trial_mode: on
Home > > Opini

Eksaminasi Kemabruran Haji

  • 22-08-2019 / 22:09 WIB
  • Kategori:Opini
Eksaminasi Kemabruran Haji

Jutaan manusia berkumpul “berwisata spiritualitas” di tanah Arab tahun ini. Makkah dan Madinah menjadi dua tempat utama yang dikunjungi para jamaah. Sudah mulai banyak jamaah haji yang kembali ke tanah air. 

Maret lalu, Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Hal itu dapat dilihat dari waiting list keberangkatan calon jamaah yang tercatat. Diperkirakan mencapai 5,24 juta jiwa pada Tahun 2022.

Menurut Menko itu, besarnya jumlah jamaah haji asal Indonesia tersebut sejalan dengan membaiknya indeks kepuasan Jamaah Haji di Indonesia terhadap layanan Pemerintah dalam Ibadah Haji, yaitu dari angka 84,85 pada 2017 menjadi 85,23 pada 2018.

Semua jamaah itu berkeinginan mendapatkan prediket haji mabrur. Sabda Nabi, salah satu sifat haji yang berstigmakan ”mabrur” adalah adanya peningkatan prestasi amaliah sosialnya antara sebelum dan sesudah menunaikan ibadah haji.  Ini artinya, stigma haji mabrur sangat ditentukan oleh tingkat produktifitas amaliah sosial.  Tanpa amaliah sosial atau lemah etos kepejuangan dalam menghadirkan perubahan membuatnya tak selayaknya menyandang prediket itu.

Kembalinya mereka ke tanah air, tergolong  tepat, karena prediketnya dalam ranah formalisme agama  “haji” benar-benar dihadapkan pada ujian riil menjawab problem keumatan yang berupa banyak dan beragam eksaminasi (ujian) kemanusiaan, yang problem ini menjadi  pertaruhan nilai spiritualitasnya.. 

Misalnya bagi siapapun pemangku kekuasaan yang sedang mengunjungi ”rumah Allah” (baitullah),  salah satunya dituntut konsekuensi spiritualitas sosial saat kelak kembali ke tanah air untuk mengunjungi masyarakat yang sedang menghadapi problem ketidakberdayaan ekonomi (kemiskinan, kurang gizi, dan seterusnya).

Di tangan  mereka itu, ”surga sosial”  secara empirik menuntut dihadiri atau menunggu pembuktian kinerjanya. Kata Nabi Muhammad kepada sahabatnya “tempat terbaikku adalah orang-orang kecil, orang-orang miskin, dan orang-orang yang kalah”.

Kondisi orang kecil atau kesusahan memang bukan hanya berhasil ditemukan di area bencana alam, tetapi juga di lingkaran struktural, kultural, dan sosial.  Sebagai sampel, saat mencuat diskresi pembangunan di daerah yang bermodus menggusur kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau), maka sebenarnya disinilah bisa disebut eksaminasi serius kemabrurannya, karena dalam kompetensi atau amanat kekuasaanya, dirinya ikut terlibat bertanggungjawab ketika terjadi destruksi ekologis.

Dapat terbaca fenomena memprihatinkan bahwa destrksi RTH telah menjadi salah satu factor yang melahirkan bencana ekologis dimana-mana, khususnya di kawasan perkotaan. Reduksi RTH akibat salah kebijakan pembangunan misalnya telah membuat hancurnya ketahanan konstruksi ekologis perkotaan.

Di sejumlah wilayah Indonesia, kawasan perkotaan sekarang lebih sering diidentikkan dengan kawasan rentan bahaya dibandingkan dengan sebutan sebagai kawasan yang ramah manusia.

''Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (al-husna) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.'' (QS Yunus: 26), adalah firman Tuhan, yang mengingatkan kepada manusia supaya peran kesejarahan para jamaah haji benar-benar menaburkan kebaikan di tengah masyarakat.

Dalam ranah lebih luas lagi, mereka itu akan menjadi pilar-pilar berdirinya konstruksi “surga sosial”, suatu potret dari masyarakat, daerah, atau bangsa yang mencita-citakan terwujudnya pemerataan kesejahteraan, kesehatan, dan kedamaian, serta hubungan harmonis dan inklusif antar golongan, jika perbuatan yang ditampilkannya bermaknakan memberi, memanfaatkan kekayaan Tuhan secara normal, dan mengabdikan peran-peran humanitasnya demi masyarakat yang mengalami kesulitan.

Dalam konstruksi tersebut, tak akan ditemukan seseorang atau sejumlah orang yang hanya menjadi pengamat, peminat, dan apalagi penonton terhadap saudaranya yang sedang menghadapi keprihatinan akibat bencana  alam, kesulitan ekonomi, atau berbagai bentuk ujian yang membuatnya berada dalam posisi terpinggirkan, karena dalam dirinya merasa punya semangat menunjukkan kemabruran.

Itu menunjukkan, bahwa masyarakat akan merasa aman atau terlindungi hak-haknya ketika komunitas subyek kekuasaan atau kelompok elitis bergelar “haji” bisa mencegah diri dari melakukan dan mengeksplorasikan tangan-tangan kotor atau aktifitas bercorak zalim.

Kita bisa memahami, bahwa tangan-tangan kotor atau jahat terbukti telah menjadi pangkal terjadinya dan meluasnya beragam dan banyaknya kasus disharmonisasi sosial, agama, politik, ekologi, dan sektor-sektor strategis lainnya, yang tidak sedikit diantaranya pelakunya sudah menyandang prediket haji. Mereka tidak menyadari kalau “hajinya” sedang dalam eksaminasi berkelanjutan.

Dalam tataran tersebut, jelas dibutuhkan kekuatan komunitas haji yang benar-benar di dalam dirinya membara keinginan membuktikan “jihadnya” pada negeri ini secara fitri dan maksimal, menunjukkan etos berkurban secara produktif dan kreatif, bukan mencari dan menahbiskan derajat formalisme keagamaan. 

Mereka itu harus berani “blusukan” dan menggalang kebersamaan (jamaah) sebagai wujud semangat dan komitmen berkurban  untuk menjemput  dan membebaskan masyarakat papa yang memegang kunci ”surga Allah”.

Mereka itu berkewajiban merehabilitasi dan memberdayakan  masyarakat lemah menjadi masyarakat kuat sebagai konsekuensinya dalam membangun ”surga Indonesia”, baik dengan cara misalnya menggalakkan model pembangunan berbasis kepentingan empirik masyarakat kecil, atau menunjukkan jiwa karitas sosialnya lintas etnis, agama, politik, pendidikan, cultural, dan lainnya.

Mereka itu bukanlah penonton yang damai dalam kediamannya dengan menikmati gelar formalitas keagamaan dan pahala ritualitas spiritualitas, tetapi sekumpulan kekuatan strategis negara yang berkewajiban membebaskan masyarakat dari akar kriminogen dan dampak kebijakan atau perilaku yang menghadirkan nestapa sosial kemanusiaan.

Supaya menunaikan ibadah haji kita mencapai derajat kemabruranm, doktrin agama yang menuntut pembuktian dengan realisasi peran jadi sosok pejuang atau pengimplementasi amanat dimanapun berada, haruslah digalakkan dan diprogresifitaskan. Kepergian ke tanah suci mengandung tanggungjawab “khusus” untuk membumikan pengabdian pada masyarakat secara  maksimal saat kembali ke tanah air, dan bukan memaksimalitaskan pengeliminasian  amanat. (*/Malangpostonline.com)

  • Editor : oci
  • Uploader : slatem
  • Penulis : ist
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI