Penilaian ISTA 2019, Desa Wisata Berbasis PKK Waturejo Berpotensi Juara

  • 23-08-2019 / 16:18 WIB
  • Kategori:Batu
Penilaian ISTA 2019, Desa Wisata Berbasis PKK Waturejo Berpotensi Juara SAMBUT: Tari Jongjang Riang dibawakan SDN 2 Waturejo menyambut tim peniliaan visitasi lapangan ISTA 2019 yang dipimpin oleh Prof. Riant Nugroho, di Kantor Desa Waturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang siang tadi.

MALANGPOSTONLINE.COM - Tiga destinasi wisata di Kabupaten Malang masuk dalam nominasi Indonesia Sustainable Tourism Award 2019 (ISTA 2019) yang digelar Kementerian Pariwisata Republik Indonesia RI (Kemenpar RI). Tiga Destinasi Wisata itu yakni Desa Wisata Adat Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Desa Wisata Berbasis PKK Waturejo, Kecamatan Ngantang dan Desa Wisata Sanankerto, Kecamatan Turen.

Jumat (23/8) pagi hingga sore ini, tim peniliaan visitasi lapangan ISTA 2019 yang dipimpin oleh Prof. Riant Nugroho selaku staf khusus Kementerian Pariwisata melakukan penilaian di Desa Wisata berbasis PKK Desa Waturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Setelah sebelumnya dua destinasi wisata Desa Wisata Adat Ngadas, Kecamatan Poncokusumo dan Desa Wisata Sanankerto, Kecamatan Turen telah dilakukan penilaian.

Dalam visitasi yang dilakukannya, Riant menyampaikan bahwa Desa Wisata Berbasis PKK di Waturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang ini sangat menarik. Pasalnya desa wisata tersebut dikelalo oleh tim penggerak PKK desa. Bahkan ia menyebutkan bahwa Desa Wisata Berbasis PKK di Waturejo diungkapnya sudah layam masuk desa wisata kelas internasional. 

"Ini kesekian kalinya desa wisata masuk ke kelas dunia. Pasalnya sesuai dengan kriteria ISTA bahwa desa wisata tidak eksplotatif. Tapi sustainable atau berkelanjutan," ujar Riant Nigroho kepada Malang Post, Jumat (23/8) siang ini.

Ia menjelaskan, Desa Wisata Berbasis PKK Waturejo setidaknya memiliki prinsip berkelanjutan. Melihat adanya keberagaman destinasi yang ada. Sehingga Waturejo berpotensi besar untuk menjadi salah satu kandidat untuk memenangkan ISTA 2019.

Menurutnya, Desa Waturejo brandnya adalah desa PKK. Ini adalah keunikannya. Sehingga bisa dicontoh oleh desa wisata lainnya. Karena itu ia berharap Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dimas Paristawa mampu mempromosikan Desa Waturejo dengan maksimal. 

Untuk penilaian ISTA, diungkapnya yang menjadi penentu adalah kekuatan budayanya. Ia mcontohkan misalnya di Trowulan, Kabupaten Mojokerjo yang setiap bangunan rymah warganya menggunakan batu bata jaman kerajaan Majapahit. 

"Karena itu dengan beragam destinasi budaya yang ada di Desa Waturejo bisa dimanfaatkan untuk mensejahterahkan masyarakat desa," imbuhnya.  

Tak hanya itu, Riant juga terpesona dan memuji dengan Pemerintah Desa Waturejo yang memanfaatkan dana APBDes sejumlah 70 persen untuk pembangunan dan peningkatan SDM masyarakatnya. Sedangkan untuk pembangunan fisik hanya 30 persen. 

"Ini sangat bagus karena APBDes 70 persen untuk pembangunan SDM. Sedangkan pembangunan fisik hanya 30 persen. Ini pembangunan dari desa yang termanajemen dengan baik," bebernya.

Ia menambahkan, dengan mengutamakan pembangunan masyarakat melalui permodalan dan pelatihan akan mensejahterahkan masyarakatnya. Meodel tersebut diungkapnya bisa menjadi contoh dan akan disosialisasi diberbagai desa. 

Lebih lanjut, setelah dilakukan visitasi dalam tahapan final yang diikuti oleh 31 peserta yang lolos tersebut. Nantinya semua peserta akan dipanggil pada 27 September tepat pada hari pariwisata internasonal untuk diumumkan enam pemeangnya. 

Sedangkan untuk penilaian rapat dewan juri dilakulan pada tanggal 27 Agustus bulan ini. Dengan penilian dilakukan tak hanya melalui data. Tapi dialog dengan masuyarakat desa hingga mengunjungi destinasi wisata yang ada di desa.

Sementara itu, Kades Suroso Karyo Utomo menyampikan bahwa Desa Wisata Berbasis PKK yang berkelanjutan hanya ada satu di Indonesia. Yakni di Desa Waturejo yang memiliki banyak destinasi budaya meliputi pertapaan petilasan Trunojoyo, makam mbah Jaya Katwang.

Kemudian sumber mata air Ngesong, punden Krapyak yang merupakan ritual untum menghormati leluhur Waturejo, hingga kesenian Kuda Lumping yang terus dilestarikan warga desa.

"Melalui potensi Desa Wisata Berbasis PKK ini kami harap mampu mensejahterahkan masyarakat. Karena dengan pengembangan wisata berbasis PKK ini nantinya akan mampu menjaga kelestarian budaya, sosial, dan peningaktan ekomoni masyarakatnya secara gotong royong. Artinya pengembangan wisata akan berkelanjutan," urainya.

Tak hanya itu, Desa Waturejo juga mewajibkan warganya memiliki kawasan rumah pangan lestari (KRPL), gazebo tiap jalan-jalan desa sebagai tempat diskusi, adanya Perdes larangan merokok di dalam rumah, rumah batik, rumah anyaman, rumah pengrajin cobek, hime stay, dan tempat pengolahan sampah 3R. (eri/Malangpostonline.com)

Editor : eri
Uploader : irawan
Penulis : eri
Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU