trial_mode: on
Home > > Opini

Kritik: Rumit, Pelik, dan Penuh Tanggung Jawab

  • 19-09-2019 / 23:38 WIB
  • Kategori:Opini
Kritik: Rumit, Pelik, dan Penuh Tanggung Jawab

Cover Majalah Mingguan Berita (MMB) Tempo edisi 16-22 Septermber 2019 berjudul “Janji Tinggal Janji” berbuntut panjang. Cover yang menggambarkan bayangan Pinokio dituduh “menghina” Kepala Negara. Tempo berasalan bahwa presiden ingkar janji dalam penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), padahal selama mengatakan  mendukung pemberantasan korupsi.

Akibat cover itu, mereka yang tergabung dalam Relawan Jokowi Mania melaporkan majalah Tempo ke Dewan Pers. Ketua relawan Joman Immanuel Ebeneser menuduh Tempo telah mengidentikan presiden sebagai tokoh kartun Pinokia yang suka berbohong.

Tempo memberikan penjelasan bahwa apa yang dilakukannya lengkap dengan data, bahkan disertai pula wawancara dengan presiden. Tempo tidak menggambarkan presiden sebagai Pinokio. Yang tergambar adalah bayangan Pinokio.

Kritik dan Demokrasi

Cover  dengan bayangan Pinokio di belakang gambar yang mirip presiden Jokowi tentu bukan serta merta muncul. Ia menjadi rangkaian liputan atas dinamika politik kenegaraan. Sebelumnya, gencar kritikan masyarakat atas keinginan DPR yang akan merevisi UU KPK. Revisi ini kemudian “disetujui” presiden. Jadilah presiden yang sebelumnya gencar akan ikut memberantas korupsi, dengan persetujuan tersebut ikut andil dalam memperlemah KPK.

Dalam posisi ini muncul dua kubu. Kubu pertama jelas pembela kebijakan presiden. Dengan cara apapun dilakukan. Seolah kritik menurunkan wibawa presiden. Kubu kedua adalah mereka yang selama ini memang berseberangan dengan presiden. Umumnya,  buntut perseteruan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Meskipun jika kita amati lebih jauh yang awalnya mendukung Jokowi pun ikut mengkritik pelemahan KPK yang dilakukan DPR dan presiden. Dalam posisi ini ada pendukung Jokowi yang rasional dengan melihat sisi positif dan negatif. Sementara itu pendukung fanatik mengungkapkan bahwa apa yang terjadi pada presiden harus dibela.   Di sinilah kelihatan mana pendukung fanatik dan menutup mata, manapendukung yang rasional dengan melihat dari berbagai sudut pandang.

Selamanya, yang namanya kritik itu memang tidak enak. Siapapun dengan jabatan apapun, jika dikritik cenderung tidak menerima. Meskipun digembar-gemborkan bahwa seseorang itu terbukapada kritik, misalnya, dalam prakteknya tetap tidak suka.

Secara normatif, kritik memang dianjurkan. Masalahnya, dalam praktiknya masing-masing mempunyai tolok ukur sendiri-sendiri. Kritik sebenarnya esensi dari demokrasi. Bahwa dalam demokrasi kritik itu menjadi sumber mata air keteladanan untuk mereka para pendukung demokrasi itu sendiri. Tanpa ini, demokrasi akan mengalami kelumpuhan. Demokrasi akan jalan ditempat dan hanya bermanfaat bagi mereka yang melaksanakan demokrasi meski tidak banyak menyentuh kebutuhan objek demokrasi, yakni rakyatnya.

Kritik Tempo pada predisen Jokowi setidaknya harus ditempatkan sebagai sebuah kritik agar semua berjalan lebih baik. Tak pada tempatnya jika kritik itu terus dipahami sebagai sebuah ketidaksukaan,rongrongan atau bahkan kebencian. Kritik diungkapkan secara tanda cinta untuk kemajuan di masa datang.

Namanya juga kritik, tak selamanya memberikan rasa nyaman tetapi akan bermanfaat di  masa datang. Kebanyakan obat itu pahit tetapi menyehatkan. Banyak orang tidak mau minum obat sebelum sakit datang. Tidak hanya yang berusaha bagaimana agar nanti tidak terpaksa minum obat. Maka dibutuhkan usaha preventif. Kritik itu adalah perilaku dimana seseorang sudah mengalami sakit. Jalan satu-satunya dengan memberikan masukan, salah satunya kritik itu.

Beberapa orang menyayangkan mengapa kritik Tempo pada presiden disertai dengan gambar Pinokio? Tempo dianggap menghina kepala negara. Pikiran ini hanya

“hidup” pada mereka yang sudah “dimabuk” kemapanan atau kemenangan. Orang yang merasa mabuk sering tidak sadar atas apa yang sebenarnya dilakukan.  Kadang, kritik  akan dianggap negatif.

Ada yang mengatakan kritik itu perlu etika. Masalahnya, kritik sudah mengalami jalan buntu untuk disampaikan, orang akan cederung melancarkan kritik dengan cara masing-masing. Apakah demonstrasi itu melanggar etika? Demonstrasi itu salah satu pilihan.

 Lembaga pers pilihan kritiknya bisa melalui tulisan dan gambarnya. Jika orang berpikiran maju ke depan maka kritik tetaplah kritik dan ia mempunyai dunianya sendiri. Kemanfaataannya akan dirasakan di masa datang. Hanya orang-orang yang anti kritik sajalah memahami kritik sebagai sebuah rongrongan. Jika kritik sudah dilandasi dengan ikatan emosional yang terjadi adalah kegelisahan atas kritik.

 

Rongrongan

Pemimpin itu panutan. Dalam alam demokrasi, ia dipilih dengan alasan-alasan tertentu dan ditetapkan dengan dukungan mayoritas. Karenanya, ia dikenal luas masyarakat. Karena dikenal luas, maka dalam setiap sikap dan perilakunya, sekecil apapun, akan menjadi sorotan masyarakat. Setiap perilakunya akan menjadi sorotan masyarakat. Jika ia dianggap melakukan kesalahan, tak akan lepas dari kritik.

Hukum tak tertulis mengatakan bahwa  menjadi seorang pemimpin itu akan siap dengan segala konsekuensinya.  Kaitannya dengan perbedaan pendapat, maka ia tidak akan lepas dari keputusan yang belum tentu memuaskan semua pihak.

Dengan kata lain, jika tidak siap dikritik tak usah menjadi pemimpin. Karena hukum tak tertulis mengatakan pemimpin itu secara fitrah akan dikenai kritik. Sekalilagi, jangan mau menjadi pemimpin tanpa siap dikritik. Keputusan pemimpin tentu tidak akan memuaskan semua pihak.

Kaitannya dengan kritik,maka ia sangat tergantung pada kenyataan di masyarakat. Jika masyarakat dewasa tentu akan melancarkan secara dewasa. Jika dalam masyarakat yang maunya menang sendiri dalam melancarkan kritik pun seenaknya saja. Jika dalam perkembangannya media massa sedang dijadikan rujukan utama dalam proses komunikasi di masyarakat, maka media massa akan dijadikan sarana untuk melakukan kritik.

Maka, kritik yang disampaikan majalah Tempo terkait karikatur Pinokio presiden Jokowi kita harus dipahami sebagai sebuah masukan, bukan rongrongan. Kritik selamanya tidak mengenakkan seseorang yang dikritik. Justru kedewasaan akan ditunjukkan pada saat menanggapi reaksi kritik.

Saatnya kita berbicara soal subtansi isi bukan soal cara menyampaikan kritikan, meskipun itu penting. Cara menyamaikan kritik itu sebuah cara tetapi isi tentu lebih penting karena lebih bermanfaat di masa datang. (*/Malangpostonline.com)

  • Editor : oci
  • Uploader : slatem
  • Penulis : ist
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI