trial_mode: on
Smart Beauty

Lahirkan MAWWS dari Kegelisahan

  • 26-08-2019 / 00:55 WIB
  • Kategori:Malang
Lahirkan MAWWS dari Kegelisahan Aquarina Kharisma Sari.

Menulis bukan hal yang sulit, hanya tinggal membiasakan. Hal inilah yang dikatakan oleh Aquarina Kharisma Sari. Gadis 25 tahun ini mengaku sangat gemar menulis.

Bahkan, lantaran kegemarannya itu, Rina begitu sapaan akrabnya, mendirikan komunitas  Malang Women Writer’s Society (MAWWS).
MAWWS lahir pada Febuari tahun 2019 lalu. Di mana komunitas ini dibuat untuk memberikan wadah para wanita yang ingin menulis. “Jadi di komunitas ini, sebagai wadah kami berkumpul, dan berdikusi tentang  tulisan, ataupun budaya,” katanya.

Rina mengatakan jika berdirinya MAWWS, berawal dari kegelisahannya melihat adanya kesan Jakarta sentris di daerah-daerah seluruh Indonesia. Jakarta sentris ini tercipta lantaran daerah lain kerap digambarkan sebagai daerah primitif. 

“Padahal tidak demikian kan. Seperti di Jawa Timur, sudah maju. Mallnya banyak, pendidikannya maju. Dan ini tidak dianggap. Warga pun banyak meniru budaya Jakarta di sini,” katanya. 

Untuk mengedukasi masyarakat tentang hal itu, tidak bisa hanya dengan lisan. Tapi juga tulisan. “Dari komunitas inilah kami menyajikan data. Menyajikan tulisan, agar masyarakat membaca,” ungkapnya.

Tentu saja, data yang diberikan pun bukan data biasa. Dia mengatakan, untuk menyajikan informasi secara lengkap, dia dan komunitasnya tidak jarang melakukan penelitian. Tidak hanya di Malang, tapi juga di luar Malang. 
“Karena kaitannya budaya tentu kami tidak ngawur. Semuanya tersajikan by data. Tapi untuk kemasan tulisannya, tidak melulu menggunakan gaya bahasa lama. Terlebih jika tulisan itu ditujukan kepada generasi milenial, maka bahasa yang dipakai adalah bahasa sekarang, karena lebih bisa dicerna,” terangnya.

Rina mengaku kesukaannya menulis ini diawali dari dia yang hobi membaca. hobi itu dimilikinya sejak kecil. “Saya baca novel. Di situ ceritanya beragam, dan inilah yang membuat saya ingin menulis dan menjadi penulis,” akunya. 

Rina juga mengatakan, karena kegemarannya itu, diapun melahirkan sebuah novel. “Judulnya Hingga Pantai Seberang. Ada tiga bab di novel itu, dengan cerita yang runtut,” katanya. 

Dia mengatakan, jika novel tersebut dibuat sebagau gambaran zaman sekarang. Dan bahasa yang digunakan pun bukan bahasa yang ribet. Tapi simple dan mudah dimengerti.

“Sehingga yang membaca diharapkan juga tidak kesulitan memahami isinya,” tandasnya.(ira/ary)

 

  • Editor : ary
  • Uploader : abdi
  • Penulis : ira
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI