trial_mode: on
Indahnya Bhinneka Tunggal Ika di Bhumi Arema

Forpimda dan Pemuda Se-Nusantara Makan Satu Tempeh

  • 23-08-2019 / 23:26 WIB
  • Kategori:Malang, Kabupaten, Batu
Forpimda dan Pemuda Se-Nusantara Makan Satu Tempeh DAMAI: Suasana barikan tempeh dalam deklarasi Bhinneka Tunggal Ika Indah di Bhumi Arema antara Forpimda Malang Raya dan para mahasiswa di Simpang Balapan.

“Tanah Papua tanah leluhur, di sana aku lahir. Bersama angin bersama daun, aku di besarkan. Hitam kulit keriting rambut, aku Papua. Hitam kulit keriting rambut, aku Papua. Biar nanti langit terbelah, aku Papua.” Sepetik lagu yang dipopulerkan Edo Kondologit, menggema di Jalan Simpang Balapan, Kota Malang, Jumat (23/8).

Di antara sensitivitas konflik horizontal yang mendera Indonesia, lagu ini tersiar di tengah Kota Malang. Lagu ini berkumandang bersama lagu perjuangan dan lagu persaudaraan. Karena, kelompok mahasiswa Malang Raya, PMII, GMNI dan HMI Malang, GP Ansor, KNPI dan organisasi pemuda lainnya, menggagas deklarasi Indonesia Tersenyum dengan bingkai Bhinneka Tunggal Ika Indah di Bhumi Arema.

Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Malang Raya, hadir dalam gerakan bernama Indonesia Tersenyum dan Malang Tunggal Ika ini. Mahasiswa dari penjuru nusantara, dari Aceh sampai Papua, hadir dalam deklarasi ini, untuk menyuarakan kedamaian dari Malang. Mereka datang di dalam deklarasi dengan pakaian maupun atribut adat dari masing-masing daerah.

Karena Malang miniatur nusantara tempat semua anak muda Indonesia berkumpul dan menempuh studi, spirit menyulam kebangsaan terlihat jelas di Simpang Balapan. Deklarasi ini semakin lengkap, karena sumpah pemuda berkumandang. Dengan nada lantang, mahasiswa dan Forpimda Malang Raya, menyerukan suara anak muda yang merindu perdamaian.

Perwakilan Papua yang hadir, David Christian Nau bersama Wali Kota Malang, Sutiaji menanam pohon perdamaian di taman Hamid Rusdi Simpang Balapan. Prosesi ini didampingi Wawali Sofyan Edi, Dandim Letkol Inf Tommy Anderson dan tiga Kapolres Malang Raya, AKBP Asfuri, AKBP Yade Setiawan Ujung dan AKBP Budi Hermanto.

Semua spirit kebersamaan dari penjuru nusantara, semakin gayeng dengan barikan Malang Tunggal Ika. Seluruh mahasiswa dan Forpimda Malang Raya, duduk bersila dan menyantap bersama hidangan dalam nasi tempeh. Semuanya, menyantap nasi tempeh dengan cara muluk atau makan pakai tangan.

Ketua GMNI Malang Raya, Rachmat Arief Budiman, menyebut Indonesia Tersenyum dan Malang Tunggal Ika, adalah bentuk jawaban atas keresahan anak muda atas konflik ini. “Ini adalah bakti kami, anak-anak bangsa, bagi negeri ini. Indonesia Tersenyum, merupakan upaya kami, melindungi keBhinnekaan, dengan cara ala anak-anak muda,” ujar Rachmat.

Ketua HMI Cabang Malang Raya, Sutriyadi mengatakan bahwa kegiatan ini digagas untuk merekatkan kembali tali silaturahmi di antara para pemuda. 

"Tersenyum itu bahasa universal yang merekatkan semua. Ke depan Malang Tunggal Ika juga akan menjadi forum silaturahmi yang akan terus eksis dan menjaga keberagaman di Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu,” tandas Sutriyadi.

Perwakilan mahasiswa Papua, David Christian Nau, berterimakasih atas adanya deklarasi ini. Dengan ini, dia bisa semakin meyakinkan keluarga dan rekan-rekannya di Papua, bahwa Malang tidak seperti yang dituduhkan. Menurut David, dia merasa tenang dan aman-aman saja selama berada di Malang.

“Saya terima kasih dengan Wali Kota dan jajaran bikin event ini. Yang berlalu biarlah berlalu. Malang masih banyak orang-orang berpikiran terbuka. Soal yang lalu itu oknum-oknum. Saya pastikan kepada keluarga di Papua, saya masih baik masih aman-aman, tidak kurang apapun,” tandas David yang berasal dari Timika itu.

Wali Kota Malang, Sutiaji menyebut bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus ditabrakkan. Dia menyebut bahwa tanpa Malang, tidak ada Indonesia, tanpa Papua, juga tidak ada Indonesia. Bangsa ini terdiri dari Sabang Sampai Merauke. Sehingga, semua suku bangsa di dalamnya, menjadikan Indonesia utuh.

“Tuhan punya kekuatan, untuk membuat semua manusia sama. Tapi kenapa Dia menciptakan kita berbeda. Karena, perbedaan adalah hal yang indah. Tanpa Papua, tak ada Indonesia, tanpa Malang, juga tak ada Indonesia. Indonesia, adalah dari Aceh sampai Papua,” sambung Sutiaji saat berorasi.

Dia menyerukan agar melupakan semua kejadian yang lalu, serta menyongsong masa depan keBhinnekaan yang lebih baik di masa depan. Saat Malang Tunggal Ika bertemu lagi, Sutiaji pun berharap, spirit persaudaraan, semakin membara, dari seluruh anak-anak muda Indonesia yang berstudi di Malang.

Baginya, Kabar Damai dari Antok Baret sangat tepat menutup deklarasi ini. ‘Satukan jiwa, satukan rasa. Damai di hati kita bersaudara. Satukan jiwa, satukan rasa Damai di hati kita bersaudara. Damai, damai, saudaraku. Jabat erat penuh kasih sayang. Untuk apa terus bertengkar.Pertemuan ini adalah kabar.”(fin/ary)

  • Editor : ary
  • Penulis : fin
  • Fotografer : fin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI