trial_mode: on

Hakim Nyatakan Thomas Zacharias Gelapkan Uang Percetakan CV. MSA

  • 16-08-2019 / 19:45 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Hakim Nyatakan Thomas Zacharias Gelapkan Uang Percetakan CV. MSA GIRING: Petugas Kejari Malang menggiring Thomas Zacharias ke ruang sidang, Jumat (16/8) siang.

MALANGPOSTONLINE.COM - Raut wajah Herman Setiabudi dan Megawati terlihat sedikit kecewa usai melihat sidang putusan terhadap Thomas Zacharias, 68, mantan Direktur Percetakan CV. Mitra Sejahtera Abadi (MSA). Pasangan suami istri asal Jalan Kedondong, Kota Malang itu kaget karena warga Perum Bumi Mas Blok C1/17, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang tersebut divonis dua tahun penjara.

Padahal sebelumnya, JPU Kejari Kota Malang menuntut Thomas, panggilan terdakwa penggelapan uang dalam perusahaan itu, empat tahun penjara. "Kami hormati keputusan apapun. Kami menerima. Yang penting perbuatan terdakwa sudah terbukti dan dinyatakan bersalah," ungkap Herman usai sidang kepada Malangpostonline.com. Putusan ini, bagi dia juga membuktikan bila kasus pidana yang menggantung selama enam tahun itu, terselesaikan sekarang.

Saat ini, ia mengaku akan segera mengambil langkah hukum perdata kepada Thomas. "Ya, tadi kami melihat sidang, majelis hakim mengungkapkan bila istri saya menderita kerugian total sekitar Rp 770 juta dari perbuatan terdakwa. Ini yang akan segera kami ajukan gugatan perdatanya, setelah berkonsultasi dengan kuasa hukum kami nanti," tegas pengusaha Jakarta tersebut. "Bisa jadi nanti ada pidana lainnya dengan terlapor sama," tambah dia kepada malangpostonline.com.

Seperti diketahui, Thomas duduk di kursi pesakitan setelah enam tahun lalu dilaporkan menggelapkan uang percetakan sekitar Rp 900 jutaan, Percetakaan itu, berada di Jalan Indragiri IV Malang. Dia dipolisikan pasangan suami istri, Herman Setiabudi dan Megawati, pemilik perusahaan percetakan tersebut. Kasusnya sempat menggantung  di kepolisian dan akhirnya awal Juni 2019 lalu, berkas kasusnya dinyatakan sempurna oleh Kejari Kota Malang.

Dalam sidang putusan tersebut, majelis hakim berpendapat Thomas terbukti melanggar Pasal 374 KUHP yakni penggelapan dengan pemberatan. "Antara terdakwa dengan Megawati sebagai saksi pelapor ada kerja sama dengan pembagian keuntungan masing-masing 50 persen. Terdakwa juga tidak mau menjelaskan penggunaan uang perusahaan kepada saksi dari akuntan publik," terang Noor Ichwan Ichlas Ria Adha, SH, ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara ini.

Bahkan juga disebutkan, pemasukan dari rekanan percetakan, lebih banyak masuk dalam rekening pribadi Thomas dibandingkan rekening bersama yang dibuka untuk keperluan perusahaan. "Terdakwa juga tidak membuat pembukuan perusahaan sebagai persero aktif. Ini yang membuat Megawati sebagai persero pasif mengalami kerugian. Selain itu, dalam persidangan, terdakwa selalu berbelit-belit dalam memberikan keterangan," bebernya panjang lebar.

Putusan yang sempat diundur dua hari dengan alasan belum ada keputusan bulat dari majelis hakim ini, juga berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi yang diajukan jaksa ataupun penasehat hukum Thomas. Yang meringankan adalah dia belum pernah dihukum dan masih memiliki tanggungan keluarga. Mendengar putusan hakim ini, JPU Kejari Malang, Dhimas Adji Wibowo, SH masih pikir-pikir. Termasuk pula penasehat hukum Thomas dari Supreme Law Firm juga menyatakan pikir-pikir. "Jangan saya berkomentar. Yang lain saja," kata penasehat hukum Thomas. (mar/Malangpostonline.com)

  • Editor : mar
  • Uploader : slatem
  • Penulis : marga
  • Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI