UPDATE NOW
UPDATE NOW

Jiwa Progresif Menentukan Orde Keemasan

  • 08-10-2019 / 19:15 WIB
  • Kategori:Opini
Jiwa Progresif Menentukan Orde Keemasan

Rayulah aku, dan aku mungkin tak mempercayaimu. Kritiklah aku, dan mungkin aku tak menyukaimu. Acuhkan aku, dan aku mungkin tak memaafkanmu. Semangatilah aku, dan aku mungkin takkan melupakanmu (William Arthur)

Kata mutiara dari William Arthur itu diantaranya tentang permintaan “semangatilah aku, dan aku mungkin takkan melupakanmu” yang sebenarnya sebagai ajakan atau spirit bahwa dalam hidup ini tidak boleh ada kata putus asa, menyerah, apalagi merasa kalah.

Hidup ini harus ada semangat untuk terus menyalakan jiwa progresif di seluruh bidang kehidupan. Jiwa yang terus menyala adalah kunci yang menentukan kemajuan, termasuk dalam menggapai terwujudnya orde keemasan (golden era) di republik ini, sehingga logis jika semua elemen bangsa dituntut memacu jiwa progresif.

Kalau dilihat dari sisi realitas manusia Indonesia yang menyandang prediket sebagai manusia-manusia beragama, khususnya umat Islam, yang bergelar masyarakat muslim terbesar di muka bumi, maka tanpa semboyan yang digaungkan Presiden siapapun, masyarakat negeri ini wajib menunjukkan dirinya kalau hidup di dunia ini harus optimis. Mampu menciptakan banyak perubahan atau pembaruan.

Di bidang pendidikan misalnya jika sampai gagal menunjukkan kemauan dan kemampuannya dalam melaksanakan pemberdayaan edukasi masyarakat, tentulah Indonesia pun tidak akan distigmakan sebagai negara yang sukses memprestasikan dan memartabatkan rakyatnya yang sejajar  dengan bangsa-bangsa hebat di muka bumi.

Dalam suatu hadis digariskan: ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi di tiap-tiap (seorang mukmin) itu ada kebaikan, optimistislah kepada apa-apa yang memberi manfaat.’’ (HR Bukhari)

Doktrin agama tersebut sebenarnya mengingatkan kita, bahwa dalam kondisi apapun, termasuk saat diuji oleh  perbedaan kepentingan  politik dan kesulitan pendanaan di beberapa sektor misalnya, kita wajib tetap optimis, tidak boleh menyerah dan putus asa.  

Kita wajib terus menggalakkan jiwa progresif, khususnya pada kalangan peserta didik supaya mereka tidak tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang lemah atau bermental penakut. Mereka harus dibuat jiwanya berkobar dalam progresivitas dengan doktrin ”Kita wajib maju, berkembang, dan menang”.

Mencerahkan mentalitas optimisme dan progresivitas masyarakat yang sedang limbung, akibat belum adanya kebijakan pemerintah dalam menurunkan beberapa kebutuhan pokok seperti listrik dan bahan pangan adalah tetap  urgen sekali. Supaya mereka tidak terjebak dalam opsi yang salah dan  menyesatkan ke jalan pelanggaran norma yuridis dan etis.

Optimisme harus tetap berkobar di hati masyarakat untuk menunjukkan pada masyarakat dunia, bahwa masyarakat Indonesia terus progresif dan tidak pernah kenal mati. Masyarakat demikian tentulah dengan  modal optimismenya bisa menunjukkan kreasi dan inovasinya, yang bukan hanya bermanfaat bagi kepentingan diri dan lokal kedaerahan, tetapi juga kepentingan nasional dan global.

Masyarakat memang harus menunjukkan kekuatan optimismenya, pasalnya dari kekuatan ini, akan banyak bisa diharapkan terjadinya peruibahan dan pembaharuan besar. Suatu masyarakat akan menjalani kehidupannya secara stagnan, bilamana elemen sosialnya gagal mengelaborsikan potensi yang dimilikinya.  Berbagai jenis sumberdaya alam masih menjadi kekayaan privilitas masyarakat misalnya, yang jika elemen bangsa ini tidak kehilangan optimismenya untuk mengelola dengan baik dan benar, dipastikan bisa menaikkan indek prestasi masyarakat.

Menurut Ilham Maulana  (2007) ada enam hal yang dapat membangkitkan optimisme dalam kehidupan kita. pertama, temukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu. Kedua, tata kembali target yang hendak kita capai. Ketiga, pecah target besar menjadi target-terget kecil yang segera dapat dilihat keberhasilannya. Keempat, bertawakal kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Kelima, ubah pandangan diri kita terhadap kegagalan. Keenam, yakin bahwa Allah SWT akan menolong dan memberi jalan keluar.

Pendapat tersebut menunjukkan suatu relasi  antara keberhasilan dalam menjalani (pergulatan) kehidupan dengan prinsip optimisme. Pengalaman kesejarahan wajib dijadikannya sebagai sumber acuan moral,  khususnya yang positip guna mendukung langkah-langkah pembaharuan, pasalnya dari pengalaman inilah, seseorang atau komunitas bisa belajar dari kekurangan atau kesalahan yang pernah diperbuatnya.

Yang seharusnya lebih banyak belajar dari pengalaman itu adalah elemen elit kekuasaan. Yang nota bene sebagai kumpulan manusia-manusia berpendidikan tinggi,  supaya tidak sekadar berucap (mengampanyekan atau menyosialisasikan) pada masyarakat tentang efisiensi atau penghematan di berbagai lini kehidupan. Tetapi mereka sendiri juga harus memberikan keteladanan penyelenggaraan kekuasaan dan pengelolaan jagad pendidikan yang berbasiskan kepentingan masyarakat.

Janganlah masyarakat yang hanya terus menerus diimbau dan diminta hemat enerji dan mengurangi banyak pengeluaran biaya hidup. Padahal tanpa diminta pun, masyarakat, terutama yang berasal dari golongan akar rumput, sudah berada di titik nadir efisiensi, sehingga tidak bisa lagi berhemat. Pasalnya apa yang dimiliki sudah terkuras  habis atau sudah membuatnya menjadi subyek bangsa dalam ketidakberdayaan. 

Sementara itu, elit kekuasaan (negara) harus menunjukkan lebih mampu lagi dibandingkan dengan masayarakat pada umumnya. Pasalnya mereka ini memegang kunci strategis yang menentukan aspek-aspek strategis kehidupan masyarakat seperti pangan, kesehatan, pendidikan, budaya, olahraga, politik., agama, dan sebagainya. Yang kesemuanya ini, mulai dari sumber pembiayaan hingga pelaksanaan dan pengawasannya terletak di tangannya. 

Kalau elemen-elemen strategis di atas mampu menunjukkan perannya dengan benar, obyektif, dan berusaha maksimal menunjukkan komitmennya terhadap kemaslahatan umat secara empirik, kondisi sesulit apapun yang dialami masyarakat, tidaklah akan membuat masyarakat patah arang. Dan sebaliknya melecut masyarakat untuk menunjukkan progresivitas optimismenya.

Masyakarat akan bisa saja terjangkit penyakit patah semangat, loyo berkelanjutan, atau ”mati” optimismenya jika para elitis memberikan atau mendemonstrasikan contoh-contoh perilaku atau kebijakan yang paradoksal dengan kondisi rakyat. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU