trial_mode: on
Nandaka Satrya Bimantara Perantau Akademik di Eropa

Lepas Kerja Bergaji Rp 50 Juta, Kerja Master di Kampus Real Madrid

  • 19-09-2019 / 23:35 WIB
  • Kategori:Malang
Lepas Kerja Bergaji Rp 50 Juta, Kerja Master di Kampus Real Madrid BOS BESAR: Nandaka Satrya Bimantara bersama Presiden Real Madrid CF Florentino PĂ©rez, ia mengambil gelar master di kampus raksasa sepak bola dunia itu.

Pemuda asal Malang ini menjadi salah satu di antara empat warga negara Indonesia yang berhasil merampungkan studi di luar negeri. Dia mengikuti program Magister Marketing Olahraga di Escuela Universitaria Real Madrid Universidad Europea, Madrid Spanyol. Namanya, Nandaka Satrya Bimantara. Dia baru saja meraih gelar magisternya di perguruan tinggi di bawah Real Madrid ini.

"Setelah lulus sarjana sempat bekerja di Trivago Düsselforf Jerman selama tiga setengah tahun. Kemudian saya mulai menimbang karakter karir seperti apa yang saya inginkan, dan terpikirlah sport, khususnya bola. Akhirnya saya mulai cari-cari informasi kampus mana yang menawarkan pendidikan master olahraga," terang pria lulusan SMAN 1 Malang ini.

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Bima ini telah menyelesaikan studinya pada bidang Bisnis Internasional di Fontys Hogescholen, Belanda pada tahun 2015. Setelah itu, Bima langsung bekerja di Trivago Jerman sebagai Display, Email and Affiliate Marketing selama beberapa waktu. Namun Bima merasa, pekerjaan yang sempat dijalaninya tak begitu sesuai dengan karakternya.

Padahal, ketika bekerja di tempat tersebut, Bima sudah memiliki pendapatan sekitar €3.400 atau tak kurang dari Rp 50 juta setiap  bulannya. Namun, Bima telah memutuskan untuk mengejar karirnya pada bidang yang berhubungan dengan olahraga. Kemudian mencari perguruan tinggi yang tepat untuk mengembangkan dirinya sesuai karakter yang ia miliki.

"Saya memutuskan mengumpulkan pendapatan saya untuk sekolah lanjut, dan ternyata saya menemukan kampus yang pas yaitu di Madrid. Selain menawarkan bidang yang spesifik dan belum banyak ada di kampus lain di dunia, sistem pembelajarannya juga menggunakan bahasa Inggris. Akhirnya saya mulai kuliah master pada 2018," ungkap pria kelahiran tahun 1992 ini.

Bima juga sempat menceritakan terkait pilihannya untuk merantau pada negara-negara yang berbeda. Sebutnya, sejak lulus SMA, ia selalu percaya sebuah nilai yang akan didapat dari merantau. Untuk itu, sejak lulus SMA pun ia sudah berani memutuskan menempuh pendidikan di Eropa meskipun tak sepenuhnya mendapat beasiswa.

"Kuliah di Belanda awalnya saja dapat subsidi dari Pemerintah sana, tapi selanjutnya biaya mandiri. Saya akhirnya bantu orang tua dengan kerja part time ketika itu. Setelah itu, dapat kerja dan bisa mandiri di negara yang berbeda, saya memang seorang yang percaya atas 'value' dari merantau," tegas pria berpostur 178 cm ini.

Lebih lanjut, selama menempuh pendidikan di kampus tersebut, Bima semakin mantap untuk meniti karir pada bidang pengembangan keolahragaan. Hingga pada pertengahan tahun ini, Bima berhasil lulus dari kampus tersebut melalui tugas akhirnya yang membahas terkait sponsorship program antara tim basket Real Madrid dengan aplikasi tracking terkemuka yakni Strava.

"Kebetulan 'final project' saya sama Real Madrid. Topiknya membahas sponsorship plan antara Real Madrid Basketball dengan Strava yang merupakab fitness tracking app yang lumayan leading. Jadi saya melakukan analisa objektivitas terkait bagaimana menentukan aktifitas apa saja yang bisa dikerjakan antara kedua belah pihak," jelas putra dari Inisiator Kampung Glintung Go Green (3G) Malang, Bambang Irianto ini.

Hingga akhirnya, nama Bima tercatat sebagai salah satu dari empat orang di Indonesia yang berhasil lulus dari kampus tersebut. Tak beberapa lama setelah lulus, Bima juga terlibat sebagai 'volunteer' di final liga champions pada Juni lalu antara  Liverpool vs Tottenham di Wanda Metropolitano Madrid. Setidaknya dia terlibat langsung pada dua tugas yakni pada bagian accreditation dan juga festival marketing.

Sementara itu, Bima kemudian menjelaskan tentang ilmu yang didapat ketika menempuh studinya terkait dengan beda antara studi marketing pada bidang keolahragaan dengan marketing secara umum.

"Untuk olahraga ada faktor khusus yg membedakan dengan bidang lain, yaitu faktor affinity dan emosi terhadap klub tertentu. Jadi sports marketing audience kita adalah fans olahraga yang perilakunya beda dengan customer biasa," jelas pria yang belum lama ini memutuskan untuk menetap di Jakarta ini.

Kemudian, meskipun telah menyelesaikan studinya di luar negeri dan bahkan sempat meniti karir di sana, Bima memutuskan untuk meniti karirnya di Indonesia. Alasannya, adalah untuk mengasah kapasitasnya dan ingin memberikan dampak yang lebih besar pada bidang yang ia geluti.

"Untuk industri olahraga, jika marketnya sudah advance, maka impactnya tidak akan besar. Maka dari itu saya memilih untuk kembali, karena banyak ruang untuk mengembangkan kapasitas saya," pungkasnya.

Sejauh ini, Bima menceritakan bagaimana dukungan dari keluarganya mampu mendorongnya untuk terus berusaha meraih apa yang ia cita-citakan. "Keluarga sih selama saya konsekuen dengan pilihan saya dan pasti mendukung. Saya beruntung sih dikasih kebebasan untuk menentukan arah karir saya sendiri," katanya.

Bima yang merupakan putra dari sosok aktivis lingkungan tersebut mengaku bersyukur karena keluarganya selalu mendukung segala hal yang ia pilih dalam meniti karir. Namun ia menyebut tak jarang juga terlibat dalam berbagai kegiatan besutan ayahnya di bidang pemberdayaan lingkungan di tengah masyarakat.

"Saya tidak ada bakat menggerakkan masyarakat seperti papa, jadi saya pilih jalan saya sendiri yang sesuai dengan bakat dan minat saya. Tapi beberapa kali saya sempat bantu papa ketika ada kunjungan tamu dari luar negeri," tutupnya.(asa/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : slatem
  • Penulis : asa
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI