Pendidikan Konservatif Versus Responsif

  • 15-01-2020 / 20:11 WIB
  • Kategori:Opini
Pendidikan Konservatif Versus Responsif

Oleh: Dr Murphin Joshua Sembiring MSi*

 

Prof. Yudian Wahyudi Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta termasuk kelompok ilmuwan yang konservatif tapi tampaknya gagal paham fenomena disrupsi teknologi yang sedang berkembang dan pemunculan pasar kerja pada era smart society. Yang diperlukan pada masa depan adalah kompetensi, bukan ijazah-isasi.

Dalam wawancara seleksi pekerjaan lebih dominan ditanya apa kompetensi keahlianmu. Beliau lupa Universitas juga sudah lama diwajibkan agar mahasiswa selain punya transkrip nilai tapi juga ada yang namanya surat keterangan pendamping ijazah (SKPI) yang isinya apa kompetensi lulusan baik sesuai prodi maupun tidak.

Berapa banyak penduduk Indonesia yang karena ijazahnya yang  tidak menggambarkan kompetensinya mampu bertahan hidup dan bekerja di era disrupsi teknologi? Mereka akan tergerus, berapa banyak org punya ijazah S1 keluar dari perusahaan lalu jadi sopir grab dam seterusnya.

Apakah 250 juta penduduk Indonesia harus semua bergelar Diploma, S1, S2 atau S3?

Sementara itu hampir sebagian besar pekerjaan akan diambil alih oleh otomatisasi dan sistem aplikasi digital, artificial intelegen, big data, blockchain tecnology. Banyak pekerjaan akan hilang, berapa banyak orang bergelar yang akan dipakai di Industri?

Di Negara maju seperti Amerika dan lainnya sudah diprediksi bahwa Perguruan Tinggi yang konservatif bertahan seperti cara berpikir Prof Yudian, akan ditinggalkan oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang tidak mampu memberikan jaminan masa depan mereka.  Karena tiap wisuda sama dengan menambah deretan pengangguran intelektual baru. Di sini masalahnya diperlukan perubahan radikal pendidikan dan di Indonesia, pemimpin Kemendikbud para rektor harus berpikir realistis, adaptip dan visioner.

Apakah kita harus secara  runut mempelajari ilmu yang telah ditemukan waktu lalu (berorientasi masa lalu), atau menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menemukan jalan hidupnya untuk masa depan yang sulit diprediksi?

Prof. Habibi dalam Seminar Nasional  pada saat Dies Natalis UGM tahun 1994, sebagai menristek pernah memberikan pernyataan tentang Industri Pesawat Terbang Nasional kita waktu itu bahwa kita harus menguasai teknologi industri pesawat dari temuan yang terakhir baru bukan teknologi sebelumnya yang artinya kita mundur.

Itu sebabnya sudah saatnya pendidikan harus diredevinisi, seperti   bukunya Neil Postman, The End of Education, sudah dipublish tahun 1996.  Apakah yang harus dipelajari waktu mendatang, kompetensi apa yang diperlukan oleh generasi muda masa depan? Pendidikan hanya menawarkan pengetahuan basi yang sudah tidak relevan dengan jamannya.

Sering orang belajar ilmu hukum pola pikirnya sangat linier dan kaku,  jadi sulit berpikir komprehensif lintas disiplin ilmu, agak beda dengan para ekonom yang bisa berpikir komprehensif dalam konteks pasar kerja global yang cepat berubah bahkan bergejolak.

Pertentangan seperti ini perna terjadi waktu Prof Wardiman (Kemendikbud lalu) menawarkan pendidikan di Indonesia harus relevan dengan kebutuhan industri (link and match). Bahkan beliaulah yg menghapus IKIP jadi Universitas umum dan didemo para Rektor IKIP se Indonesia (beliau cerita saat berkunjung ke kampus saya, Univeritas Ma Chung Malang).

Banyak Ahli dan ilmuwan Indonesia juga tidak setuju dan menuding bahwa Wardiman mau menjadikan orang Indonesia sebagai robot untuk kepentingan Industri? Tapi itulah kebutuhan pasar kerja pada saat itu yg kita perbincang terus.

Belakangan banyak ahli mulai paham mengapa pendidikan harus selalu diselaraskan dengan pasar kerja dan diatur dalam Piramida struktur keahlian secara berjenjang. Pada proporsi tenaga ahli kebutuhannya akan sangat kecil hanya 1,5% dari angkatan kerja ,  oleh sebab itu tidak bisa kita menggeneralisasikan untuk suatu konteks yang kompleks dan sulit diprediksi pada masa yang akan datang.

Oleh karena itu Perubahan orientasi pendidikan di Indonesia harus dilakukan secara radikal tidak boleh setengah hati dan mari kita dukung lewat pemikiran, konsep dan kerja kerja nyata kita masing-masing. Salam Forum Pendidikan Jawa Timur (FPJ). (*)

 

*Inisiator FPJ/Rektor Univeritas Ma Chung

(Opini ditulis untuk merespon kritik Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. KH. Yudian Wahyudi Asmin Ph.D kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU