Sinergi Akademisi-Peternak Hadapi Tantangan Peternakan Sapi Perah

  • 17-09-2019 / 20:11 WIB
  • Kategori:Kampus
Sinergi Akademisi-Peternak Hadapi Tantangan Peternakan Sapi Perah Suasana ujian Sekolah Lapang Peternak Sapi Perah KAN Jabung di Fapet UB.

MALANG - Bersinergi untuk hadapi sejumlah tantangan yang dialami oleh para peternak sapi di kawasan Jabung Kabupaten Malang, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) mengadakan sekolah lapang bagi para peternak. Tujuan utamanya ialah untuk meningkatkan kompetensi para peternak, sehingga sejumlah persoalan yang selama ini menjadi kendala dapat dihadapi dengan menemukan sejumlah solusi.

"Sekolah lapang kita buka untuk para peternak. Kenapa kita fokus ke peternak sapi perah, karena merupakan komoditas yang cukup rumit. Peternakan sapi perah peka terhadap input dan manajamen, sedang pola peternak sapi kita umumnya masih lekat dengan pola tradisional," ungkap Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) ketika ditemui diruangannya.

Dijelaskannya, peternakan sapi perah mulanya merupakan komoditas industri yang sangat membutuhkan sistem manajerial yang mumpuni. Kurang perhatian pada salah satu aspek saja, akan berpengaruh langsung pada peoduktifitas susu yang dihasilkan oleh sapi ternak. Oleh karenanya, kunci utama dalam menghadapi kendala yang dialami para peternak sapi ialah peningkatan kompetensi.

"Kunci utamanya ialah jarak reproduksi sapi, makin pendek jaraknya maka produktifitas susu akan naik, dan jika jaraknya panjang maka produksi susu akan turun. Nah, permasalahannya disini, itu berdampak langsung pada pendapatan para peternak," lanjutnya.

Lebih lanjut, Ketua Pelaksana Sekolah Lapang bagi para peternak Prof. Dr. Woro Busono, M.S menyampaikan bahwa sekolah tersebut sudah diselenggarakan sejak Januari lalu. Sekolah lapang bagi para peternak sendiri selain berbentuk pemberian kompetensi, juga langsung memberikan pendampingan kepada mereka di lapangan.

"Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung bukan hanya membutuhkan pengetahuan peternakan tapi juga pertanian. Semua membutuhkan tenaga profesional. Untuk itu sekolah lapang harapannya tidak berhenti sampai sini. Ke depannya agar bisa melanjutkan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan," tandasnya.

Prof. Woro menyampaikan bahwa kesempatan semacam ini sangat menguntungkan kedua belah pihak. Para peternak akan mendapatkan tambahan kompetensi, sedang Fapet UB mendapat wadah untuk menerapkan Tri Dharma perguruan tinggi yakni khususnya pada poin pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Manager Umum KAN Jabung, Eva Marliati menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 2.100 peternak yang terlibat dalam sekolah lapang yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi tersebut. Namun demikian, pola sekolah lapang yang diberikan oleh Fapet UB dilakukan dengan sistem berlapis. Sehingga terdapat setidaknya 30 orang yang dipilih untuk sekolah langsung dengan para akademisi Fapet UB.

"Kita buat berlapis, jadi mereka nantinya dapat menularkan ilmi yang didapat dari Fapet UB pada kelompok yang akan dibagi masing-masing. Harapannya mereka akan bisa lulus pada setiap tahapan pada sekolah lapang kali ini," katanya.

Perlu diketahui, sekolah lapang bagi para peternak yang diselenggarakan oleh Fapet UB memiliki sejumlah tahapan. Mulai dari tahap dasar, tahap pencapaian target, tahap sistem bisnis, tahap keempat adalah sistem imdustri. Pada setiap tahapan, para peserta harus melalui ujian, yang terdiri dari presentasi dan juga tanya jawab kelompok.

Ujian tahap dasar sendiri baru saja digelar pada Senin (16/9) di Fapet UB. Harapannya para pendamping peternak yang menjadi peserta sekolah lapang dapat menyelesaikan empat tahapan tersebut. Sehingga ke depannya dapat secara maksimal membagikan ilmu mereka kepada ratusan peternak lainnya di KAN Jabung. (asa/Malangpostonline.com)

Editor : asa
Uploader : irawan
Penulis : asa
Fotografer : asa

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU