak terukur. Sehingga, jika dibandingkan lari, maka sepak bola jauh lebih berisiko,” tambah Manan yang juga trainer ini.

VO2Max yang dibutuhkan olahragawan, untuk survive hingga akhir pertandingan sepak bola atau basket, sangat tinggi. Sebaliknya  lari, adalah olahraga yang bisa terukur. Yakni, jarak pendek, jarak menengah, dan jarak jauh. Lari mudah dilakukan, karena untuk mengawali lari, tidak ada teknik khusus seperti sepakbola.

“Olahraga lari ini gak ada teknik, yang penting enjoy, siapkan diri, dan lawannya adalah diri sendiri. Lari juga terukur, karena ada jarak pendek, jarak menengah dan jarak jauh. Sehingga, alat ukuran jarak ini bisa dipakai untuk mengukur seberapa kemampuan diri,” sambung Manan.

Meski risiko lari lebih kecil dari olahraga sepak bola, bukan tak berisiko. Sebaliknya, semua olahraga berisiko, bila dilakukan tanpa perhatian dan ukuran yang benar. Dia pernah memarahi salah satu anak didiknya yang pelari, karena nekat mengikuti sebuah event marathon  tanpa pengetahuan batas kemampuan.

“Latihan dia itu belum sampai 21 kilometer, tapi dia memaksa ikut. Saya marahi habis-habisan, karena berbahaya. Walaupun dia finis, tapi itu tindakan yang melampaui kemampuan. Program dia dalam latihan lari belum sampai di situ,” tandas Manan.

Dia mengibaratkan, olahraga lari bagai memacu mesin sepeda motor. Mesin 100 CC, tidak akan bisa mengikuti kecepatan 200 CC. Begitu juga, muridnya tersebut masih berkapasitas 100 CC, tapi ikut lomba lari 200 CC.

Manan memaparkan, ada empat tahapan yang harus dilalui  seorang pelari. Pertama, daya tahan. Fase ini mendorong pelari untuk memiliki daya tahan dalam menempuh jarak lari tertentu. Kedua, kecepatan. Seorang pelari yang mengikuti lomba, dituntut berlari dalam kecepatan tertentu, dan hal ini bisa dilatih. Ketiga adalah speed endurance. Faktor ini lebih kepada konsistensi pelari.

“Jadi, speed endurance itu daya tahan kecepatan seorang pelari, untuk terus konstan. Misalnya berlari dengan kecepatan 15 kilometer per jam, mulai dari awal sampai akhir. Lalu, keempat adalah penguatan fitness, dalam hal ini penguatan jantung dan paru-paru,” sambung Manan.

Dia menyebut, kekuatan jantung dan paru-paru, adalah pondasi bagi semua atlet lari. Tanpa kebugaran jantung dan paru-paru, risiko mengalami kendala saat berolahraga cukup tinggi. Ia  menyebut, seorang pelari, bisa memulai latihannya dengan jarak pendek, lalu diprogramkan secara bertahap. Hingga kemudian ke jarak maksimal yang bisa diterima oleh kebugaran pelari.

“Malang cukup pas untuk menjadi tempat olahraga lari, karena udara dingin. Untuk mengawali olahraga lari, sebaiknya buat program. Awali latihan dengan jarak pendek, lalu meningkat secara bertahap,” rincinya. Selain itu, penguatan seluruh tubuh dalam latihan otot, ikut membantu dalam olahraga lari.

Karena ketika otot tubuh terbentuk secara merata di seluruh bagian, mulai dari atas sampai bawah, otot kaki yang menjadi tumpuan lari, akan terbantu dengan keseimbangan otot tubuh.

 

Latihan dan Patokan Detak Jantung

Suwandi dari PAMI Malang, berusianya 65 tahun. Dia pernah meraih medali emas cabang olahraga (cabor) lari 100 meter usia 60 di Sudamericano Master Atletismo XIX 2017 di Santiago, Cili. Selain itu, tahun  2018 lalu, dia meraih tiga emas di Kejuaraan Atletik Master Jakarta Open, serta dua emas dan dua perak di Kejuaraan Nasional Atletik Master Solo Open.

“Baru saja, saya juga dapat medali di Lampung, saat ikut kejuaraan master, dapat rentetan medali emas juga,” tandas Suwandi. Menurutnya, selama seorang pelari berlatih dengan benar, risiko bisa diminimalkan. Sampai usianya 65 tahun, Suwandi masih ruso untuk berlatih lari sekaligus mencetak prestasi.

“Yang jelas, bagi usia master, pernapasan harus benar-benar diatur. Ketika melakukan latihan, lalu merasa

  • Editor : van
  • Uploader : abdi
  • Penulis : fin
  • Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI