Redy Eko Prasetyo Ikon Prestasi Pancasila 2019

Minggu Depan Terima Penghargaan dari Presiden RI

  • 14-08-2019 / 22:40 WIB
  • Kategori:Malang
Minggu Depan Terima Penghargaan dari Presiden RI Seniman Kota Malang Redy Eko Prasetyo baru saja mendapatkan kabar bahwa ia menerima penghargaan Ikon Prestasi Pancasila 2019, rencananya diserahkan sendiri oleh Presiden RI Joko Widodo.

Siapa sangka, njagong di kampung bisa berbuah penghargaan bergengsi? Siapa sangka juga berkegiatan dari kampung ke kampung sederhana bisa mendapatkan apresiasi tinggi, bahkan dari Presiden Republik Indonesia. Ya inilah yang sebentar lagi dinikmati Redy Eko Prasetyo, seniman asli Malang.

Ia baru saja menerima surat pengumuman, yang menyatakan dirinya mendapat penghargaan Ikon Prestasi Pancasila 2019. Redy, sapaan akrabnya ditetapkan sebagai salah satu ikon Pancasila kategori social enterpreneur.Prestasi Redy ini mengharumkan Malang Raya di kancah nasional.

Hal ini erat kaitannya dengan jasa yang sudah ia berikan tidak hanya Kota Malang tetapi untuk Indonesia. Yakni lewat Jaringan Kampung (Japung) Nusantara. Hal ini dinilai berkontribusi dalam menebarkan nilai-nilai Pancasila sehingga menjadi sumber inspirasi dan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia.

“Iya betul. Rencananya penyerahan penghargaan Tanggal 18 Agustus nanti di Jakarta,” ungkap Redy kepada Malang Post kemarin.

Nama Redy sendiri juga bersanding dengan penggagas-penggagas inovasi lain seperti Saur Marlina Manurung penggagas Sekolah Rimba. Ada pula saudara kembar penggagas pendidikan alternatif bagi warga tidak mampu Sri Rossayati dan Sri Irianingsih. Redy nanti juga bersanding dengan Dokter Dermawan yakni dr. Lo Siaw Ging.

Ia menjelaskan dirinya tidak pernah mengetahui ada penghargaan tersebut. Tidak ada kompetisi, sepertinya, lanjut Redy tim dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI mengamati apa yang ia lakukan dengan jejaring kampung yang ia gagas.

Ya, Jaringan Kampung Nusantara yang didirikan oleh Redy sendiri pada awalnya tercetus pun hanya karena ia sedang berkunjung ke daerah lain melihat kampung budaya. Saat itu ide Jaringan Kampung Nusantara muncul pada gelaran festival kampung atau Hari Raya Kebudayaan. Festival yang diadakan di Kampung Temenggungan Banyuwangi, Jawa Timur, pada 17 Januari 2015.

“Kami buat karena ternyata selama ini ada pandangan kampung kerap diartikan negatif sebagai bentuk lawan dari kata ‘modern’. Padahal, kampung di Indonesia menjadi tempat di mana tradisi berasal dan kebudayaan kuat mengakar. Dari kampung, muncul semangat kebersamaan dan kerja sama,” jelasnya.

Redy saat itulah yang menjadu pencetusnya, kemudian berdirilah Jaringan Kampung Nusatara.  Komunitas ini terdiri dari beberapa festival kebudayaan yaitu Festival Kampung Cempluk Malang, Festival Jati 7 Jawa Barat, Festival Lima Gunung Jawa Tengah, Festival Kampung Pecinan Malang, Festival Kampung Rengel Tuban, Festival Kampung Paser Kalimantan Timur, Festival Kampung Temenggungan, Festival Karawang Art Village dan Festival Kampung Celeket.

Melalui Jaringan Kampung Nusantara, kami berharap tercipta ruang jejaring dalam saling silang potensi. Serta menguatkan kebudayaan Indonesia sekaligus menjadikan kampung sebagai penjaga persatuan Indonesia.

Setelah dibentuk Jaringan Kampung Nusatara juga membuat sebuah gerakan. Yakni mengajak seniman dan rakyat Indonesia untuk menggelar kesenian di kampung-kampung di Indonesia.

“Pertunjukan yang tidak diadakan secara eksklusif di dalam gedung kesenian, melainkan di jalanan sebagai ciri area kampung. Dan anggota-anggota Jaringan Kampung Nusantara ini akan saling mengunjungi warga kampung untuk berbagi ide dan berkolaborasi dalam aktivitas kesenian,” tegasnya.

Saat ini, terdapat 50 kampung di seluruh Indonesia yang tergabung dalam jaringan itu. Setiap kampung memiliki keunggulan tersendiri dengan karakteristik yang dimiliki oleh kampung tersebut.

Redy mengatakan, suatu hal yang patut menjadi perhatian adalah fenomena menomor duakan kampung. Hal ini menyebabkan kaum muda enggan untuk kembali ke kampung dan membangunnya. Padahal, setiap kampung memiliki potensi yang butuh untuk dibangun.

"Teman-teman pemuda yang ada di kampung kurang percaya diri hidup di kampungnya. Karena selama ini mindset yang berkembang hidup di kampung terkesan tidak keren," jelasnya.

Pria kelahiran 21 September 1979 itu juga mengatakan, membangun kampung dengan karakteristik budayanya berarti sudah menyebarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Sebab, budaya yang ada di kampung adalah gotong royong dan saling menghormati antar sesama.

Untuk mengekspresikan gagasannya tentang kampung itu, pria yang dikenal dengan seniman Dawai inilah yang kemudian menggagas Festival Kampung Cempluk pada tahun 2009. Festival itu menjadi agenda tahunan di Kampung Cempluk, Dusun Sumberejo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Festival Kampung Cempluk mengangkat budaya lokal yang ada di kampung tersebut. Kampung yang sudah padat dengan perkampungan, namun masih dihuni oleh penduduk lokal. Redy juga menggagas festival lain, yakni Festival Dawai Nusantara yang sudah beberapa kali diselenggarakan di Kota Malang.

“Ya saya sendiri baru tahu ada penghargaan ini. Bersyukur bisa diapresiasi. Semoga bisa menginspirasi yang lain,” tutup pria berambut gondrong nan ramah ini.(Sisca Angelina/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : ica
  • Fotografer : -

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI