Sobat Ambyar

  • 10-09-2019 / 07:50 WIB
  • Kategori:Catatan
Sobat Ambyar

Ada lo, seminar nasional patah hati.
Mungkin ini yang pertama di Indonesia. Hebat betul nih panitianya. Atau yang punya ide.

Seminar nasional patah hati 'Tragis Tapi Manis'. Begitu judul seminarnya. Senin, 9 Juli 2019, di Kota Malang.

Momen lagi boomingnya lagu-lagu Didi Kempot, jadi ide dasar seminar ini. Mewadahi sobat ambyar yang lagi fenomenal.

Patah hati dikemas sedemikian rupa, hingga bisa 'dijual' pada publik. 

Berita selengkapnya coba klik link berita ini: Marak sobat Ambyar, Geber Seminar Nasional Patah Hati

Atau ketik di mbah google: seminar patah hati malangpostonline. Muncul beritanya.

Menarik. Pematerinya dipilih seorang profesor. Ya, sebuah fenomena bangkitnya lagu-lagu campursari ala Didi Kempot dengan julukannya sebagai The Godfather of Broken Heart.

Dalam hati saya bertanya, ini patah hati kok jadi kebanggaan ya? Seperti menemukan komunitasnya.

Apalagi ini lagu-lagu patah hati mulai banyak digemari anak muda. Jangan-jangan, sebuah gambaran fakta bahwa banyak anak muda yang lagi patah hati. 

Jumlah sobat ambyar atau sadboys dan sadgirl terus tumbuh. Coba cek akun IG resmi sobat ambyar, terus bertambah. Termasuk saya ikut bergabung...

Buat seru-seruan, menikmati fenomena yang terjadi. Kebetulan dari dulu memang sudah sering menikmati lagu-lagu Didi Kempot. Asyik.

Kini, lagu dari 'Bapak Loro Ati Nasional' itu lagi naik daun. Bukan lagi dari kalangan 'lawas' seperti saya, anak muda yang mungkin gak ngerti bahasa jawa ikut menikmati. Rasanya power of medsos punya peran disini. 

Asal viral, bisa terkenal. 
Kebetulan, lagu Didi Kempot memang sangat mengena. Menyentuh hati, sangat dalam. Kalau urusan patah hati. 
Segitunya, ya memang begitu. 

Entah patah hatinya barusan, atau sudah lama, kena banget. Saya sempat lihat salah satu penggemar perempuan, ikut menyanyikan lagu Cidro, sampai haru biru meresapinya. Ya lucu, ya terharu. Dilengkapi captionnya ‘Semoga dapat penggantinya yang lebih baik ya mbak’

Fenomena ini rasanya bukan hanya tren ikut-ikutan saja, tapi ada semacam 'obat penenang' di lagu-lagu Didi Kempot yang sudah berkarya sejak tahun 1989. Dia bukan penyanyi musiman atau musisi dadakan.

Kalau saya bilang, wes wayahe. Ini waktunya Didi Kempot 'panen' atas kesabarannya berkarya. Hingga akhirnya bisa menemukan zaman yang pas. Meski namanya patah hati, ya begitu itulah. Mau dulu atau sekarang, patah hati ya patah hati.

Siapa sih yang tak pernah patah hati? Dalam arti yang luas, dan untuk banyak hal. Namanya patah hati, bisa terjadi kapan saja, pada siapa aja. Apalagi kalau itu urusan asmara, lebih berasa. 

Nah, tembang Didi Kempot inilah yang seolah jadi pelepas emosi patah hati. 

Meski sebenarnya, menikmati lagu Didi Kempot juga tak hanya karena ingin melupakan soal patah hati. Intinya untuk hiburan. 

Khususnya menghibur yang lagi patah hati, hehehe. 

Patah hati karena dibohongi. Karena janji yang tidak ditepati. Entah janji yang mana?

Remuk ati iki yen eling janjine
Ora ngiro jebul lamis wae
Dek opo salah awakku iki
Kowe nganti tego mblenjani janji

Begitu penggalan lirik lagu Cidro yang lagi digandrungi anak muda. Mungkin kamu juga ya?

Semoga, meski Sobat Ambyar ini terus bertambah, bahkan sampai harus diseminarkan, bukan berarti semakin banyak orang patah hati di Indonesia ini. 

Jangan sampai menjadikan patah hati sebagai komoditi. Khawatir berikutnya muncul kalimat, 'Kalau gak sakit hati, gak keren'. Janganlah!

Kalau bisa kan seperti pasangan Aghnia-Nukky yang lagi happy. Baru saja lamaran. Bahagia. 

Perjalanan cinta mereka, begitu menarik. "Ketika melihat dia tersenyum dan merespon bercandaan aku, saat itulah aku jatuh cinta pada Aghnia," ungkap Reinukky mengutip berita di www.malangpostonline.com.

Cek beritanya: Dipertemukan Oleh Takdir, ini Perjalanan Cinta Aghnia-Nukky

Turut mendoakan, semoga lancar hingga jenjang pernikahan. Jadi keluarga yang Samawa. Dan semoga pasangan ini tak perlu ikut anggota Sobat Ambyar. 

Biarlah yang urusan tragis dinikmati Sobat Ambyar ini, yang manis milik Aghnia-Nukky.

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : Buari
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU