(Sengaja) Bikin Malu!

  • 17-12-2019 / 06:11 WIB
  • Kategori:Catatan
(Sengaja) Bikin Malu!

Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Kira-kira begitu, pepatah yang pas. Melihat aksi Aremania di tribun timur Stadion Kanjuruhan saat laga Arema FC vs Bali United,  Senin (16/12).

Flare dilempar ke tengah lapangan dan nyaris mengenai pemain Bali United. Laga dihentikan, semua menyaksikan kejadian itu.

Bukan hanya 4.318 Aremania yang di dalam stadion saja melihat flare itu. Semua bisa melihat tayangan langsungnya lewat televisi. Bahkan bisa menyaksikan itu berulang-ulang di youtube.

Tak kurang-kurang, saluran medsos lainnya juga sudah memviralkan foto aksi tersebut. Tidak hanya sekali pelemparan, saat laga dihentikan, ada flare lainnya juga dilempar. Termasuk yang dinyalakan di tribun penonton.

Sekitar menit 85, kedudukan skor 3-2 untuk kemenangan Arema atas Bali United. Kondisi tuan rumah menang, ada aksi melanggar peraturan tersebut. Untuk apa?

Beberapa flare yang menyala itu bukan untuk merayakan kemenangan Arema. Juga bukan untuk pesta tim Bali United yang sudah mengunci gelar juara Liga 1 musim 2019.

Pastinya laga home terakhir Arema ini bikin heboh. Kemenangan Arema seolah tak ada artinya lagi. Pemain dan official tim pun tak berminat untuk merayakan kemenangan itu usai pertandingan.

Izinkan saya mengatakan, aksi tersebut hanya bikin malu. Ya, setidaknya dari kacamata sportivitas, tindakan tersebut tak bisa ditolerir.

Tak bisa dibayangkan, jika aksi lempar flare itu mengenai pemain Bali United. Lebih panjang lagi urusannya.

Kini sanksi denda sudah menanti. Bakal lebih besar lagi dendanya. Lantaran itu bukan kali pertama, dan parahnya di lempar ke tengah lapangan. Nyaris mencederai pemain.

Apakah ini ulah oknum Aremania? Rasanya bukan. Itu benar-benar dilakukan oleh Aremania. Meski entah Aremania yang mana. Entah korwil atau komunitas. Tak jelas.

Begitulah Aremania. No leader. Tanpa struktur. Bergerak sendiri, melakukan aksi. Ya kalau baik, tidak masalah. Kalau berbau anarkis, siapa yang bertanggung jawab? Arema yang mendapat denda ratusan juta, apa ada Aremania yang mau membayarnya?

Aremania itu ada, tapi tak ada organisasinya. Sudah pernah saya bahas sebelumnya. Misal ada sanksi untuk Aremania, maka semua Aremania bakal mendapatnya. Bukan segelintir orang yang melempar flare itu.

Terlepas Panpel Arema kecolongan dengan masuknya flare yang sudah lama dilarang itu, ada Aremania yang memang ‘ingin’ bikin malu.

Bukan bikin malu tim tamu, tapi bikin malu tim Arema sendiri. Sengaja. Saya yakin itu memang disengaja, alias sudah disiapkan sebelumnya.

Setidaknya dari pasca kejadian itu, ada komentar di medsos yang mendukung para pelaku pelemparan flare. Mungkin itu juga bentuk akumulasi kecewa atas prestasi tim Arema.

Khususnya setelah enam laga sebelumnya tanpa kemenangan dan sebelum laga home ini Arema dikalahkan Persebaya 4-1. Meski yang saya amati, aksi ini sebenarnya terkait dengan dualisme Arema.

“Semua tidak sadar, Aremamu ada dua, daripada membully atau mengkritik anak yang melempar flare itu, lebih baik bully atau kritik manajemen agar segera menjadi satu,” demikian sebuah postingan di grup facebook dengan foto si pelempar flare.

Begitulah aksi tersebut. Menyalurkan kritik dengan cara yang tidak benar. Sementara saluran resmi yang digelar Panpel Arema beberapa waktu lalu, ‘tak ada’ Aremania yang datang.

Meski sudah menghadirkan manajemen, seluruh pemain dan pelatih, undangan terbuka untuk Aremania, minim respon. Saya menyaksikan sendiri. Itu bukan kali pertama. Sebelumnya juga pernah. Hanya dihadiri segelintir Aremania yang itu-itu saja.  

Akhirnya, menyampaikan ‘pesan’ dari aksi melempar flare.  Sebuah aksi yang tidak dibenarkan, apa pun alasannya.

Terus terang saya tak menduga aksi ini. Meski sehari sebelum pertandingan tersebut, saya sempat membaca adanya ‘warning’. Bahkan ada dua orang yang memberi peringatan.

Pertama, Sam Joko AremaUtab dalam sebuah komennya sudah mengingatkan bakal ada ‘sesuatu’ di laga Arema vs Bali United.  Dia minta Aremania agar tidak sampai terprovokasi dan minta agar tidak ada gesekan antar Aremania.

Kedua, saya baca di postingan Andik Arema Tok, juga sehari sebelum pertandingan. Pada poin ketiganya, dia juga telah mengingatkan Aremania. “Paling penting lagi, kalau kita besok datang hanya untuk membuat tim kebanggaan kita merugi, bagi ayas pribadi, itu bukan solusi,”

Ternyata, Arema akhirnya benar-benar merugi. Meski saya yakin, misal dendanya itu kisaran Rp 200 juta, manajemen Arema bisa mengusahakan untuk membayarnya.

Namun lebih dari itu, sebenarnya bukan hanya soal urusan materi. Melainkan rasa malu itu sendiri. Lantaran mau tidak mau, aksi itu telah mencoreng muka Arema dan Aremania sendiri.

“Apa bedanya dengan Bonek,” begitu sebuah komentar di medsos. Aremania yang menghujat aksi suporter Persebaya saat turun ke lapangan beberapa waktu lalu, kini balas melakukan tindakan tak sportif saat pertandingan masih berjalan.

Ya, haruskah menyampaikan kritik pada manajemen Arema dengan cara seperti itu? Bukan aksi boikot seperti yang informasinya sempat beredar. Saya menduganya ada aksi boikot atau semacam demo.

Justru Aremania masuk ke dalam stadion dan melempar flare. Lalu apakah Arema kini bakal bersatu kembali? Seperti yang mereka inginkan. Atau setidaknya bakal ada tanda-tanda untuk kembali satu.

Nol. Tidak ada sama sekali. Aksi itu gagal, dan hanya berhasil bikin malu sendiri.

Menurut saya bukan begitu caranya. Bukan dengan cara ‘bunuh diri’ untuk menyelesaikan rasa frustasi. Meski saya juga paham, bagaimana rasanya ‘menahan malu’ adanya dualisme Arema yang sudah bertahun-tahun ini.

Jujur, kami adalah juga korban adanya dualisme Arema. Tak mungkin saya ceritakan detil lewat catatan ini. Pastinya, tak ada yang menginginkan Arema menjadi dua.

Saya masih konsisten mengawal dualisme ini. Mulai catatan saya berjudul ‘Badai Pasti Berlalu’ tahun 2011, awal perpecahan. Hingga catatan edisi ulang tahun Arema, 11 Agustus 2019 lalu, juga membahas soal dualisme.

Tidak mudah dan cenderung tidak mungkin bersatu lagi, namun harapan masih ada. Setidaknya menurut saya pribadi. Dan kami, bersama sekelompok Aremania yang masih mau berpikir cerdas, tengah berusaha mewujudkan harapan itu. Tanpa harus menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. (*/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : Buari
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU