Hujan Deras, Turunlah...

  • 16-09-2019 / 23:37 WIB
  • Kategori:Catatan
Hujan Deras, Turunlah...

“Di bidang lingkungan hidup, di bidang lingkungan hidup, kita ingin kebakaran hutan, kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi, dan ini sudah bisa kita atasi. Dalam tiga tahun ini, tidak terjadi kebakaran lahan hutan, bahkan lahan gambut, dan itu adalah kerja keras kita semuanya,” ungkapnya.

Masih ingatkah dengan kalimat itu? Kalau lupa, itu disampaikan saat kampanye Pilpres beberapa waktu lalu.

Saya mendengar dengan jernih rekaman suara itu. Dalam sebuah postingan di grup WA. Suara ini berlatar gambar sebuah headline berita di Radar Sampit yang berjudul ‘Omong Kosong Presiden’.

Itulah awal perbincangan hangat di grup WA rekan seangkatan, Senin (16/9) malam. Seputar bencana asap. Betapa musibah ini sudah pada taraf membahayakan.

Ikut merasakan, bagaimana kondisi rekan-rekan saya di Riau dan Kalimantan yang terdampak asap.

“20.05 malam ini.. Asap semakin pekat.. Mohon doanya yaa.. Semoga kami di sini baik-baik saja..” ungkap Heni, rekan angkatan 97 FTP UB di grup WA tersebut.

Merinding saya di ruang kerja Malangpostonline.com. Ruang ber-AC dingin, tanpa gangguan asap.

Membayangkan teman saya di Riau. Dan ribuan keluarga lainnya yang tengah berjuang dalam kepungan asap.

Berpikir, apa yang bisa saya perbuat? Dan mungkin jadi kegelisahan rekan-rekan yang lain, apa yang bisa kami bantu untuk mereka di sana. Selain mendoakan agar asap segera lenyap.

“Kami sudah Istisqo rutin di sini. Hujan yang datang cuma gerimis. Belum mengatasi asap yang ada. Berharap hujan sederas-derasnya.. Aamiin Yaa Robbal'aalamiin,” sambung Heni mendapat Aamiin dari rekan-rekan di grup WA.

Lalu Heni mengirim foto kondisi jam 10 pagi di Riau, begitu pekatnya asap di sana. Aktivitas sekolah pun sudah diliburkan sekitar satu minggu ini.

Tomy, teman di Sampit, Kalimantan Tengah pun mengirim perkembangan Konsentrasi Partikulat (PM10) di Sampit. Per jam dia tunjukkan gambaran kondisi udara di daerahnya, mulai kondisi baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Asap kebakaran hutan ini mengandung partikel-partikel halus dan gas beracun. Sangat berbahaya. Khususnya bagi anak-anak, lansia, wanita hamil, penderita sakit jantung dan paru-paru.

Termasuk penderita asma. Seperti Azka, putra kedua saya yang harus mendapat perawatan medis setelah dikepung asap rokok saat menghadiri undangan di rumah tetangga. Itu baru asap rokok.

Tak bisa dibayangkan, kalau berada di Riau, Jambi atau di Sumatera Selatan yang kini dalam status siaga darurat.  Udara di tiga wilayah ini dinilai sangat tidak sehat, dan beberapa kali tercatat berbahaya khususnya di wilayah Pekanbaru.

Untuk wilayah Kalimantan, siaga darurat berlaku di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Khusus Kalimantan Tengah dengan 548 titik panas, kualitas udaranya sudah berbahaya.

Jika melihat data yang dikirim Tomy, jam per jam di Sampit, tercatat pada pukul 07.00 konsentrasi PM10 adalah 841.78 µg/m3. Ini yang tertinggi, dan angkanya berkisar antara 400 hingga 800 µg/m3. Sementara nilai ambang batas (NAB) harian PM10 adalah sebesar 150 µg/m3, wow....

BMKG mengukur kualitas udara dengan parameter kandungan PM10 (partikulat matter 10) yaitu partikel yang ada di udara berukuran di bawah 10 mikrogram sehingga bisa membahayakan bila terhirup oleh manusia.

Info terakhir, bayi berusia empat bulan, bernam Elsa Pitaloka meninggal dunia karena menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (15/9). Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga menjadi penyebabnya.

Berdasarkan catatan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), hingga Senin 16 September, karhutla telah menghanguskan total 328.724 ha dengan total 2.583 titik panas yang terpantau sejak Januari 2019.

Saya yakin, pemerintah tidak tinggal diam dengan adanya bencana ini. Meski juga tidak bisa memastikan, kapan bencana asap ini bakal berakhir. Upaya untuk memodifikasi cuaca untuk membuat hujan buatan, juga belum mengatasi masalah asap.

Menangkap pelaku karhutla yang sekitar 185 orang dan 4 korporasi itu juga bukan solusi yang diharapkan korban asap saat ini.

Seperti halnya bencana yang lain, kerja keras manusia untuk mengatasi dan memadamkan kebakaran hutan, hanyalah sebatas usaha.  Bahkan meski Presiden turun langsung dan memberi peringatan keras pada bawahannya, juga tak serta merta menghilangkan asap.

Rasanya harapan Heni, agar segera turun hujan sederas-derasnya, adalah solusi terbaik saat ini. Menjadi Harapan ribuan warga yang menginginkan udara bersih dan sehat.

Mungkin waktunya, bencana asap ini naik status sebagai bencana nasional. Berharap seluruh warga Indonesia turut prihatin dan mendoakan saudara kita yang mulai sesak, tercekik asap kebakaran hutan.

Semoga Allah Yang Maha Pengatur musim kemarau dan hujan segera menurunkan hujan deras di wilayah bencana asap itu. Hujan deras, turunlah...

“Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah maha pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu.” Aamiin. (*)

Editor :
Uploader : Buari
Penulis : Buari
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU