Puncak Musim Kemarau, Potensi Kebakaran Lebih Tinggi

  • 19-08-2019 / 16:43 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Puncak Musim Kemarau, Potensi Kebakaran Lebih Tinggi MENYUSUT: Beberapa warga asyik memancing di waduk Dempok yang menyusut

MALANGPOSTONLINE.COM - Puncak musim kemarau, BMKG Karang Kates mengimbau masyarakat untuk hati-hati. Terutama terhadap bahaya kebakaran. Hal ini dikatakan oleh Kepala BMKG Karangkates, Musripan SE. Kepada Malangpostonline.com, Musripan mengatakan dengan udara yang kering ditambah hembusan angin sedikit kencang, membuat rentan terjadi kebakaran. 

"Ini yang perlu diwaspadai, yaitu kebakaran. Karena saat puncak kemarau, tidak ada hujan mengguyur, ditambah udara kering, membuat rentan terjadi kebakaran," katanya. 

Lantaran itu, Musripan pun meminta warga untuk berhati-hati. Terlebih masyarakat yang kesehariannya bekerja di hutan.

"Yang merokok, jangan membuang puntung sembarangan. Apalagi di kawasan hutan. Karena itu berpotensi mennculnya api," ungkapnya. 

Apalagi kata Musripan, kebakaran hutan sendiri sudah terjadi di wilayah Malang Raya. Ya sekalipun sudah dapat tertangani, tapi Musripan berharap itu tidak terjadi lagi.

"Selain bahaya kebakaran, di puncak musim kemarai ini juga terjadi kekeringan sumber mata air," ungkapnya. Musripan sendiri tidak mengetahui jelas wilayah mana saja, di Kabupaten Malang yang sudah mengalami kekeringan. Namun demikian, dia mengatakan wilayah Malang Selatan memiliki potensi bencana kekeringan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Itu karena wilayah Malang selatan secara geografis lebih tinggi darpada wilayah lain. Selain itu kawasan Malang selatan lapisan buminya didominasi batuan kapur, yang notabene tidak dapat menyerap air.

"Kalau pastinya  diwilayah mana saja kekeringan terjadi, kami kurang paham. Mungkin bisa langsung bertanya ke BPBD, yang menangani langsung masalah kekeringan," katanya.

Selain mata air yang ringan, debit air juga mengalami penyurutan. Seperti yang terlihat di Waduk Dempok Pagak. Di tempat ini air mulai menyusut. Tapi demikian, kondisi tersebut tak menyurutkan warga untuk memancing. Terbukti, warga masih banyak yang beraktifitas memancing di waduk tersebut.

Sementara itu Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Abdul Rochim mengatakan sampai dengan saat ini baru dua desa yang sudah mendapatkan suplai air akibat kekeringan. Yakni Desa Sumberagung dan Desa Ringin Asri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. 

"Sampai dengan saat ini masih dua desa ini yang mendapat suplai air. Sedangkan lainnya belum ada laporan," katanya. Abdul Rochom mengatakan air yang disuplai sebanyak 6000 liter per masing-masing desa.

"Kapasitas tangki kami 3000 liter. Setiap hari di masing-masing desa mendapatkan suplai air dua kali. Jadi total air yang disuplai  6000 liter untuk masing-masing desa," ungkapnya. 

Untuk mendapatkan air sendiri warga tidak perlu mengantre. Tapi cukup ditandon yang dipasang di area desa tersebut.
"Karena saat ini ada tandon yang dipasang oleh Perumda Tirta Kanjuruhan. Ini memudahkan kami menyuplai air. Dan warga juga mudah untuk mengambil air," tandasnya.

Sementara. Itu Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan  Bahaya Kebakaran, Goly Karyanto,  menyebutkan pada bulan Agustus ini sudah terjadi lebih dari lima kejadian. Dia membenarkan jika musim kemarau, potensi kebakaran lebih tinggi. Lantaran itu, Goly pun meminta masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati. (ira/Malangpostonline.com)

Editor : ira
Uploader : irawan
Penulis : ira
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU