Milo Out Atau...

  • 10-12-2019 / 00:29 WIB
  • Kategori:Catatan
Milo Out Atau...

5-1. Hasil akhir, PSIS vs Arema FC.

Saya pikir, mau nulis apa lagi tentang Arema FC ini? Sudah lima laga beruntun tanpa kemenangan.

Mau evaluasi seperti apa? Dikatakan jago kandang, dua laga home terakhir berakhir imbang. Sebelumnya juga sudah, bahkan pernah kalah.

Apalagi laga away, banyak kalahnya. Tercatat hanya sekali menang di kandang Semen Padang.

Tiga laga away terakhir juga tanpa poin.Dihajar Persib 3-1, kalah 1-0 dari Bhayangkara dan terakhir dibantai PSIS 5-1. Mau bagaimana lagi?

Target runner up, makin jauh. Hanya keajaiban bisa membuat Arema finis di posisi 2 klasemen akhir Liga 1 musim 2019 ini. Dan selalu ada alasan untuk itu.

Selalu ada alasan coach Milomir Seslija untuk setiap hasil laga Singo Edan.

Dari hasil imbang 1-1 lawan Persija itu ingin rasanya menulis. Saya tunda, berharap Arema menang di laga away lawan Bhayangkara FC. Ternyata kalah 1-0.

Saya lihat, banyak yang kecewa. Termasuk saya, melihat Arema yang menguasai permainan, dengan prosentase 62 persen, tak bisa menang atau minimal menahan imbang.

Satu gol kemenangan Bhayangkara FC dicetak Adam Malis dari sebuah serangan balik. Anehnya, Milo sebelum laga sudah menyampaikan bahwa keunggulan tim Bhayangkara FC ini adalah serangan baliknya. Tapi kenapa tak bisa diantisipasi ya?

Belum juga saya menulis. Lanjut home lawan Kalteng Putra, juga tak bisa menang. Saya sengaja datang langsung untuk melihat permainan Arema dengan kondisi yang ada. Tak bisa full team (lagi).

Menit 9, Kalteng Putra sudah unggul lebih dulu.

Arema pun unggul jumlah pemain sejak menit 65, namun juga tak cukup mengalahkan Kalteng Putra. Peluang naik ke posisi tiga besar pun terbuang.

Saya ikut jumpa pers usai pertandingan, mendengar langsung alasan Coach Milo.

“Ini laga penting, kita salah strategi. Mereka bertahan, dan kita tidak ada kreativitas. Ada kendala di passing akhir (finishing touch), itu bisa terjadi dan kita kecewa dengan hasil ini,” demikian ungkap Milo yang mengaku sudah coba semua opsi.

Kurang lebih begitu terjemahan dari komentar Milo yang disampaikannya dalam bahasa inggris. Alasan tidak ada kreativitas itu sama seperti saat Arema ditahan Persija imbang 1-1.

Jadi bertanya, bagaimana sebenarnya perbaikan atau persiapan tim ini?

Saya mencatat dengan tinta biru dibalik kertas Daftar Susunan Pemain, tim Arema sering melakukan kesalahan yang elementer, seperti salah passing. Bola dengan mudah dikuasai lawan karena kesalahan sendiri.

Paling terasa adalah organisasi lini depan. Tak ada greget untuk menang lawan Kalteng Putra. Hingga Aremania pun menyanyikan lagu, maine kurang sangar di akhir babak kedua. Skor akhir 1-1.

Hingga akhirnya kita semua disuguhi hasil 5-1 di Megelang, Minggu (8/12).

“Kompetisi sudah usai. Ngepasno argo thok Arema,” komentar Dirut Malang Post, Juniarno D. Purwanto melihat hasil Arema itu.

Maksudnya, dengan posisi Arema yang sudah aman dari degradasi, seolah kini hanya gugur kewajiban saja. Menyelesaikan sisa pertandingan Liga 1. Alias gak niat.

Rasanya Aremania yang melihat laga tersebut, sepakat dengan itu.

Meski kondisi Arema di beberapa laga terakhir ini memang lagi pincang. Sederet pemain harus absen, dengan berbagai alasan.

Seperti Rafli gabung Timnas, Arthur akumulasi kartu kuning, Dedik, Jayus dan Hamka cedera. Beberapa pemain pun dicoba menempati posisi yang bukan aslinya.

Prediksi memang menyebutkan Arema bakal kalah dari PSIS, namun tak sebanyak itu. Bahkan saya sebenarnya masih menyimpan harapan, Singo Edan bisa menang. Namun harapan tinggal harapan.

Saya berusaha memahami tim ini. Meski kecewa, tak ingin emosi. Coba memahami kerja keras manajemen menjaga tim ini tetap eksis. Namun juga memahami Aremania yang harus bayar setiap masuk stadion.

Tanpa bermaksud menyudutkan siapapun, dan hanya berharap ada perbaikan di tim Arema. Baik dalam menyelesaikan sisa tiga laga musim ini, maupun untuk musim depan. Bolehlah saya menyimpulkan, Coach Milo tidak cocok melatih Arema.

Seruan Milo out dari Aremania, mungkin ada benarnya. Jika ada yang membantah, taktik dan strategi Milo dipengaruhi kondisi pemain yang ada.

Maka, pertanyaannya, siapa yang memilih pemain-pemain itu? Bukankah daftar pemain Arema, bukan hanya itu-itu saja?

Apakah latihan di tim Arema, ada semacam perbedaan antara pemain inti dengan pemain cadangan? Tak bisakah pelatih memoles pemain muda minim pengalaman menjadi pemain yang bisa diandalkan?

Lalu bagaimana fungsi head coach sebagai penanggung jawab hasil akhir tim ini? Bukankah kualitas bermain di pertandingan itu adalah hasil latihan? Apa bedanya jika Arema tanpa Milo?

Hasil lima laga terakhir Arema ini membuat saya yakin, Milo memang tak cukup berkualitas untuk membuat tim Arema berkelas. Jika tak ingin menyebut Milo sebagai pelatih gagal.

Mungkin saja penilaian saya ini bisa salah. Tapi dengan saat ini posisi Arema sudah disalip Persebaya, pasca kalah telak dari PSIS, rasanya tak ingin tinggal diam. 

Arema melorot ke peringkat 9 (posisi yang sebelumnya ditempat Persebaya). Sedangkan Persebaya kini naik ke peringkat 5 klasemen sementara. Bertepatan jelang kedua tim bakal bertemu, 12 Desember nanti.

Beruntungnya Arema, Persebaya sebagai tuan rumah sedang menjalani hukuman. Tim Bajol Ijo mendapat sanksi, harus menggelar laga home di luar Surabaya dan tanpa penonton.

Kondisinya bakal lebih susah jika bermain di Gelora Bung Tomo, dengan dihadiri ribuan Bonekmania.

Masih ingat spanduk Aremania di Stadion Kanjuruhan pada putaran pertama lalu, bakal mendapat balasan. “Kami Masih Diatas Kalian”.

Ya, pada pertemuan kedua ini, Persebaya di atas Arema. Sebagai dampak hasil buruk lima laga terakhir. Milo yang mengaku sudah mencoba semua opsi dan ternyata gagal, harus bertanggung jawab.

Pilihannya adalah Milo out, atau bawa Arema menang lawan Persebaya. Bagaimana Aremania?

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : Buari
Fotografer : Buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU